“SANDRAAA!” Suara pekikan menggema seperti guruh di tengah langit malam yang muram, menghantam gendang telinga dengan nada penuh amarah yang menusuk hingga ke tulang.
Gery, pria yang baru saja memasuki rumah dengan langkah gontai dan aroma alkohol yang menyengat, meluapkan kekesalannya tanpa aba-aba.
Sandra tersentak, tubuhnya gemetar kecil seperti daun yang terhempas angin ribut. Cepat-cepat ia melangkah menuju kamar, jantungnya berdegup kencang bagai genderang perang, seolah suara itu adalah sinyal bahaya yang memanggilnya menuju pusaran badai.
“Ada apa, Mas?” suaranya lirih, nyaris tenggelam di antara denting jam dinding yang terasa begitu keras di keheningan malam. Matanya yang sendu memandang suaminya, mencari jawaban di tengah ketidakpastian.
Tatapan Gery tajam, seolah menembus jiwa Sandra dan membakar segala harapan yang tersisa.
Tangan pria itu melemparkan dompet ke arah Sandra dengan gerakan yang kasar, membuatnya meringis saat benda itu menghantam pipinya.
“Uang dari mana itu, Sandra? Jual diri kamu, huh?!”
Teriakannya bagai ledakan yang mengguncang udara di ruangan sempit itu.
Sandra menggeleng dengan cepat, air matanya mulai membayang di sudut mata. “Nggak, Mas. Astaga. Kenapa mulutmu tajam sekali. Aku tidak pernah menjual diri hanya untuk mendapatkan uang,” katanya dengan suara yang hampir pecah, namun tetap berusaha teguh di hadapan suaminya yang temperamental.
“Jangan bohong!” suara Gery melengking lagi, menyayat malam yang dingin. “Lima juta ini, Sandra! Lima juta! Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu? Kamu pikir aku bodoh?!”
Sandra diam, napasnya tercekat seperti dihimpit beban yang tak terlihat. Ia menatap pria di depannya, lelaki yang pernah ia cintai dengan sepenuh hati, namun kini berubah menjadi monster dengan topeng keserakahan.
“Aku kerja banting tulang, Mas. Aku mencari anak-anak untuk les privat, mengais tambahan rupiah demi kita. Tapi kamu... kamu selalu menginjak harga diriku. Kalau memang sudah tidak menginginkan aku, ceraikan saja aku!” Suaranya pecah, tetapi penuh keberanian yang membara di sela-sela keputusasaan.
Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, meninggalkan jejak merah yang berdenyut sakit.
Sejenak waktu terasa berhenti, hanya isakannya yang teredam memenuhi ruang itu. Ia memegangi pipinya yang panas, berusaha menahan luka di hati yang jauh lebih pedih.
“Cerai? Bayar dulu utang orang tuamu! Bayar semua biaya hidup yang sudah aku keluarkan selama ini, Sandra!” Gery menatapnya dengan senyum sinis, penuh dengan kebencian yang tidak beralasan.
Sandra mengangkat wajahnya, matanya kini kosong, seperti lautan luas yang kehilangan pantainya. “Berapa? Berapa yang harus aku bayar?” tanyanya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
“Lima miliar.” Suara itu meluncur dari bibir Gery, dingin seperti bilah pisau yang menusuk ke dalam. Ia tertawa pendek, lalu mengusap hidungnya dengan gaya sombong. “Cari uang sampai ke ujung dunia kalau kamu memang mampu!”
Pria itu berlalu, meninggalkan Sandra yang masih berdiri di tempatnya, terpaku seperti patung di tengah badai.
Air mata itu akhirnya jatuh, berderai seperti hujan pertama setelah musim kemarau panjang. Seolah membawa beban yang tak terkatakan, setiap tetesnya menggambarkan kisah luka yang tak mampu ia rangkai dalam kata.
Sandra duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya meluruh dalam kepasrahan. Pelukan pada kedua lututnya seperti usaha terakhir untuk menyatukan serpihan dirinya yang telah tercerai-berai.
“Dari mana uang sebanyak itu? Sampai mati pun aku tidak akan mendapatkannya,” gumamnya lirih. Suaranya tenggelam dalam desahan keputusasaan yang mengambang di udara kamar yang sunyi.
Dadanya terasa sesak, seakan terhimpit batu besar yang tak terlihat. Ia melontarkan pertanyaan yang menggema dalam hatinya, pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. “Kenapa kalian jahat sekali? Kalian yang berutang, kenapa aku yang tersiksa?”
Sandra memejamkan mata, mencoba menahan denyut pilu yang bergetar di dadanya. Beban hidup yang mengikatnya terasa semakin berat, seperti rantai yang melilit tubuhnya, menghalangi setiap langkah menuju kebebasan.
Jika kebebasan memang sebuah mimpi mahal, ia tak tahu apakah mimpi itu pantas untuk dikejar.
Waktu terus berjalan. Jam telah menunjuk angka delapan malam, namun rasa lapar yang menggerogoti perutnya lebih lantang daripada detak jarum jam itu sendiri.
Di dapurnya, hanya ada rak kosong dan kenangan akan makanan yang tak lagi tersedia. Uang pemberian Gerald yang sempat menjadi secercah harapan kini lenyap, dirampas oleh tangan kasar Gery.
Dengan langkah berat, Sandra meninggalkan rumah. Angin malam menyambutnya dingin, menusuk kulit hingga ke tulang. Langit gelap tanpa bintang, seperti mencerminkan perasaannya yang hampa.
“Mau ke mana?” Suara berat yang tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang malam itu membuat Sandra tersentak. Gerald melangkah keluar dari mobilnya, wajahnya tersorot lampu jalan yang remang.
“Gerald. Ngapain kamu di sini?” tanyanya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri dengan gelisah, takut bayangan Gery tiba-tiba muncul di sudut jalan.
“Mau ke mana? Aku antar. Gery nggak ada di rumah, kan? Tadi aku lihat dia dijemput cewek. Nggak tahu siapa dia, tapi...” Gerald berhenti sejenak, senyum tipis tersungging di bibirnya, meski sorot matanya penuh kerisauan.
Sebelum Sandra sempat menjawab, Gerald meraih tangannya dengan lembut tapi tegas, membawanya masuk ke dalam mobil. “Aku tanya sekali lagi, mau ke mana?”
“Ke supermarket. Sembako di rumah habis,” jawabnya pelan, nyaris berbisik. Perutnya berbunyi pelan, namun cukup untuk menguak rasa malu yang ia coba sembunyikan.
Gerald terkekeh kecil, suaranya rendah namun penuh kehangatan yang tak pernah Sandra dapatkan di rumahnya sendiri. “Pantas saja tubuhmu kurus kering, Sandra. Jarang makan, ya? Bukan cuma tubuhmu, tapi batinmu juga. Kamu hidup di sarang hantu.”
Sandra menunduk, tak sanggup menanggapi. Gerald melanjutkan, suaranya lembut seperti remasan awan di sore hari. “Kita makan malam dulu. Kebetulan aku juga belum makan.”
“Terima kasih,” ucapnya lirih, hampir tenggelam oleh dengung mesin mobil.
Gerald tersenyum tipis, matanya melirik Sandra sekilas sebelum kembali fokus ke jalan. “Habis nangis, ya? Mata kamu sembab. Diapain lagi sama suami kamu itu?”
Sandra menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai di dadanya. “Dituduh jual diri karena ada uang di dompetku,” jawabnya dengan nada penuh getir.
Gerald terdiam. Keningnya berkerut, mencerminkan konflik batin yang menghantam dirinya. “Sorry, Sandra. Aku nggak bermaksud unt—”
“Tidak apa-apa, Gerald,” Sandra memotong ucapannya dengan suara tenang namun tegas. “Toh, sebenarnya aku sudah menyerahkan tubuhku padamu malam itu.”
Gerald menoleh cepat, matanya menatap Sandra penuh ketegasan. “Tapi itu bukan berarti kamu menjual diri. Kejadian itu tidak disengaja. Kalau menjual diri, itu karena niat. Kamu bukan perempuan seperti itu, Sandra. Kamu tidak pantas merendahkan dirimu hanya karena kesalahan.”
Gerald menghentikan mobil di sebuah restoran kecil yang terletak tak jauh dari supermarket. Ia menatap Sandra dengan intensitas yang nyaris menelan, namun penuh dengan kejujuran yang tak terbantahkan.
“Bukan itu yang kamu mau. Dan aku juga tidak pernah berniat mengganggu rumah tanggamu.”
Sandra mengangguk pelan, tatapannya jatuh ke pangkuannya sendiri. “Aku tahu. Maaf, aku sudah membuatmu merasa bersalah atas sesuatu yang sebenarnya bukan salahmu.”
Gerald tersenyum kecil, sebuah senyum yang lebih seperti luka yang berusaha disembunyikan.
Di dalam mobil yang kini terhenti, keduanya duduk dalam diam, seperti dua jiwa yang saling memahami dalam kekacauan yang tak terucapkan.
“Gerald. Kenapa diam? Maafkan aku karena sud—”
“Jangan minta maaf terus, Sandra,” potong Gerald dengan nada lembut namun tegas. Matanya yang teduh menatap wajah Sandra, seperti berusaha menenangkan badai di dalam dirinya.
“Itu murni bukan kesalahan kamu. Daripada terus minta maaf, lebih baik kamu cari tahu siapa orang yang sudah menjebak kamu. Siapa dia, apa tujuannya, dan kenapa dia tega melakukan itu.”
Gerald melepas sabuk pengamannya dengan gerakan perlahan, lalu turun dari mobil. Langkahnya mantap, seolah menyiratkan kepercayaan diri yang selalu Sandra kagumi dalam diam. Ia mengikutinya, meski hatinya tetap berat.
Ada kecanggungan di antara mereka, terutama karena Sandra masih merasa takut—bukan pada Gerald, tapi pada bayangan wanita yang mungkin salah paham.
“Aku tahu, dia siapa,” Sandra membuka suara, nadanya datar tapi sarat makna. “Alasan Gery tidak ingin menyentuhku sederhana. Dia sudah punya yang baru. Tapi perempuan itu tidak menghasilkan uang, jadi dia tidak mau menceraikan aku.”