“Jauh. Dia jauh, dan dia tidak peduli. Gerald...” Sandra menarik wajah lelaki itu ke arahnya, mengunci bibir mereka dalam ciuman penuh hasrat, menghapus sisa-sisa keraguan yang masih tersisa di hati Gerald.
Gerald menyerah pada badai yang tak bisa ia lawan. Dengan hati yang berperang antara moral dan cinta, ia mengangkat tubuh Sandra ke atas tempat tidur. Satu per satu pakaian yang membatasi mereka dilepaskan, membiarkan kulit mereka bersentuhan seperti api yang bertemu minyak.
Di luar, hujan turun dengan deras, seolah-olah langit sedang menangisi keputusan yang diambil malam itu. Di dalam, dentuman hujan berpadu dengan suara rintihan dan desahan, menciptakan simfoni yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gerald merasakan keintiman dengan perempuan yang selama ini menjadi pusat dunianya. Namun, perasaan itu tidak sepenuhnya bahagia. Matanya menatap Sandra yang tenggelam dalam gairah, dan ada rasa bersalah yang menyelinap di dadanya, menusuk seperti jarum yang tak terlihat.
Gerald mengecup kening Sandra dengan lembut, sebuah gestur yang dipenuhi campuran emosi. “Maafkan aku...” bisiknya, entah kepada Sandra, kepada dirinya sendiri, atau kepada dunia yang ia tinggalkan malam ini.
Dalam hatinya, ada konflik yang tidak bisa terpecahkan. Apakah ini cinta? Ataukah ini dosa? Tapi satu hal yang ia tahu pasti: ia tidak hanya merenggut tubuh Sandra malam ini, tetapi juga melangkahi batas suami perempuan itu.
Namun, jika menolak, bukankah itu berarti ia membiarkan permata yang ia cintai mati perlahan?
Malam itu berakhir dengan keheningan yang berbicara lebih banyak daripada ribuan kata. Di luar, hujan terus jatuh, membasuh kota yang tetap diam, menyimpan rahasia yang hanya diketahui oleh hujan, malam, dan dua hati yang saling terikat dalam kerumitan tak berujung.
“Gerald?” panggil Sandra dengan suara yang nyaris seperti bisikan, serak namun penuh kelembutan, seperti embun pagi yang enggan jatuh.
Gerald menatap perempuan itu, matanya membara dengan gairah yang ia coba kendalikan, meski rasa bersalah menggantung berat di dadanya. Ia menyingkirkan perasaan itu sejenak, memilih fokus pada satu tujuan: menyelamatkan Sandra dari siksaan yang menjalar di tubuhnya akibat racun yang ditanamkan oleh takdir malam ini.
Tangan Gerald terulur, menyentuh pucuk-pucuk kembar itu dengan gerakan lembut yang hampir seperti ritual. Ia belum pernah melakukannya sebelumnya, tetapi sentuhan itu seperti menemukan jalannya sendiri, melintasi setiap batas yang pernah ia junjung. Bibirnya mendekat, lalu menyesap pucuk merah muda itu, bukan dengan nafsu liar, tetapi dengan kasih yang tertahan selama bertahun-tahun.
Lenguhan pelan meluncur dari bibir Sandra, sebuah nada yang asing namun juga begitu memikat. Tubuhnya merespon sentuhan itu dengan cara yang ia sendiri tak mengerti. Ada kehangatan, ada kebingungan, dan ada ketakutan yang bersarang di sudut hatinya. ‘Kenapa aku menyukainya?’ pikir Sandra, matanya terpejam sementara pikirannya berperang dengan kenyataan. ‘Bukankah ini dosa yang amat besar? Bukankah aku akan dihukum jika Gery tahu?’ Namun, setiap gerakan Gerald, setiap sentuhan lembutnya, membuat pikirannya yang berkecamuk tenggelam dalam lautan nikmat yang baru.
“Maaf, Sandra,” ucap Gerald tiba-tiba, suaranya serak, hampir seperti angin yang membawa kabar duka. Ia melepaskan diri, menarik tubuhnya menjauh dengan gerakan penuh penyesalan. “Aku belum pernah melakukannya sebelumnya. Jangan kecewa... Aku hanya ingin membantu menuntaskan apa yang kamu rasakan.”
Gerald duduk di samping Sandra, menatapnya dengan wajah penuh rasa bersalah. Mata itu, yang selalu penuh kasih, kini menyiratkan konflik batin yang mendalam.
“Tidak apa-apa, Gerald. Terima kasih. Kamu tidak perlu minta maaf,” balas Sandra, suaranya lembut namun penuh emosi. “Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah meminta kamu untuk—”
Jarinya, yang kokoh namun penuh kelembutan, mendarat di bibir Sandra, menghentikan kata-kata yang nyaris keluar. “Tidak masalah,” ucap Gerald, senyum tipis menghiasi wajahnya meskipun matanya menyiratkan beban yang berat. Ia bangkit, mengenakan pakaiannya dengan gerakan yang lambat, seolah mencoba menunda kenyataan yang harus mereka hadapi. “Kalaupun kamu hamil... bukankah itu anak suamimu? Kita baru melakukannya sekali.”
Wajah Sandra memerah, bukan karena panas tubuhnya lagi, melainkan oleh rahasia yang selama ini ia pendam. Ia menggeleng pelan, matanya menatap Gerald dengan keraguan dan kesedihan. “Sudah tiga bulan ini... aku dan Gery pisah ranjang.”
Gerald menatapnya dengan mata membola. “APA?” Suaranya meninggi, seperti petir yang menggelegar di tengah malam. “Ke—kenapa bisa... pisah ranjang?”
Sandra menghela napas panjang, matanya menerawang ke arah dinding yang kosong, seolah mencari kekuatan dari bayang-bayang di sana. “Kamu tidak tahu kehidupan pernikahanku, Gerald. Dan aku... aku tidak ingin menceritakannya. Aku takut kamu menganggapku hanya sedang mencari kesempatan.”
Gerald menyeringai tipis, senyum itu penuh ironi dan rasa marah yang tertahan. “Kenapa bilang begitu? Oke. Kalau kamu tidak mau cerita, aku akan bertanya. Kenapa kamu dan suamimu pisah ranjang?”
Sandra memeluk lututnya, menyembunyikan tubuhnya di balik selimut seperti anak kecil yang berusaha melindungi dirinya dari dunia luar. “Gery... dia menjual wahana kolam renang milik papanya. Aku tidak tahu alasannya. Sekarang dia menganggur, tidak mau mencari pekerjaan. Aku yang jadi tulang punggung keluarga.”
Gerald mengusap wajahnya dengan frustrasi, lalu menghela napas panjang. “Kenapa kamu tidak menceraikan dia saja, Sandra? Tanggung jawab itu ada di suami, bukan kamu.”
Sandra tersenyum pahit, sebuah senyum yang penuh luka. “Dia bisa membunuhku kalau aku meminta cerai. Aku sudah pernah memintanya. Aku bilang, kalau memang tidak ada lagi yang perlu dipertahankan, lebih baik berpisah. Kami tidak punya anak. Uang pun habis. Tapi dia bilang...”
Gerald mencondongkan tubuhnya, matanya mengunci pandangan Sandra. “Dia bilang apa?”
“Kembalikan semua uang yang dia berikan selama ini. Biaya kuliahku... dan semuanya.” Sandra mengucapkannya dengan suara yang terdengar rapuh, seolah setiap kata adalah duri yang melukai tenggorokannya.
Gerald tertawa pendek, tawa yang penuh kemarahan dan ketidakpercayaan. “Jangan mau jadi kacung, Sandra. Berapa uang yang harus kamu kembalikan pada dia?”
Sandra menggelengkan kepala. “Itu hanya alasan, Gerald. Sebenarnya... dia tidak ingin menceraikan aku.”
“Masih cinta?” Gerald bertanya dengan nada yang pelan namun menusuk.
Sandra menggeleng lagi, kali ini lebih lemah. “Aku tidak tahu, Gerald. Aku benar-benar tidak tahu kenapa dia enggan melepaskan aku.”
“Masih ada harapan? Mungkin Gery bisa berubah?” tanya Gerald dengan suara yang nyaris seperti bisikan angin di malam yang tenang.