Empat: Istana Ratu yang Lain

1811 Words
Seruni Rindu Rahayu dijemput oleh suaminya, Galang Jingga Hutama, setengah jam lewat dari waktu makan siang. Sarah yang tidak menduga bahwa pria dengan penampilan perlente, kemeja slimfit warna biru muda serta jeans biru gelap yang di beberapa bagian agak sedikit pudar, adalah suami sahabatnya, menyambut kedatangan pria itu dengan sapaan baku ekpedisi KiKi. Ketika Jingga masuk, Seruni sedang bicara di ruang belakang konter dengan Zam. Raut wajahnya amat serius dan mereka tengah berdebat tentang lokasi baru yang direncanakan dekat daerah pasar Tasik tidak jauh dari lokasi mereka saat ini. "Kita punya jatah sewa lima ruko sama buka  rekanan untuk pengusaha kue, makanan oleh-oleh, gue nggak setuju kalo pasar Tasik, Bang. Kita masih satu lokasi, loh. Gue udah keliling kemaren bilang kita mau jemput paket, mereka tinggal WA aja. Toko Cik Liong itu malah seneng banget paketan dijemput ama kita, mereka tinggal foto-foto doang." Terdenger desah tanda tidak setuju, lalu Zam bicara lagi, "Bukan gitu, Uni sayang. Jarak gedung A sama pasar Tasik lumayan loh, maksud gue kasih Jo atau Haris buat jaga konter kecil atau kita kasih plan buat satu atau dua toko, linknya KiKi. Rekanan kita kasih potongan lima sampe sepuluh persen, kita juga yang pick up. Jadi mereka ini ibaratnya kayak base pertama, penampungan sementara sebelum kita ambil."  Seruni memperhatikan Zam yang bicara panjang lebar dengan mata setengah mengantuk. Supaya tetap terjaga, sesekali telunjuk kanannya terarah pada empat titik luka di pahanya yang sepertinya saat ini, selain berdenyut nyeri, terasa sedikit bengkak. Entah tusuk sate itu tidak steril, atau bekas gosong yang menempel di batangnya sedikit berpengaruh kala ia menancapkan benda tersebut ke daging bagian paha, yang pasti, dia sedikit mengerenyit kala tidak sengaja ujung kukunya menggores bagian luka.  Walau tertutup gamis dan plaster luka, tetap saja ia dapat merasakan ngilu. Seruni sengaja membeli plaster murahan agar kuku-kukunya bisa bermain-main di atas luka. Plaster dengan kualitas lebih bagus biasanya membuat lukanya tidak bisa lagi di rasakan, terutama plaster yang punya kemampuan anti air. "Jangan lo senggol-senggol lagi..." Zam memperingatkan saudarinya itu kala matanya menangkap tingkah ganjil yang Seruni lakukan. Dia bersyukur karena sekejap, Seruni menarik tangannya dan berusaha menarik sebuah balpoin sebagai pengalihan. Hanya sayang, ketika Zam yang bersyukur telah menghabiskan dua jam waktu mereka menjelang siang dengan Seruni, suara Sarah yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, disertai sosok pria tampan yang memiliki tinggi badan serupa dirinya sedang memandangi mereka dalam diam. Melihat suaminya, Seruni buru-buru bangkit, mengabaikan sudut meja kayu yang menghalangi jalan, lalu dalam hitungan detik dia mengaduh.  Pahanya yang terluka menghantam ujung sudut meja tanpa ampun dan dia segera terbungkuk karena menyadari lukanya begitu perih hingga air mata nyaris keluar. Zam yang lebih dulu mendekat, membisikkan pertanyaan penuh rasa khawatir sementara Sarah yang pada dasarnya tidak tahu apa-apa segera melirik pada Jingga dan memuji pria itu. "Efeknya sampe sore. Jalan aja susah si Eneng, mah. Hebat banget lo, Mas." Dia memuji dengan raut wajah penuh kekaguman yang tidak malu-malu dia tutupi, hingga membuat Jingga mengerenyit bingung. Tak urung dia kemudian membiarkan saja Sarah terus mengoceh lalu mengalihkan pandang pada sepasang saudara tiri yang kelihatannya jauh lebih intim dari saudara sebenarnya. "Pelan-pelan, Ni." Suara cemas Zam yang membantu Seruni berdiri membuat alis Jingga naik. Karena itu juga, ia berseru dengan suara yang terdengar amat dingin hingga membuat tiga orang selain dirinya, dalam ruangan tersebut menoleh. "Buruan. Aku ke sini bukan cuma nungguin kalian doang. Kerjaanku banyak." Jingga kemudian putar badan dan berjalan menuju pintu keluar sementara Zam dan Sarah memandangi sosok pria itu dalam diam. Seruni pada akhirnya berinisiatif bergerak mengejar suaminya tapi ia lalu kembali ke dekat meja di mana koper mungil telah ia letakkan sebelum ini. "Biar gue aja." Zam menawarkan bantuan yang ditolak halus oleh Seruni. "Biar aja, Bang. Kecil ini. Isinya kan nggak banyak. Gue nggak nginep di ruko malem ini kayaknya, tapi nanti kalo kami berantem, gue balik ke sini." "Eh, pamali penganten baru nyebut-nyebut berantem. Ditinggal beneran baru nyahok. Laki model gitu kudu dilestariin, di servis maksimal biar betah." Zam menggeleng tanda tidak setuju sementara matanya telah mengekori Seruni yang berjalan di depan mereka sembari menggeret koper. "Jangan lupa makan. Jangan main piso atau cutter" Zam mendesis pelan ketika Seruni menarik gagang pintu kaca.  "Udah makan tadi ama lo." Wanita itu membalas. Kemudian Seruni melirik Sarah yang sudah duduk di bangkunya, "Sar, tolong ntar suruh Jo jemput paket di tokonya Hamidah di lantai tiga, ya. Udah di WA ama dia. Gue nggak sempet. Seruni tidak sempat melanjutkan karena dari luar, Jingga yang sudah lebih dulu masuk mobil, mengklakson beberapa kali, sebagai tanda bahwa dia tidak mau menunggu dan Seruni mestilah buru-buru. Wanita dua puluh enam tahun tersebut pada akhirnya melangkah dengan terseok-seok mengabaikan bantuan Zam yang terus mengekori dari belakang. "Udah, Bang. Kalo dibantuin gini, keliatan banget kayak gue nggak bisa apa-apa. Santai aja, sih. Cuma bawa koper doang udah gue bilang. Titip ruko, ya." Seruni melambai tepat saat klakson terakhir memaksanya berlari dan nyaris terjungkal kala roda belakang koper menghantam kerikil di sebuah lubang depan coran toko yang tidak sempurna, tapi dengan cepat ia menguasai diri agar tidak terjatuh di depan suaminya, meski karena insiden barusan, salah satu roda kopernya patah. Yah, dia tahu, Jingga tidak akan suka menunggu, terutama, jika yang ditunggu hanyalah istri sewaan yang hanya punya kontrak beberapa bulan saja, sebelum Jingga mengakhiri hubungan mereka semudah menyentik ibu jari dan jari tengah. Semudah Thanos menjentik Gauntlet yang menyebabkan dunia jadi berubah drastis. *** Seruni dan Jingga tiba di rumah milik pria itu yang berada di daerah Cilandak, sekitar tiga puluh menit kemudian. Ketika sampai, Seruni hanya mampu memandangi rumah suaminya dalam diam, terutama, setelah Jingga memutuskan masuk terlebih dahulu, mengabaikan Seruni yang terdiam sambil memegangi gagang koper, persis perantau dari desa yang terbengong-bengong ketika dibawa ke rumah majikan oleh makelar PRT.  "Kamu mau berdiri di sana sampai kapan?" Jingga bertanya dengan ketus dari depan pintu masuk, membuat Seruni kemudian berjalan menuju teras dan mendekat ke arah pria itu dengan ragu-ragu. Jingga yang sibuk membuka pintu tidak mau repot-repot menyuruh Seruni masuk kala kunci terbuka dan ia berjalan seolah tanpa beban meninggalkan istrinya sendirian. "Mau masuk, nggak? Lo bukan Tuan Putri yang mesti aku tawari tiap mau ke mana-mana." Seruni menggumamkan kata maaf dan melepas sepatu miliknya di depan keset yang terbuat dari karet sintetis. Ia mengucap salam tidak lama setelah kakinya menyentuh lantai ruang tamu. Perasaannya tidak karuan karena untuk pertama kali, dia akan tinggal di sebuah tempat asing dengan pria yang seharusnya tidak asing baginya. Hanya saja, tahun-tahun yang telah lewat, membuat mereka jadi seperti orang lain dan Seruni terlalu bingung untuk bersikap normal.  Sikap pria itu mengingatkannya pada bapak yang dingin dan kejam dan membayangkannya saja sudah mampu membuat bulu kuduk Seruni menegang.  Hal pertama yang dia temukan tidak lama setelah berada di ruang tamu adalah pigura indah berukuran dua puluh empat inci tergantung di dinding dengan gambar Jingga dan Lusiana sedan berdiri berpelukan, dengan mata terpejam. Rasa bahagia terpancar di wajah keduanya dan Seruni menemukan kalau tangan kekar milij Jingga memeluk pinggang Lusiana begitu erat, seolah takut berpisah. Foto prewedding?  Entah kapan gambar tersebut dibuat. Namun, Seruni yakin, Jingga terlihat jauh lebih bahagia dibanding detik ini. Menyadari hal tersebut, Seruni merasa amat bersalah dan tanpa sadar, tangannya menekan bagian pahanya yang terluka lebih kuat dari saat ia menyimak instruksi Zam di ruko tadi. Sayang, entah karena lukanya sudah terjadi selama berjam-jam, pada akhirnya, wanita muda itu bergegas menyusul Jingga yang sepertinya berada di dapur. Tanyain tempat piso. Seruni memerintahkan dirinya sendiri. Akan tetapi, dia membatalkan keinginan tersebut sebab akan sangat mencolok jika hal yang pertama dia tanyakan adalah benda yang bagi sebagian orang merupakan alat yang sangat berbahaya. "Kamar kosong ada?" Seruni pada akhirnya memberanikan diri bertanya, mengabaikan empat atau lima foto Lusiana dan Jingga yang tersebar di segala penjuru rumah. Jingga pastilah tidak sempat menyingkirkan benda tersebut dan dia tidak mau repot-repot memindahkannya. Toh, pada kenyataannya, Seruni paham, rumah ini sebenarnya telah suaminya siapkan untuk calon ratunya yang sejati. "Ada, di situ tempatnya." Jingga menunjuk ke sebuah pintu tertutup yang daunnya terbuat dari kayu meranti bercat hitam. "Kamar lo?" Seruni basa-basi bertanya, mengabaikan perasaan tak enak. "Bukan, sebelahnya." Dia menujuk pintu gelap di sebelah kamar sebelumnya. Melihatnya, Seruni kemudian menggeret koper dan segera masuk ke kamar yang disebut lebih dulu oleh Jingga. "Mak gue bilang, kita nggak boleh masuk kamar orang yang sudah menikah. Jadi gue pilih kamar kosong ini, toh nanti lo ama Uci bakal tinggal di sana..." Sumpah, ketika menyebutkan semua itu, Seruni merasa kerongkongannya ngilu dan perasaan itu jauh lebih buruk bila dibanding saat ujung tusuk sate menghantam pahanya berkali-kali. Karenanya, ia mencoba untuk tidak peduli dan berusaha tersenyum amat lebar. "Lo mau dimasakin apa buat makan? Gue nggak tahu di kulkas ada sayur apa...." Seruni berhenti bicara kala mata Jingga terarah pada tangannya yang luka. Walau sebenarnya, luka itu berasal dari goresan-goresan cutter kala ia sedang sendirian, tetap saja, dia tahu, Jingga pastilah jijik.  "Atau beli aja, masakan gue nggak terlalu enak." "Sudah makan sama Uci tadi." Jingga membalas pendek. Kalimat tersebut membuat Seruni begitu merindukan Jingga SMA yang selalu membalas setiap kalimatnya dengan nada marah dan emosi. Jingga yang kini berusia dua puluh tujuh ternyata sudah berubah amat banyak dan dia bicara dengan bahasa amat formal pada wanita yang pernah jadi sahabat dekatnya di masa lalu. "Oh, oke. Gue masuk dulu. Kalau ada perlu panggil aja." Seruni tentu berharap bahwa Jingga akan mengatakan dirinya akan memanggil wanita itu bila benar dia membutuhkan bantuannya, tapi hal yang kemudian ia dengar membuat Seruni sadar bahwa ia memang sedang bermain-main dengan takdir dan mimpi yang tidak pernah jadi nyata. "Kamu sendirian dulu. Aku masih harus jemput Uci pulang ngantor." Susah payah Seruni menelan air ludah yang entah kenapa terasa menyangkut di tenggorokan. Ia lalu memaksakan diri untuk tersenyum dan melepas kepergian Jingga yang berlalu tanpa menoleh lagi.  Tidak butuh waktu lama, Seruni kemudian berlari menuju konter dapur dan mulai memeriksa laci, berharap ada satu benda tajam yang bisa ia gunakan untuk sekadar menenangkan pikirannya yang berubah amat kalut. Setelah membongkar kabinet bagian bawah, dia tersenyum menyadari bahwa ada beberapa pisau yang mungkin tidak pernah digunakan oleh Jingga.  Setelah memastikan bahwa mobil suaminya telah berlalu, Seruni bergegas menuju kamar dan menguncinya, kemudian dia duduk di belakang pintu dan mulai melepas kain penutup kepalanya tanpa ragu. Napasnya sudah putus-putus dan jemari kanannya sudah bergetar hingga ia merasa amat putus asa. Tangan kiri. Bagian dalem. Di deket siku, di situ paling pedih kalau disayat. Seruni menarik napas panjang, menarik gamis bagian lengan dan mulai mengarahkan mata pisau ke arah tangan kirinya sendiri. Begitu ujung mata pisau yang amat tajam menembus daging kulit tangannya yang amat sensitif, Seruni menegang.  Malam ini, dia akan berdamai dengan luka baru itu, seperti berdamai dengan fakta bahwa  ia tidak pernah berharga untuk dipertahankan oleh siapa pun juga. Saat darah dari lengannya mulai menetes-netes, membasahi lantai, barulah Seruni dapat bernapas dengan baik.  Semuanya akan baik-baik saja, benar kan, Ga? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD