Penyesalan

1352 Words
Jarak kamar dan ruang tengah yang sebelumnya menjadi tempat aku mengobrol panjang kali lebar bersama Dirga, tidaklah jauh. Namun perasaanku yang sedang berkecamuk dan berburu ingin menjauh dari Dirga, membuat jarak tempuh ke kamarku serasa sangat jauh. Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur, sembari menutup wajahku dengan bantal. Tangisku mulai pecah dan aku melampiaskan semua rasa sakit yang aku rasakan. Semakin keras suara yang ingin aku keluarkan, semakin kuat juga aku menekan bantal ke wajahku agar suaraku tidak terdengar oleh Dirga. Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku bisa berharap bahwa apa yang dikatakan Dirga itu benar?? Kenapa aku berharap Dirga serius dengan ucapannya yang seperti itu? Harusnya aku sadar, bahwa perasaan yang kumiliki ini hanyalah perasaan milikku saja yang tidak akan bisa mendapat balasan dari Dirga. Harusnya aku menyadarkan diri, dan tidak berharap banyak. Kata-kata Dirga terus terngiang-ngiang diingatanku, seolah enggan melepasku dari siksaan batin dan perasaanku. Aku juga begitu bodohnya terus merasakan perasaan yang tidak jelas. Aku tidak tahu butuh berapa lama untuk aku bisa menenangkan perasaanku. Yang aku rasa saat ini, hanyalah sakit yang menderu dan membutuhkan pelampiasan. ****** POV Author. Warna kuning sang surya tengah asyik-asyiknya menghempaskan panas ke bumi. Seolah memberi tahu penduduk dari planet ke tiga ini, bahwa dia tidak akan beranjak dari atas sana, bahkan ketika awan berniat menghalanginya. Dirga duduk sembari memainkan jari telunjuknya di ujung gelas berisikan caramel macchiato yang dia pesan sebelumnya. Ia memiliki janji temu dengan Delio di salah satu Cafe. Perlahan, pikirannya kembali bermain pada kejadian semalam, kejadian yang membuatnya ingin memutar waktu dan memperbaiki semuanya. Semalam, ketika mlam semakin larut juga jarum jam di dinding terus berputar sesuai arahnya, Dirga masih saja terjaga. Matanya enggan terpejam dan bekerja sama dengan pikiran pemiliknya agar terus terusik malam ini. “Kenapa aku seperti ini sih? Kok bego banget..” Katanya dengan nada datar dan pandangan kosong. Dia mulai mengutuk dirinya sendiri. Dirga kembali terdiam, ia duduk tersungkur di sofa tanpa beranjak. Sudah satu jam dia duduk sendiri dengan lampu yang sudah ia padamkan. Rasanya enggan sekali beranjak dan menuju kamar, dia masih menikmati kesendiriannya dengan gelap-gelapan di ruang tengah. Sesekali Dirga mencengkram rambutnya karena kesal akan apa yang sudah dia lakukan. Dia menyesali kata-katanya yang seolah tengah mempermainkan pernyataan cintanya pada Eliza. Namun seperti istilah nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah tidak bisa di perbaiki lagi. Rambut yang tak bersalah itu kembali Dirga cengkram kuat-kuat dan mengakhiri ingatannya perihal semalam. “Maaf, kakak telat..” Delio tiba dan langsung mengambil posisi duduk di kursi kosong depan Dirga. “Ah, kakak sudah datang..” Dirga merapikan kembali rambut yang acak-acakn dengan jemarinya. “Kamu kenapa? Berantakan banget” Tanya Delio yang melihat adiknya tampak tak karu-karuan. Delio meraih buku menu dan memesan sebuah minuman sebelum ia siap untuk mendengar keluh kesahnya adiknya siang ini. “Hem kenapa? Kenapa tiba-tiba manggil kakak buat ketemu?” “Ya kenapa? Emang gak boleh ketemu sama kakak?” “Bukannya gitu. Maksud kakak, kenapa tiba-tiba ngajak ketemuannya di Cafe? Biasanya kan dirumah kamu saja atau di rumah kakak saja. Terus, kenapa datang sendiri? Eliza mana? Masa iya kamu tinggal sendirian di rumah” Dirga menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat. “Aku ngajak kakak ketemu disini dan bukan dirumah, karena mau ngebahas soal Eliza. Masa iya Eliza mau aku bawa kesini” Delio tersenyum kecil melihat adiknya yang mengomel setengah mengeluh. Coffe latte pesanan Delio sudah datang. Dia siap mendengar celoteh adiknya sembari menyeruput kopi dengan aroma khas kesukaannya. “Jadi kenapa? Ada apa sama Eliza?” “Aku nembak Eliza semalam” Hampir saja semburan coffe latte yang baru Delio teguk tersembur ke wajah Dirga. Apa yang baru saja Dirga katakan, membuat Delio begitu terkejut. Dirga menatap kakaknya dengan tatapan sedikit kesal. “Udah, muncratin aja..” Kata Dirga dengan wajah masamnya melihat kakaknya yang kesulitan menahan semburan coffee latte. “Ka-kamu serius?” Dirga mengangguk dan kembali memainkan ujung gelas dengan jarinya. “Terus, jawaban Eliza?” Dirga menggeleng dengan wajah pasrahnya. “Eliza nolak kamu??” Dirga kembali menggeleng, sebagai jawaban dari pertanyaan Delio. “Jadi Eliza nerima kamu?” Lagi-lagi Dirga hanya menggeleng, dan itu membuat Delio kebingungan. “Kamu jangan menggeleng saja, terus jawaban Eliza bagaimana? Iya apa gak?” Sepertinya Delio mulai kesal melihat tingkah adiknya. “Aku bego kak” Keluh Dirga dan kembali mengacak rambutnya. “Kenapa baru sadar sekarang? Padahal ‘bego’mu itu sudah kamu bawa sedari lahir” Dirga tidak menghiraukan ledekan kakaknya, pikirannya sudah terlanjur terfokus akan apa yang dia sesali sekarang. “Aku bilang sama Eliza kalau aku cuman bercanda” “Bercanda? Bercanda apa?” Dirga yang sedari tadi menunduk dengan wajah masamnya, perlahan mengangkat kepalanya dan menatap wajahnya kakaknya yang terlihat penasaran bercampur kesal. “Aku bilang sama Eliza, kalau aku cuman bercanda nembak dia” “WHATT?? Are you crazy, Dirga?? Kamu kerasukan apa sampai ngomong kayak gitu??” “Aku juga gak tahu kak..” Keluh Dirga dengan nafas yang berat. “Kamu kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu? Kakak tahu kamu gugup, tapi ya masa karena gugup mu itu sampai keluar bahasa kayak gitu. Kamu ini bener-bener..”... “Kakak bisa ngomong kayak gitu, karena bukan kakak di posisiku” Kata Dirga memotong ucapan kakaknya dengan memasang wajah masamnya. “Bukan kakak yang liat gimana ekspresi Eliza waktu aku bilang kayak gitu. Diaa.... “ Dirga tidak melanjutkan ucapannya, dia kembali tertunduk dan menjambak rambutnya. Delio hanya menghela nafas panjang melihat tingkah adiknya. “Ekspresi Eliza saat aku nembak dia, dia kaget banget” “Cewek kaget kalau lagi di tembak itu kan wajar Dirga...” “Tapi kagetnya Eliza tuh lain kak. Aku gak kepikiran hal lain pas liat ekspresi Eliza. Aku yakin, Eliza pasti ketawa kalau tahu aku serius nembak dia, dan dia pasti ngejek aku terus” “Ya terus kenapa? Eliza gak mungkin ngebahas hal itu kalau sama orang lain. Kamu sama Eliza kan sudah biasa ledek-ledekkan begitu” “Iya, kalau Eliza hanya meledekku. Tapi bagaimana kalau semisal Eliza merasa risih? Eliza jadi menjauh dan kesal sama aku. Aku juga akan ngebuat Eliza dalam posisi yang tidak nyaman kak. Dia tinggal di rumahku, pasti dia jadi gak enak sama aku” “Kamu kenapa berpikiran begitu? Kan kita tidak tahu bagaimana perasaan Eliza yang sebenarnya. Kalau dia juga suka sama kamu, dia gak mungkin ngerasa kayak hal yang kamu pikirkan” “Aku gak berpikiran kalau Eliza suka sama aku. Dilihat dari ekspresinya pun, dia bukannya keliatan senang saat aku nembak, malah kaget dan natap aku terus-terusan. Setengah dari perasaannya pasti illfeel sama aku” Keluh Dirga dengan wajah lesuh. “Sejak kapan kamu jadi suka menyimpulkan sendiri seperti itu?” “Sejak aku jatuh cinta. Kakak yang gak pernah jatuh cinta, gak mungkin ngerti. Aku selalu over thinking sama orang yang aku suka. Kakak nanti kalau jatuh cinta juga, pasti ngerasain hal yang sama kayak aku” Delio hanya tersenyum mendengar perkataan Dirga, dan kembali menyeruput coffe latte miliknya. “Iya, anggap saja aku tidak pernah jatuh cinta Dirga, karena akan rumit jika kamu tahu. Kamu tidak mungkin tidak penasaran dengan wanita yang pernah membuat kakakmu ini merasa berbunga-bunga. Dan semakin rumit lagi jika kamu tahu siapa wanita itu” Desiran suara hati Delio yang membuatnya kembali mengingat wanita yang pernah menjadi spesial di hatinya. “Sekarang aku harus gimana kak?” Rengek Dirga yang tengah ditimpah galau. “Hemm.. Jalani saja hari-harimu seperti biasanya sama Eliza. Sebisamu menganggap bahwa kamu tidak pernah mengatakan hal-hal seperti pernyataan cinta itu, sembari mencari tahu bagaiamana pandangan Eliza sama kamu” “Bagaimana aku tahu kak?” “Kalian kan semakin akrab sekarang. Kamu bisa memperhatikan gerak gerik Eliza, dan membaca pikirannya melalui ekspresinya” “Gimana aku mau ngebaca eskpresinya, kalau jantungku sudah keburu berdetak gak karuan kalau natap Eliza” Delio tertawa kecil mendengar pengakuan adiknya. “Ya pokoknya, berusaha saja bertingkah se netral yang kamu bisa. Cepat atau lambat kamu pasti tahu bagaimana perasaan Eliza sama kamu. Hanya saja jangan terlalu lama nebaknya, Eliza bisa kecantol sama cowok lain nanti” Hari mulai berganti sore, sedang Delio masih menjadi pendengar setia akan keluh kesah adiknya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD