Fajar baru saja menyentuh puncak langit. Hujan semalam meninggalkan udara dingin dan basah yang mengendap di sepanjang dinding batu mansion Falcone. Namun, Aginos sudah berdiri di halaman depan. Matanya tajam, tubuhnya tegang, napasnya berat — seperti binatang buas yang mencium darah di sarangnya sendiri. Di depannya, tiga orang kepala keamanan berdiri berbaris. Semua menunduk, tak berani menatap langsung ke wajah pria itu. “Jelaskan padaku,” suara Aginos rendah, tapi dingin. “Bagaimana seseorang bisa menembus empat lapis sistem keamanan, melewati dua kamera termal, dan berdiri di depan kamar milikku—tanpa satu pun dari kalian tahu?” Tak ada jawaban. Suara burung di kejauhan bahkan seolah menghilang. Salah satu penjaga mencoba bicara, “Tuan… sistem malam tadi menunjukkan gangguan, k

