Direbut Paksa

801 Words
Sandra menggeleng pelan, matanya yang sembab menatap Gerald. Setetes air mata jatuh, meluncur di pipinya seperti embun yang menyerah pada gravitasi pagi. “Aku... tidak tahu,” ucapnya lirih, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan. Gerald, dengan lembut seperti senja yang menyelimuti dunia, menarik Sandra ke dalam pelukannya. Lengan itu kuat, seperti benteng yang ingin melindunginya dari semua rasa sakit yang telah ia derita. Tangannya mengusap punggung Sandra dengan ritme menenangkan, sementara di dalam dirinya, hati itu menggumpal dengan rasa marah, iba, dan cinta yang tak terdefinisi. “It’s okay,” bisiknya, suaranya hangat seperti secangkir teh di musim dingin. “Jangan terlalu dipikirkan. Semuanya akan berlalu... waktu akan menghapus luka ini.” Sandra mengangguk kecil di dadanya, tubuhnya gemetar halus seperti daun yang digoyang angin lembut. “Terima kasih, Gerald. Terima kasih untuk semuanya,” ucapnya, suaranya serak namun tulus. “Sama-sama,” balas Gerald sambil menatap perempuan itu. Ada kelembutan dan kekhawatiran yang bercampur menjadi satu dalam tatapannya. “Sandra,” ucapnya dengan nada yang hati-hati, “jadi... kalau seandainya kamu hamil, itu anak aku? Aku...” Ia menghentikan ucapannya, menelan saliva perlahan sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih kecil, hampir seperti rahasia yang tak ingin ia akui, “Aku mengeluarkannya di dalam.” Sandra terdiam sejenak, menatap Gerald dengan campuran keterkejutan dan kesadaran. “Jangan terlalu jauh berpikir, Gerald. Kita hanya melakukannya sekali. Mana mungkin hamil,” jawabnya pelan, meski ada bayangan ragu di balik kata-katanya. Gerald tersenyum kecil, senyum yang tidak mencapai matanya. “Iya sih. Lima tahun dengan Gery saja tidak membuat kamu ham—” “Karena aku jaga,” potong Sandra cepat, suaranya tegas meskipun penuh dengan beban. “Aku tidak ingin punya anak dengannya sebelum dia berubah.” Gerald menelan saliva lagi, pikirannya berputar, menyerap informasi baru itu. Ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan, begitu banyak luka tersembunyi di balik mata perempuan ini. Namun, ia menahan diri, merasa bahwa haknya untuk tahu terbatas. “Syukurlah kalau begitu,” jawab Gerald akhirnya, suaranya rendah dan penuh rasa lega. “Aku mandi dulu. Kamu... mau mandi? Biar aku siapkan air hangat.” Sandra mengangguk pelan. Gerald tersenyum tipis, kemudian melangkah ke kamar mandi. Suara pintu yang tertutup lembut mengisi ruangan, menyisakan Sandra dalam keheningan yang penuh pikiran. Di dalam kamar mandi, air hangat mengguyur tubuh Gerald seperti hujan yang membersihkan debu di jalanan. Matanya terpejam, wajahnya menghadap ke pancuran. “Aku akan mengeluarkanmu dari penjara itu, Sandra,” gumamnya. Kata-katanya seperti sumpah yang diucapkan kepada dirinya sendiri. “Perempuan sebaik kamu tidak pantas disiksa oleh suamimu sendiri. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan.” Bayangan Sandra terus membayangi pikirannya, semakin menguatkan tekadnya untuk merebut perempuan itu dari cengkeraman lelaki yang tak tahu cara menghargainya. Gerald sadar, jalan ini tidak akan mudah, tetapi ia rela menghadapi apa pun demi Sandra. ** Waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi. Langit masih abu-abu, sisa hujan malam tadi membuat udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Gerald menurunkan Sandra di depan rumahnya, akhirnya tahu di mana perempuan itu tinggal setelah sekian lama ia hanya bisa bertanya-tanya. Di dalam rumah, rutinitas berjalan seperti biasa. Sandra menyiapkan sarapan pagi dengan tangan yang bergerak otomatis, meskipun pikirannya melayang pada kejadian semalam. Ketegangan menggantung di udara, terasa berat dan menyesakkan. “Pulang jam berapa kamu?” Suara Gery tiba-tiba memecah keheningan, dingin seperti pisau yang menusuk kulit. Sandra tersentak kecil, lalu menatap suaminya yang kini duduk di depannya. “Jam sebelas, Mas. Kamu sudah tidur, makanya tidak tahu jam berapa aku pulang,” jawabnya pelan, suaranya hampir seperti bisikan. Mata Gery menyipit, menatap Sandra dengan tatapan tajam seperti elang yang mengincar mangsanya. Tatapan itu membuat jantung Sandra berdegup kencang, ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya. “Aku berangkat dulu, Mas,” ucap Sandra cepat, berusaha menghindari tatapan itu. Namun, sebelum ia sempat melangkah, suara Gery kembali menghentikannya. “Uang mana, uang?” tuntutnya kasar. Sandra membuka dompetnya dengan tangan gemetar. Namun, sebelum ia sempat memberikannya, Gery merampas dompet itu seperti seorang pencopet. Semua uang yang ada di dalamnya diambil tanpa ampun. “Mas, Mas. Jangan diambil semua,” pinta Sandra, suaranya penuh dengan putus asa. “Aku tidak ada tabungan lagi. Hanya itu yang aku punya, aku mohon.” “Aaah! Banyak alasan!” bentak Gery, suaranya keras dan memekakkan telinga. “Dua hari yang lalu, kamu dapat insentif dari kampus, kan? Jangan bohong kamu, Sandra!” Dengan penuh amarah, ia melempar dompet itu ke wajah Sandra. Dompet itu jatuh ke lantai dengan suara yang nyaring, tetapi lebih nyaring lagi suara hatinya yang hancur. Sandra hanya bisa mengelus dadanya, mencoba menenangkan diri. Matanya memandang Gery yang duduk dengan santai, tanpa rasa bersalah atas apa yang baru saja ia lakukan. ‘Dulu, dia tidak seperti ini,’ pikir Sandra, air matanya menggenang lagi. ‘Dulu, dia adalah orang yang aku cintai. Tapi sekarang... apa yang tersisa dari dirinya?’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD