Just Kidding?

1726 Words
Sudah dua jam aku menunggu Dirga dirumah, dan sampai sekarang tanda-tanda kepulangannya belum juga terlihat. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan dia meninggalkan acara makan bersama yang diselenggarakan bersama Ailee dan Ayahnya, dia tiba-tiba saja pamit undur diri tanpa alasan yang jelas. Aku yang dia tinggalkan sendiri di acara makan malam bersama tadi, pulang diantara oleh Nara, Ibu tirinya. Aku sangat bersyukur, mereka sangat mengkhawatirkan aku. Meskipun berulang kali aku mengatakan bahwa aku bisa pulang sendiri, namun Nara yang kerap kupanggil mami bersikeras untuk mengantarku pulang. Sekarang aku sendiri di rumah, dan menunggu Dirga dengan gelisah. Aku juga tidak berani menghubunginya, takut panggilanku menjadi gangguan bagi Dirga. Toh siapa aku yang lancang menelfonnya. Aku terus berdiri di dekat pintu menunggunya sembari sesekali menatap keluar, hingga akhirnya pandanganku mendapati sosok Dirga yang berjalan masuk ke pekarangan rumah. Sontak saja aku berlari kecil menghampirinya. “Kamu dari mana saja? Kenapa jam begini baru pulang?” Tanya memburu tanpa mengizinkan Dirga menghela nafas sejenak. Dirga tertawa kecil melihatku. Entah apa yang lucu sampai membuatnya tertawa. Kami berjalan beriringan melewati pekarangan dan masuk ke dalam rumah diselingi dengan obrolan ringan, tepatnya Dirga yang terus menuduhku penakut. Aku penasaran mengenai apa yang membuatnya meniggalkan acara makan malam begitu saja, tapi aku tidak berani bertanya dan mencari tahu. Aku tidak ingin Dirga melihatku sebagaii orang yang ingin ikut campur dalam urusannya. Setelah mengambilkan segelas s**u seperti apa yang dia inginkan, aku berniat untuk ke kamarku. Aku tidak ingin berlama-lama di ruang tamu bersamanya, karena kupikir dia memiliki sesuatu yang harus ia pikirkan sekarang, melihat eskpresinya yang sedikit berbeda dari biasanya. Namun niatku untuk ke kamar terhalang karena Dirga yang memintaku untuk menemaninya. Sepertinya dia memiliki sesuatu yang inginkan dia bagikan denganku. Ya, aku harus bersiap, bersiap untuk kembali menahan perasaan. Karena hal yang selalu Dirga bahas bersamaku, adalah tentang perempuan yang selama ini dia cintai. Aku merasakan sakit, namun di waktu yang bersamaan aku juga merasa senang. Setidaknya aku memiliki waktu berbincang dengan Dirga dan aku merasa dibutuhkan karena dia yang meminta saranku. “A-apa?? Ailee??” Aku begitu terkejut ketika Dirga mengungkap identitas wanita yang dia cintai. Selama ini, aku hanya terus-terusan mendengar Dirga bercerita perihal perempuan yang dia cintai, namun sudah menjadi milik oranglain. Aku sama sekali tidak menyangka kalau perempuan yang dia maksud adalah Ailee. Sejenak aku merasakan, bagaimana Dirga begitu kuat menahan perasaannya selama ini. Bagaimana tidak, perempuan yang dicintai sedari dulu, bahkan menjadi cinta pertamanya, kini menjadi milik orang yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Aku takjub, terlebih lagi ketika ia mengatakan bahwa ia sudah bisa mengikhlaskan Ailee bersama kakaknya. Bayangkan saja, kamu mencintai orang yang sudah bertunangan dengan kakak kesayanganmu. Bukankah keikhlasannya melepas Ailee saat ini adalah hal yang luarbiasa? Dirga terus bercerita perihal bagaimana ia kesulitan saat Ailee menentukan pilihannya, dan yang dipilihnya adalah Delio. Aku bahkan turut merasakan sakitnya. Dan lagi, Dirga bercerita perihal hubungannya dengan Ailee yang baik-baik saja, bahkan bisa terbilang tengah berbunga-bunga, namun Ailee memutar haluannya dan memilih kakaknya. Dia terdiam sejenak, kemudian melanjutkan menjawab pertanyaanku perihal tanggapan Delio waktu itu. “Kak Delio gak pernah nolak apapun yang Ayah bilang,Eliza. Saat Ailee milih dia, dia juga gak ada pilihan lain selain nurut. Karena pilihan ada pada Ailee saat itu” Jawab Dirga penuh ketegaran. Jujur saja, aku sempat menyalahkan kak Delio. Bagaimana bisa dia merebut kekasih adiknya. Ya, meskipun Ailee yang memilihnya, tapi setidaknya dia bisa menolak demi adiknya. Tapi kemudian aku sadar, bahwa posisi Delio pun tidak baik jika menolak. Hubungan baik Ayahnya dan Ayah Ailee adalah hal utama, dan dia tidak ingin itu menjadi rusak ketika dia menolak. Apa kata Ayah Ailee jika ia menolak pilihan Ailee. Aku menarik nafas dalam. Hubungan mereka ini begitu rumit, mereka saling menyakiti perasaan masing-masing demi melindungi perasaan yang lainnya. Juga menyakiti perasaan orang yang dicintainya, demi melindungi hubungan baik keluarga. Sejenak aku tersadar akan perasaanku. Aku yang sudah memantapkan diri untuk tetap membiarkan perasaanku mengalir pada Dirga, kini ditimpa kebimbangan. Siapa aku yang berani menyukainya, Dirga adalah orang yang hebat, sedang aku? Dan lagi, perempuan yang selama ini dicintai Dirga adalah Ailee. Perempuan dengan tubuh tinggi semampai nan langsing, dibalut dengan kulit putih bersih. Wajah yang mungil dan senyum yang manis. Benar-benar tidak bisa dibandingkan denganku. “Jadi kamu beneran udah ikhlas ngelepas Ailee?” Tanyaku lagi memperjelas. Aku sendiri seperti tidak yakin Dirga bisa ikhlas seperti itu, mengingat Ailee adalah cinta pertamanya dan wanita yang dicintainya begitu lama. Dirga tersenyum kecil sembari mengangguk. Seolah meyakinkanku, bahwa benar dia sudah berhasil keluar dari lingkaran perasaannya yang berkutat disekitar Ailee. “Tapi, meski perasaanku udah ikhlas ngelepas Ailee saat ini, aku tetap saja merasa was-was dan khawatir. Aku takut, kalau suatu hari nanti perasaanku kembali pada Ailee” Aku mengangguk paham. Hal itu mungkin saja terjadi. Setiap hari dia melihat Ailee, bisa saja keihlasannya saat ini hanyalah sementra. Aku terdiam sejenak, kemudian kembali meracaunya ketika ingatanku menyentuh perihal saran yang pernah aku berikan padanya. Aku sakit mengatakannya, tapi aku mencoba realistis sebagai pendengar yang baik untuk memberinya saran. Aku mengesampingkan perasaan pribadiku, dan mencoba memberikan jalan keluar padanya. Aku menyarankan Dirga untuk menemui perempuan lain. Ya, kehadiran orang baru di hati kita, bisa menjadikan kita melupakan pada penghuni lama. Dirga sempat tertawa, karena sebelumnya aku menegur dan menganggap saran untuk mencari perempuan lain itu, salah. Aku sendiripun ikut tertawa, rasanya aku begitu plin plan. Tapi, jika aku berpikir kembali, inilah jalan yang benar. “Kalau begitu bagaimana kalau kamu saja” Kata Dirga berbalik memandangku. “Apanya?” Aku sedikit paham maksud dari perkataan Dirga, tapi aku tidak ingin menyimpulkan sendiri. Lagian tidak mungkin, apa yang ada di pikiranku itu benar. “Kamu saja yang jadi perempuan itu, kamu saja yang ngisi hatiku, biar aku gak balik lagi suka sama Ailee” Apa aku salah dengar? Atau Dirga yang bicara? “Ma-maksud kamu?” Aku begitu gugup mendengar perkataan Dirga, jantungku mulai berdetak tidak karuan. “Maksudku, kamu jadi perempuan yang ngisi hatiku. Ngebuat aku merasakan cinta dan ngebuat aku gak bisa suka sama Ailee dan orang lain lagi. Kamu mau kan ngebantu aku? Ya semacam jadi pacarku gitu” Rasanya sulit sekali mencerna perkataan Dirga. Aku syok karena sama sekali tidak pernah mengira akan mendengar Dirga mengatakan hal seperti itu. gerakan refleks kornea mataku yang melebar, dan mulut yang sedikit menganga. Perlahan suhu tubuhku mulai meningkat, dan lagi menyerang di wajahku. Bisa saja, wajahku sudah memerah seperti udang rebus sekarang. Aku tidak salah dengar kan?? Apa ini pernyataan cinta?? Ah tidak, apa aku sedang bermimpi?? Aku menatap Dirga cukup lama tanpa berkedip dan Dirga pun tidak mengalihkan pandangannya dariku. “Ha ha ha.. Kenapa ekspresi mu begitu??” Tawa Dirga yang tiba-tiba, menyadarkanku dan membuatku yang sedari tadi melongo mulai mengubah ekspresiku. Otot-otot wajahku bahkan serasa sedikit kaku, padahal bukan waktu yang lama aku berdiam dengan ekspresi yang sama. Aku mengalihkan pandanganku, dan menegakkan tubuhku. Pikiranku mulai tidak karuan lagi. Aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana perkataan Dirga. Jika bertanya dari segi perasaanku, jelas tidak alasan bagiku untuk menolak. Perasaan suka yang kumiliki pada Dirga tidak asing lagi, dan rasa nyaman yang aku rasakan saat bersama Dirga jelas membuatku tidak bisa menolak. Tapi lagi, ada beberapa hal yang menjadi pertimbanganku untuk menerima Dirga. Tapi.... Aku tidak bisa membohongi perasaanku akan rasa cinta yang sudah mekar beberapa minggu terakhir ini. Aku kembali menoleh menatap Dirga, dan dia masih saja menatapku dengan senyumnya yang manis. “Haha ekspresimu lucu” Katanya sembari tertawa ringan. “Lu-lucu??” “Iya.. Aku ngebuat kamu kaget ya?” Aku hanya mengangguk pelan. “Haha, maafkan aku Eliza. Aku gak bermaksud ngebuat kamu kaget. Cuman dari tadi, kamu terlalu serius nanggepin ceritaku. Aku cuman gak mau pembahasan masalah pribadiku ngebawa kita dalam obrolan yang menegangkan, jadi aku iseng-iseng intermezzo sebentar” “Intermezzo?” gerakakn refleks dahiku yang mengerut saat kembali bingung dengan apa yang dikatakan Dirga. “Iya, biar kita ngobrolnya jadi santai saja. Maaf kalau candaanku kalau kelewatan” Apa katanya? Candaan? Kata bagian mana yang dia anggap candaan? “Aku gak nyangka kalau kamu sampai kaget begitu dengarnya. Iya sih, kalau aku jadi kamu, aku juga bakal kaget dapat pernyataan absurd dari aku. Maaf maaf, aku gak bermaksud begitu?” Apa pernyataan cintanya itu yang dia maksud sebagai bercanda?? Apa ini?? Aku menatap Dirga lebih dalam dari sebelumnya. Mencoba menerka-nerka melalui ekspresi wajah Dirga. “Kenapa ngeliatin aku seperti itu? Jangan-jangan kamu ngira kalau aku beneran..”... “Ha ha ha..” Tawaku yang canggung memotong ucapan Dirga. “Ya gak lah.. Aku tahu kamu lagi bercanda” Jawabku sambil memperlihatkan senyum lebar. Rasanya sakit sekali, aku seperti baru saja diangkat ke langit ke tujuh lalu dengan seketika di hempaskan turun ke dasar bumi. Aku tidak tahu harus berekspresi bagaimana, yang bisa aku lakukan hanya memasang senyum dan tawa kecil sebagai topeng untuk menutupi ekspresiku yang sebenarnya. “Candaanmu lucu sih, tapi menegangkan” Kataku sambil terus berusaha tertawa menutupi rasa sakitku. “Emh tapi.. Kalau mau dijadiin serius juga gak papa sih..” Cukup Dirga, cukup dengan kata-kata yang begitu membahagiakan bagiku tadi, kamu jadikan candaan. Jangan ada lagi.. Aku tidak mau lagi. Aku tidak tahu, apa aku masih bisa menahan diri dan mempertahankan ekspresi seperti ini jika kamu melanjutkan kata-kata yang kusukai tapi hanya candaan bagimu. “Hahah apaan sih..” Aku mencoba mengalihkan perkataan Dirga. Aku meregangkan tanganku, mencoba tetap bersikap alami meski sebenarnya aku ingin sekali berlari dan berteriak melampiaskan apa yang sesak di dalam hatiku sekarang. “Ah, kamu udah lelah ya..” Kata Dirga yang melihatku meregangkan tangan. Dirga melirik jam digital pada ponselnya. Waktu memang sudah semakin larut. “Hmm.. Udah larut. Cerita udah deh, ayo tidur..” “Ah iya, sudah malam. Kita bisa telat bangun besok kalau gak segera tidur. Kalau gitu aku duluan ya..” “Emhh Eliza..” Aku yang sudah beranjak dari dudukku, kembali menoleh mendengar panggilan Dirga. “Kenapa?” “Makasih ya, kamu udah dengerin ceritaku malam ini. Kamu sampai telat tidur gara-gara aku. Makasih juga saran-sarannya” Kata Dirga diiringi senyumnya yang menambah poin rupawan di wajahnya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi Dirga. Kemudian melanjutkan langkahku menuju kamar. Jujur saja, aku ingin sekali berlari dan segera menghempaskan tubuhku pada tempat tidur. Ingin melepaskan tangisku yang sedari tadi kutahan. Aku berusaha berjalan seperti biasanya, dan airmataku tidak lagi bisa bertahan. Aku menangis bahkan sebelum tiba di kamar tidurku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD