Luka Ailee

1140 Words
 Tiga hari berlalu semenjak Dirga mengatakan pada Eliza, bahwa pernyataan cinta yang dia nyatakan hanyalah candaan. Sehari setelah itu, Dirga merasakan sedikit perubahan dari Eliza, dan itu membuatnya semakin kesal pada diri sendiri dan lagi-lagi mengutuk dirinya. Namun perubahan Eliza yang dia rasakan itu tidaklah berlangsung lama, pagi tadi Eliza sudah kembali seperti semula. Eliza sudah kembali membangunkannya seperti biasanya, dan kembali mengomeli Dirga tiap kali ada hal yang menurutnya salah, Dirga lakukan. Eliza sendiri jelas tidak bisa serta merta membuat perasaannya menjadi baik-baik saja setelah mendapat pernyataan cinta dari Dirga, yang sebelumnya membuatnya begitu senang dan kemudian berubah menjadi luka ketika Dirga mengatakan bahwa itu hanya candaan. Namun Eliza sadar, bahwa hanya dia yang terlalu terbawa perasaan, sehingga Eliza mencoba untuk kembali seperti Eliza yang sebelumnya meski itu sangat sulit. Dirga duduk di kursi penonton lapangan basket. Senyum manis melingkar di bibirnya tatkala pandangannya menemui Eliza yang tengah bersorak ria di seberang sana bersama teman-temannya, meneriaki pemain basket yang asyik bertanding. Cukup dengan melihat Eliza tertawa saja, Dirga sudah merasa bahagia. Ya, sangat terlihat bagaimana Dirga tengah kasmaran sekarang. “Hey...” Seseorang menepuk pundak Dirga, dan itu membuat konsentrasinya menatap Eliza jadi buyar. Dirga menoleh dan melihat sosok Ailee yang tersenyum ramah sembari mengambil posisi duduk disamping Dirga. “Tumben nonton sendiri?” Tanya Ailee. “Hehehe lagi kepengen saja” Jawab Dirga masih beriring dengan senyum manisnya. Ailee yang mengenal Dirga sedari kecil, jelas merasakan bahwa ada yang berubah dari Dirga. Raut wajahnya yang terlihat ceria dan merona, membuat Ailee berusaha menebak, apa kiranya yang membuat laki-laki bertubuh tinggi itu sampai seperti ini. “Kamu gak ikut main?” Dirga menggeleng, sebagai jawaban dari pertanyaan Ailee. “Aku lagi males” “Tumben, biasanya kamu doyan banget main di jam istirahat” “Aku ada aktifitas yang lebih menyenangkan sekarang” Kata Dirga berbalik menatap Ailee sejenak, dengan senyum yang semakin merekah. Dahi mulus milik Ailee berkerut, sebuah gerakan refleks dari dia yang tidak cukup mengerti dengan apa yang Dirga katakan. “Aktifitas menyenangkan?” Dirga mengangguk. “Apa aktifitas itu yang ngebuat mukamu merona seperti sekarang?” Wajah Dirga yang sedari tadi dihiasi dengan senyum manisnya, seketika berubah mendengar pertanyaan Ailee. “Kentara banget ya?” Tanya Dirga sembari memegangi wajahnya. Ailee hanya mengangguk dan masih kebingungan. “Ck, aku bisa-bisa ketahuan kalau seperti ini” “Ketahuan apa?” Ailee mulai penasaran. Dirga bukannya menjawab pertanyaan Ailee, dia malah tersenyum cengengesan tidak jelas. “Kamu kenapa? Kamu lagi ngelakuin aktifitas menyenangkan apa? Perasaan kamu duduk-duduk saja disini. Kamu takut ketahuan apa?” Pertanyaan Ailee menyerbu Dirga, dengan nada yang sedikit memaksa meminta jawaban segera. Dirga tertawa kecil mendapat pertanyaan beruntun dari Ailee. “Aku gak tahu, kapan terakhir kali aku ngerasain hal seperti ini. Maybe... sekitar 5 tahun yang lalu mungkin” “Perasaan apa? Hubungannya sama aktifitas menyenangkan apa?” “Kasmaran” Jawab Dirga menoleh menatap Ailee dengan tatapannya yang berbinar-binar. “Kas-kasmaran? Kamu lagi kasmaran?” Ailee memperjelas apa yang baru saja ditangkap oleh indra pendengarannya. Dirga mengangguk dengan senyumnya yang semakin mengembang, memperlihatkan bagaimana dia yang sedang berbunga-bunga sekarang. Ya, sebuah perasaan yang tidak bisa dia sembunyikan. Dirga dengan senyuman dan rasa bahagianya, bertolak belakang dengan apa yang dirasakan Ailee. Jawaban Dirga seperti sebuah boomerang bagi Ailee. Bagaimana tidak, laki-laki yang dicintainya kini sedang merasakan jatuh cinta pada orang lain. Sejenak Ailee terdiam, perasaannya mulai bergemuruh dengan pikiran yang tidak tenang. “Sa-sama siapa? Kamu suka sama siapa sekarang?” Ailee mencoba memberanikan diri untuk bertanya, meski ia tidak memiliki kesiapan untuk mendengar nama perempuan yang sudah merebut hati Dirga, yang dulu jadi miliknya. “Dia..” Jawab Dirga sembari mengarahkan pandangannya pada Eliza yang sedang seru-seruan bersama teman-temannya menonton lomba basket. Dirga yang sudah begitu dekat dengan Ailee, dan jelas menganggap Ailee bukan orang lain lagi, menjawab tanpa ragu. Ailee yang menjadi tunangan kakaknya sekarang, dia percayai bisa menjaga mulutnya untuk tidak memberi tahu orang lain perihal perasaannya pada Eliza. Makin jelas saja Ailee memandang Eliza dengan perasaan tak suka. Sedari awal ia meihat Eliza, sudah ada rasa was-was akan Eliza yang bisa saja merembut tempatnya di hati Dirga. Meski perasaannya sempat tenang saat Dirga mengaku masih begitu mencintainya dulu, tapi perasaan tak senang kini kembali lagi setelah mendengar pengakuan perasaan Dirga. “Aku bersyukur, aku bisa ngerasain hal yang aku inginkan lebih cepat. Seperti yang aku bilang kemarin, kalau aku bakal ngehadirin orang lain di hatiku biar aku bisa ikhlas ngelepas kamu sama kak Delio, dan sekarang orang itu sudah ada” Jelas Dirga dengan masih memperlihatkan rona wajahnya yang terlihat bahagia. “Ja-jadi sekarang kamu udah gak suka lagi sama aku?” Dirga balik menatap Ailee yang tidak lagi bisa menyembunyikan ekspresinya. “Aku gak mungkin gak suka sama kamu Ailee. Kenapa ekspresimu seperti itu? Aku tetap bakalan suka sama kamu kok, kamu kan sahabatku dari kecil” Makin deras saja gemuruh di hati Ailee mendengar kata ‘Sahabat’ dari bibir Dirga sebagai kata untuk menggambarkan hubungan mereka. Selama ini Dirga selalu mengatakan bahwa dirinya adalah Cinta sejati, cinta sehidup dan semati. Tapi sekarang, kata cinta itu sudah telah berubah. “Sedari kecil aku sudah sama kamu, aku gak bisa lagi gak suka sama kamu. Meskipun perasaan sukaku sekarang berbeda, tapi kamu tetap istimewa buat aku” Ailee hanya terdiam mendengar perkataan Dirga. Jauh di relung hatinya, ia menyimpan penyesalan karena dari awal tidak mengatakan kebenarannya pada Dirga. Rasa sakit yang menderunya seolah tiada batas dan terus menerus. “Aku akhirnya gak bakal ngegangguin kamu lagi, atau ngebuat kamu dalam keadaan sulit. Aku gak akan jadi penghalang kebahagiaan kamu lagi sama kak Delio” Makin sakit saja perasaan Ailee mendengar penuturan Dirga. Perlahan matanya mulai berkaca-kaca, namun ia masih mengumpulkan semua kemampuannya untuk menahan airmatanya agar tidak tumpah. Kalau saja Dirga saat ini adalah Dirga yang dulu, jelas Dirga akan merasakan perubahan mimik Ailee dan menyadari butiran-butiran airmata di pelupuk mata Ailee, meski belum tumpah. Namun, Dirga yang peka seperti itu sudah tidak ada lagi, dia sudah menjadi pecinta yang hanya memperhatikan perempuan idamannya saat ini. Bel tanda jam istirahat sudah berbunyi, Dirga yang sedari tadi bercerita dengan terus memperhatikan Eliza dari kejauhan tanpa menghiraukan dengan jelas Ailee disampingnya, mulai beranjak. “Jam istirahat rasanya singkat sekali. Padahal aku selalu sama dia kalau di rumah, tapi tetap saja rasanya mau ngeliat dia terus” Keluh Dirga. Ailee yang mendengarnya semakin membuat hatinya terluka. “Ayo ke kelas..” Ajak Dirga sembari beranjak. “Kamu duluan saja, aku mau ke toilet sebentar” Jawab Ailee berbohong. Dia harus menenangkan perasaannya, setidaknya lima menit saja agar ia bisa kembali ke kelas dengan mata yang tidak berkaca-kaca. “Yaudah kalau gitu, aku duluan ya..” Dirga beranjak, meninggalkan Ailee yang masih duduk di kursi penonton. Airmata yang sedari tadi ditahannya, akhirnya tumpah juga. Isak tangisnya mulai terdengar, meski ia berusaha menahannya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD