Gerald mengangguk kecil, sorot matanya tajam tapi tenang. “Cari bukti saja. Kalau bukti cukup kuat, laporkan ke polisi. Kamu pasti menang di pengadilan.”
“Heuuuh? Memangnya bisa?” Sandra bertanya dengan keraguan yang membalut nada suaranya.
Mereka masuk ke restoran, suasana di dalamnya hangat dengan lampu-lampu kekuningan yang menggantung rendah, menciptakan bayangan lembut di meja-meja kayu. Setelah mereka duduk, Sandra mengulangi pertanyaannya. “Gerald. Memangnya bisa, kalau buktinya nyata?”
Gerald tersenyum tipis, menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Of course. Bisa banget. Tapi sebelum itu, aku mau tanya sesuatu.”
“Apa?”
Gerald menarik napas panjang, seperti hendak melangkah ke medan yang lebih rumit. “Sudah tidak cinta, pada suami kamu itu?”
Sandra menggeleng pelan, matanya menatap menu di hadapannya. “Dari dulu, hingga sekarang.”
Gerald tersenyum simpul, sedikit lega. “Baguslah. Kalau kamu ingin cerai dengannya, aku bisa bantu kamu. Apa pun untuk kamu.”
Sandra tersenyum lirih, senyum yang lebih mirip luka yang terbungkus dengan rapi. “Thank you. Tapi, kenapa kamu mau membantuku? Hanya karena kita sudah tidur?”
Gerald menggeleng pelan, matanya bersinar penuh keyakinan. “Bukan karena itu. Aku mau bantu kamu karena aku peduli. Dan soal perempuan itu...”
Sandra memotongnya dengan pertanyaan yang lebih menusuk. “Kalau wanita itu tahu kamu membantuku, nanti salah paham... apa yang akan kamu lakukan?”
Gerald terkekeh, suaranya rendah namun menenangkan. Ia menatap Sandra lekat, begitu dalam hingga membuat perempuan itu merasa telanjang secara emosional.
“Akan kunikahi perempuan cantik dan baik hati yang hingga kini masih bersarang di sini,” katanya seraya menyentuh dadanya dengan sentuhan yang dramatis namun tulus.
Sandra terdiam. Senyumnya kembali lirih, seolah ia tak tahu harus percaya atau tidak. Ia menunduk lagi, mencari menu makanan di hadapannya, mencoba mengalihkan rasa yang berdesir di dadanya.
“Kenapa diam?” Gerald bertanya dengan nada lembut, penuh rasa ingin tahu.
“Tidak apa-apa. Aku sedang mencari menu makan dulu,” jawab Sandra singkat, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.
Gerald menelengkan kepala, menatapnya dengan mata yang penuh rasa ingin tahu. “Kamu... tidak mau bertanya, siapa perempuan itu?”
Sandra menggeleng pelan, meskipun hatinya bergejolak. Dalam hati ia berkata, “Tidak perlu tahu. Kamu hanya bertanggung jawab padaku alih-alih benih yang kamu tanam di rahimku akan tumbuh. Setelah itu, tidak perlu lagi ada yang harus kamu lakukan padaku. Kamu hanya mencintainya, tidak akan pernah terbagi dengan siapa pun, termasuk aku.”
Ia mencoba membatasi dirinya, melindungi hatinya dari rasa yang ia tahu hanya akan berujung luka. Mencintai Gerald adalah kesalahan besar, kesalahan yang ia tahu akan menghancurkannya.
Gerald tersenyum kecil, seolah membaca pikirannya. “Bagaimana kalau ternyata perempuan itu adalah kamu?”
Sandra mendongak cepat, matanya menatapnya dengan ragu. Senyumnya terbit kembali, namun kali ini ada rasa sakit yang terselip di dalamnya.
“Jangan berikan harapan palsu, Gerald. Masih banyak wanita lain yang lebih cantik dan layak daripada aku. Jangan ingkari janjimu hanya karena satu kesalahan. Aku tidak mau merusak hubungan kalian.”
Gerald tertawa kecil, nadanya penuh kehangatan. “Kalau bisa dibilang, akulah yang merusak hubungan kamu dengan suami kamu. Betul begitu?”
Sandra mengedikkan bahu tanpa menjawab, menunggu pesanan mereka selesai. Suasana di antara mereka sunyi, namun sarat dengan hal-hal yang tidak terucapkan.
Sandra hanya berharap diamnya bisa melindungi hatinya, meskipun ia tahu, tatapan Gerald sudah membongkar semua perasaannya yang tersembunyi.
“Harusnya kamu tanya pada diri kamu sendiri,” Gerald berkata pelan, namun nadanya sarat dengan sesuatu yang mendesak, sesuatu yang tak terucap. Matanya yang gelap menatap Sandra dengan intensitas yang membuat perempuan itu gelisah.
“Kenapa aku melakukan semuanya? Kenapa aku menjadi semakin dekat setelah kejadian malam itu? Kamu... tidak ingin menanyakan hal itu?”
Sandra merasakan tenggorokannya mengering. Ia menelan ludah dengan hati-hati, mencoba menenangkan denyut jantungnya yang terasa seperti drum perang.
“Karena kamu mengkhawatirkan aku hamil. Kamu mengkhawatirkan benih itu tumbuh. Tidak lebih dari itu, kamu hanya ingin bertanggung jawab,” jawabnya dengan suara yang hampir seperti bisikan, suaranya penuh dengan keraguan.
Gerald mengangkat gelas es jeruk yang baru saja diantarkan oleh pelayan. Tatapan matanya melembut, namun ada senyuman samar di bibirnya, senyuman yang sulit ditebak artinya.
“Sandra, Sandra,” katanya dengan nada seperti menggoda. Ia menggeleng pelan sebelum menyeruput minumannya.
“Kenapa?” Sandra bertanya, sedikit kesal dengan cara Gerald menggodanya. “Ada yang salah dengan ucapanku tadi?”
Gerald menggeleng, tetapi tatapannya tetap melekat pada Sandra, seperti mencoba memahami sesuatu yang lebih dalam.
“Bukan salah. Tapi kamu ini... bodoh. Jangan belanja banyak-banyak. Nanti suamimu curiga, kenapa banyak stok makanan di rumah. Tadinya aku mau ajak kamu jadi bandel, tapi...” Ia menghentikan ucapannya sejenak, lalu tersenyum lebar. “Aku masih takut Papa.”
Sandra tertawa kecil, meski hatinya masih terasa berat. “Papa kamu... galak?”
Gerald mengangkat bahu santai, senyumnya berubah menjadi sedikit nostalgik. “Nggak galak. Tapi kalau ada satu kesalahan yang buat dia murka, semua pasti kena imbasnya. Kecuali Mommy. Papa cuma tunduk padanya.”
“Suami takut istri, ya,” Sandra menyindir, senyumnya muncul untuk sesaat, seperti angin lembut yang berlalu cepat.
Gerald tertawa, tawanya riang namun penuh kehangatan. “Bisa dibilang begitu. Mommy itu keras kepala, nggak mau dikekang, tapi suka mengekang. Kalau ada satu pesan masuk di HP Papa tanpa nama, siap-siap aja Papa kena sidang tujuh hari tujuh malam.”
Gerald menceritakan sosok ibunya, Kayla, dengan campuran rasa hormat dan kekaguman. Ia menggambarkan betapa tegasnya wanita itu terhadap ayahnya, tapi juga betapa lembut dan penuh kasihnya ia kepada anak-anaknya.
Sandra tersenyum, kali ini senyum yang lebih tulus. “Kamu beruntung punya mama sambung yang baik hati dan penyayang.”
Gerald mengangguk pelan, matanya seperti menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa syukur. “Lalu, kamu mau nggak jadi menantunya Mommy?”
Sandra spontan menoleh, matanya melebar dengan keterkejutan yang jelas. “Heuh?” tanyanya, hampir tergagap.
Gerald tertawa kecil melihat reaksi Sandra. Tatapannya melembut saat ia berkata, “Aku akan bantu kamu keluar dari siksaan suamimu itu. Jangan pikirkan apa pun. Everything will be fine!”
Mata Sandra mulai berkaca-kaca, perasaannya bercampur aduk. “Tapi, Gerald...” Ia ragu melanjutkan kalimatnya, takut harapan yang baru saja tumbuh akan menjadi luka baru.
Gerald mendesah, suaranya terdengar berat. “Masih tidak enak dengan wanita yang aku cinta? Sudah aku katakan, Sandra. Perempuan itu adalah kamu!”
“Heuuh? Ta—tapi, Gerald. Bagaimana mungkin? Kamu bohong, kan? Kamu... kamu hanya tidak ingin aku terus menerus merasa bersalah, kan?”
Gerald tersenyum kecil, senyuman yang lebih penuh rasa daripada sebelumnya. Ia mengembungkan pipinya seperti anak kecil yang lelah berdebat, lalu menghela napas panjang.
Matanya kembali menatap Sandra, tapi kali ini ada sesuatu yang lain di sana—kejujuran, keberanian, dan mungkin... cinta yang tak lagi bisa disembunyikan.
Sandra, yang tak tahu harus berkata apa, menundukkan kepalanya. Ia mencoba memusatkan perhatian pada makanan di hadapannya, namun pikirannya terus berputar. Ia bertanya pada dirinya sendiri: benarkah ini cinta, atau hanya ilusi yang ia ciptakan untuk menutupi luka?
Gerald tetap menatapnya, menunggu dengan sabar. Dan di antara keheningan mereka, ada perasaan yang menggantung di udara—perasaan yang tahu bahwa segalanya akan berubah, meski mereka belum tahu ke mana arah perubahan itu akan membawa mereka.
“Makan dulu, Sandra. Jangan pikirkan ucapanku tadi. Aku tahu perutmu sudah lapar. Setidaknya, aku bisa memberi kamu makan untuk kedua kalinya. Sebagai bentuk tanggung jawabku untuk kamu.”
Gerald berkata dengan suara lembut, namun sarat dengan ketegasan yang sulit ditolak. Tatapannya seperti matahari senja—hangat, namun mengintip sesuatu yang tak terucapkan.
Sandra menundukkan kepala, berusaha menutupi rasa campur aduk dalam hatinya. Ia menggenggam sendok dengan tangan gemetar, mencoba memusatkan perhatian pada hidangan di depannya.
Di sisi lain meja, Gerald mulai memotong steaknya dengan gerakan santai namun berirama, seolah tak ingin terburu-buru meninggalkan momen ini.