Setelah beberapa menit berjalan menyusuri taman, Aginos melangkah lebih dulu menuju mobil. Hazel masih sempat menoleh ke belakang, seolah enggan meninggalkan suasana malam yang baru saja ia kenal. “Masih ingin melihat lebih banyak?” tanya Aginos tanpa menoleh. Hazel ragu sebentar, lalu mengangguk kecil. “Iya… kalau Tuan tidak keberatan.” Jawaban itu membuat Aginos sedikit terdiam, lalu membuka pintu mobil untuknya. “Baik. Satu tempat lagi.” Mobil melaju pelan melewati jalan utama kota, lalu berhenti di sebuah kawasan yang tampak kontras dari dunia mereka: sederhana, ramai, dengan aroma makanan memenuhi udara malam. Hazel menatap takjub — deretan lampu kecil di kios-kios, suara orang tertawa, tawa anak-anak yang berlari membawa balon, semua terasa seperti mimpi baginya. “Kita di sini

