Ke kepoan Dirga

2023 Words
Entah berapa lama Eliza tertidur, Dirga yang awalnya berusaha membuat Eliza terbangun akhirnya menyerah setelah berkali-kali mencoba membangunkannya tapi tidak juga berhasil. Dirga hanya mencoba mengubah posisi Eliza menjadi lebih normal dibandingkan sebelumnya. Membiarkan posisi tangan Eliza yang terus melingkar dipinggangnya akan membuat suhu di wajahnya semakin meningkat dan detak jantungnya yang semakin tidak beraturan dan itu membuatnya kesulitan bernafas dengan normal. "Hemm...." Eliza berdehem menandakan dia yang mulai sadar dari tidurnya. Dirga tetap terdiam, dia sendiri bingung harus memasang ekspresi seperti apa dan dan harus bagaimana. "Eh..." Eliza menegakkan duduknya setelah menyandari kepalanya yang bersandar dengan nyaman di bahu milik Dirga. "Sudah bangun?" "Iya.. Kamu kok disini?" Tanya Eliza kebingungan sembari melihat kearah posisi duduk Dirga sebelumnya. Kenapa aku disini? Aku sudah menyelamatkan kepalanya dan dia tanya kenapa aku disini? Dirga menatap lekat wajah Eliza, ada rasa kesal dihatinya mengingat bagaimana dia berusaha sebisanya agar benturan tidak terjadi, namun Eliza bertanya dengan tatapannya tanpa rasa bersalah. Ya, Dirga merasa wajar dengan pertanyaan Eliza, mengingat Eliza yang sedang tertidur dan tidak menyadari apa saja yang terjadi, namun tetap saja Dirga merasa kesal. Terlebih lagi suhu di wajahnya yang terus meningkat tiap mengingat bagaimana Eliza memeluknya tadi. "A apa??" Eliza kebingungan mendapat respon tatapan dengan sorot mata yang seolah ingin menerkamnya. "Sepertinya tidurmu nyenyak sekali, sampai tidak sadar ngejadiin bahuku sebagai bantal.." "Ya kamu, ngapain juga pindah kesini, sebelumnya kan duduk disana.." Eliza kembali mengarahkan pandangannya pada posisi Dirga sebelumnya. "Kamu pikir, kamu bisa bangun dengan sehat seperti sekarang ini kalau aku tetap disitu?" Tunjuk Dirga pada tempat dimana dia duduk sebelumnya. Eliza hanya menatap Dirga dengan kebingungan, tidak mengerti dengan apa yang Dirga maksud. "Kamu ini, memangnya setiap tidur seperti ini? Bahkan saat gajah lewat, kamu juga gak sadar-sadar" Gerutu Dirga. Eliza hanya menatap Dirga dengan tatapan kesal, baru saja dia tersadar dari tidurnya dan Dirga sudah mulai melontarkan kata-kata yang menyebalkan baginya. "Memangnya kenapa??" "Tidak, sana cuci mukamu. Ilermu bertebaran membentuk pulau di pipimu.." Eliza dengan cepat menyentuh pipinya, memeriksa benar tidaknya yang dikatakan Dirga. Dirga beranjak meninggalkan Eliza. "Mau kemana?" "Merenggangkan badan. Badanku kaku semua karena jadi sandaranmu.." Eliza hanya mengikuti langkah kaki Dirga keluar dari kamarnya. . . POV Dirga. Aku tidak bisa lagi melangkah dengan santai, langkahku kupercepat setelah keluar dari kamar menuju dapur. Segelas air kuteguk dengan cepat, sekiranya itu bisa menghilangkan rasa tegangku dan menururunkan panasnya suhu di wajahku, juga berharap dengan segelas air itu aku bisa membuat detak jantungku kembali normal seperti sebelumnya. Wajah polos Eliza yang tertidur terus-terus terbayang. Aku tahu anak itu sangat imut karena tubuhnya yang kecil, tapi aku tidak pernah menyadari kalau wajah imutnya itu bisa berformula menjadi manis saat tertidur dengan tenang. Ah, dia terlalu bawel selama ini sampai aku tidak bisa melihat sisi manisnya yang sepert ini. "Arghh Dirga, hanya karena sandaran seperti itu, kamu sampai uring-uringan begini?? Ah bodoh.." Aku tidak merasakan sakit meski sekarang aku sedang menjambak rambutku dengan kuat. Sisa air dalam gelas, kuteguk sampai habis. Namun sampai air itu tidak tersisa lagi, tetap saja jantung dan suhu di pipiku tidak bisa dikondisikan. Kutarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan perasaanku sebelum kembali kekamar. Kulirik jam yang berada dalam ruangan tengah bersampingan dengan fotoku bersama Ayah dan kak Delio yang masih terjangkau oleh pandanganku. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. "Eliza pasti sudah kembali ke kamarnya, aku harus bersemedi untuk menenangkan perasaanku.." Sambil melangkah pelan aku menuju kamar. "Ck, aku ini seperti laki-laki yang tidak punya semacam harga diri, masa hanya karena perempuan bersandar di bahuku, aku sampai kepikiran begini" Langkahku yang sudah mantap kembali ke kamar setelah sebelumnya berusaha menenangkan perasaan dengan segelas air, tertahan lagi di pintu kamar saat pandanganku kembali menangkap sosok Eliza yang belum beranjak dari kamarku. "Ck, kenapa masih disini sih?" Jantungku kembali berdetak tidak karuan. Eliza yang merasakan kehadiranku, menoleh dan menatapku sejenak dan kembali merapikan buku-buku diatas meja. "Terlambat juga kalau aku mau putar balik. Eliza sudah terlanjur melihatku, aku bisa keliatan aneh kalau keluar lagi. Lagian ini sudah jam sepuluh, kenapa dia belum kembali ke kamarnya sih??" Karena sudah terlanjur kepergok, aku akhirnya meneruskan langkahku masuk ke kamar, meski aku sangat ingin putar arah dan berlari. Aku berusaha memperlihatkan ekspresi setenang mungkin, aku tidak mau Eliza lagi-lagi menggodaku kalau dia tahu aku seperti ini hanya karena dia yang bersandar di pundakku. "Kenapa masih disini? Mau lanjut tidur disini??" Aku menggodanya lebih dulu agar kesannya aku lebih santai saat ini. Meski jantungku sudah bergemuruh nyaris membuatku sulit bernafas dengan baik. Eliza hanya mengangkat kepalanya, menatapku sejenak dan kembali mengatur buku-buku diatas meja hingga rapi tanpa sepatah kata. "Dia diam saja?" Eliza yang kukenal sebelumnya tidak akan diam jika aku mengeluarkan kata-kata yang sangat jelas sedang menggodanya, dan lagi aku sudah berusaha menunjukkan ekspresiku agar terlihat lebih alami dan santai. "Anak ini pasti masih mengantuk sampai tidak menggubrisku.." Aku meneruskan langkahku dan duduk di sofa samping tempat tidur sembari memainkan ponselku. Sesekali aku melirk Eliza yang masih sibuk mengatur buku dan beberapa alat tulis yang digunakan dalam belajar tadi. "Aku kembali ke kamar dulu.." Suara Eliza terdengar setelah cukup lama aku berada diruangan yang sama berdua. Rasanya sedikit aneh Eliza tidak menanggapiku ketika aku menggodanya. Entah dia yang masih dalam suasana mengantuk atau karena hal lain sampai dia diam saja. Atau mungkin karena kesadarannya yang memang belum kembali seutuhnya setelah dia tertidur tadi. Aku melangkahkan kakiku dengan berat menuju tempat tidur yang diselimuti badcover dengan warna abu-abu muda bermotif abstrak dengan warna biru tua. Kuluruskan tulang punggung yang kakunya baru terasa sekarang. Sebelumnya, akibat rasa gugup dan sedikit malu membuat rasa nyeri dipunggung menjadi tak terasa. Duduk dengan sedikit miring untuk menyeleraskan tubuh Eliza yang cukup pendek dibandingkan denganku, benar-benar membuat tubuhku menjadi kaku. Bayangan wajah Eliza kembali bermain dipikiranku. "Ck, aku ini kenapa sih?? Lupakan lupakan???" Aku tahu, dengan menepuk-nepuk bahkan dengan memberikan tamparan kecil diwajahku pun, itu tidak akan bisa membuatku lupa pada wajah manis Eliza yang memberikan hipnotis padaku sampai aku kesulitan melupakannya. Aku memejamkan mataku, berusaha terlelap meski dengan sedikit paksaan. Namun mata yang menjadi milikku ini, entah mengapa sangat tidak ingin menurut. ***** Aku tidak tahu, seberapa lama semalam mataku tetap bertahan dan entah sampai jam berapa aku terjaga. Yang aku tahu, aku akhirnya tertidur dan terbangun dengan rasa kantuk yang berusaha aku kalahkan. Kasur serasa begitu posesif pagi ini, sangat menekanku untuk tetap berbaring dan kembali tertidur. Namun aku masih sangat sadar, aku harus terbangun dan bersiap untuk berangkat sekolah pagi ini. Dengan sangat malas, aku bangun dan duduk sembari mengumpulkan kesadaranku yang serasa terbang melayang-layang di udara. Berjalan dengan malas menuju kamar mandi, sekiranya rasa ngantukku bisa sedikit terusir dengan air yang akan kuguyur dari atas kepala hingga membasahi semua tubuhku. "APAAA????" Rasa ngantuk yang sedari tadi masih menggantung di ujung-ujung mataku seketika rontok dengan mataku yang terbuka dengan lebar, saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 07:05. Aku tidak tahu seberapa lama aku mandi, yang aku rasa tidak cukup lama sampai bisa membuatku terlambat begini. Aku hanya menyiram kepalaku agar rasa kantukku bisa hilang lebih cepat dan aku tahu itu tidak memakan waktu yang lama. Aku berjalan dengan cepat menuju lemari, air dari rambutku terus-terusan menetes membasahi beberapa bagian lantai dalam kamarku. Jelas sekali, bukan waktu mandiku yang lama, tapi aku yang terbangun di waktu yang memang sudah tidak pagi lagi dengan kata lain, aku terlambat bangun pagi. "Ck, ini gara-gara aku susah tidur semalam, akhirnya kesiangan begini" Gerutuku kesal. Entah kenapa, semakin terburu-buru, semakin banyak pula halangan. Seragam yang sudah aku kenakan harus aku lepas dan menggantinya lagi. Air dari rambutku terus-terusan menetes membuat seragam bagian belakangku menjadi basah. "Eliza ini kenapa gak ngebangunin aku sih.. Biasanya juga dia ributnya seperti orang demo di depan kamar kalau tahu aku gak keluar kamar dari jam 6 pagi" Gerutuku sambil berjalan menuju kamarnya, berniat untuk meminjam hairdryer milik Eliza. Langkah kakiku kupercepat mengingat waktu yang sudah semakin siang. Aku bisa saja terlambat tiba di sekolah, atau kemungkinan yang paling parah adalah, aku dan Eliza bisa ketinggalan bus pagi ini. Ah, andaikan saja Eliza tidak memiliki trauma dan bisa tahan berada dalam mobil. Di waktu yang sudah mepet seperti ini aku masih bisa memastikan untuk tiba di sekolah tepat waktu jika menggunakan mobilku. "Hey Eliza.." Aku mengetuk pintu kamar milik Eliza dengan tidak sabaran. "Iya.." "Pinjamkan aku hairdryermu!" "Tunggu.." "Ck, cepatt..." Kataku dengan tidak sabaran. "Elizaa.. Cepat.." "Ck, sebentar.." Terdengar jawaban Eliza dengan nada yang mulai kesal. "Eli.." Belum sampai ucapanku, Eliza sudah mendongkakkan kepalanya dari balik pintu sembari menahan pintu dengan sebelah tangannya. Entah apa yang dia sembunyikan di dalam kamarnya sampai dia menahan pintu sebisanya agar pandanganku terhalang. "Kenapa?" Tanyaku bingung. Eliza tidak pernah menutup pintu kamarnya jika aku datang. Tingkahnya yang berusaha menghalangi pandanganku itu membuatku curiga. "A apanya yang kenapa??" Eliza yang menjawab pertanyaanku dengan terbata-bata semakin membuatku penasaran. Aku sampai lupa kalau hari semakin siang. "Ada yang kamu sembunyikan di kamarmu??" Tanyaku sambil berusaha melihat kedalam kamar Eliza. "Tidak ada.." "Bohong.. Kalau tidak ada, terus kenapa kam.." "Ck, kamu kesini butuh sesuatu atau memang hanya mau menyelidiki kamarku??" Tanya Eliza memotong perkataanku. Pertanyaan Eliza mengingatkanku akan tujuan awalku datang ke kamarnya. "Ah iya.. Aku mau pinjam hairdryer" "Waktu sudah mepet, sempat-sempatnya keramas.." Gerutu Eliza menatapku dengan kesal. "Kamu sudah tahu siang, kenapa aku gak dibangungin.." "Ya karena aku juga telat bangun. Lagian kalau sudah tahu telat, kenapa pake acara keramas segala.." "Ahh cerewet.. Ambilkan hairdryermu.." Eliza hanya menatapku kesal. Eliza kembali menutup pintunya, yang membuatku semakin penasaran dengan apa yang dia sembunyikan dalam kamarnya. "Aku harus ngambil kesempat buat ngeliat apa yang dia sembunyikan dalam kamarnya saat dia buka pintu untuk ngasih aku hairdryer-nya nanti" Sebuah rencana klise yang aku susun demi memenuhi rasa ingin tahuku Aku menunggu Eliza kembali membuka pintu kamarnya, berusaha mengambil kesempatan untuk bisa melihat kedalam kamar Eliza. Aku dengan cepat mengarahkan mataku, berusaha melihat sesuatu yang disembunyikan Eliza di dalam kamarnya saat Eliza mulai membuka pintu kamarnya, tapi Eliza tidak kalah sigapnya berusaha menahanku. "Jangan lihaaatt..." Eliza yang lebih pendek dariku berusaha menutup mataku dengan kedua tangannya sambil berjinjit agar bisa meraihku. Hairdryer yang dipegangnya terlepas dan jatuh tepat diatas kakiku. "Auuu..." Jeritku spontan saat rasa nyeri mulai terasa diujung-ujung jari kakiku yang tertimpa hairdryer. "Kamu tidak apa-apa?" "Ka kakiku..." Aku duduk dan mulai memegangi kakiku. "Coba aku lihat.." Eliza terlihat begitu khawatir, dan lagi dia yang seperti itu seperti itu kembali membuatku merasa terhipnotis. Entah ini sisa perasaan semalam yang tidak aku mengerti ataukah perasaan baru yang muncul lagi setelah melihat Eliza yang begitu mengkhawatirkanku hanya karena rasa sakit yang tidak seberapa itu pada kakiku. "Sakit ya??" Tanya Eliza mengalihkan perhatiannya dari kakiku yang tampak memerah setelah tertimpa hairdryer dan menatapku. Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku yang sedari tadi menatapnya. "I iya.." "Maaf.." Ekspresi khawatir Eliza masih tergambar jelas di wajahnya. Jantungku mulai berdetak tidak karuan lagi, pipiku mulai terasa panas lagi. "Aku ini kenapa sih akhir-akhir ini? Apa aku sedang sakit? Aku suka demam mendadak dan jantungku berdetak tidak karuan. Apa ini gejala aritmia?" Batinku berkomentar sepuasnya, mencocokkan diagnosa abal-abalan sesuai dengan kondisi yang kurasakan saat ini. "La lagian.. Kamu kenapa ngejatuhin hairdryer-nya sih.." Aku mencoba mengalihkan perasaanku dengan membahas hal yang menyebabkan kakiku memerah saat ini. "Ya kamu juga, kan aku sudah bilang jangan liat. Kepalamu masih saja melongo-longo.." "Ya karena aku curiga kamu nyembunyiin sesuatu di dalam kamarmu.." "Gak ada yang aku sembunyiin.." Aku dan Eliza mulai berdebat lagi. Ya, tiada hari tanpa perdebatan diantara kami. "Terus kenapa seperti itu kalau gak ada yang disembunyiin.." "I itu... I itu karena.." "Karena apa?" Tanyaku mendesaknya. "Karenaa..." Eliza terlihat ragu-ragu. "Tuh kan.. Kamu pasti menyembunyikan sesuatu.." "Aku bilang gak ada.." "Terus??" "A aku cuman lagi.. Nyiapin pem pembalutku.." Wajah Eliza seketika memerah, aku tahu dia cukup malu untuk mengatakan ini di depanku. Aku terdiam. Ya, aku juga sedikit malu mendengarnya. Aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya yang terlihat semakin imut jika sedang malu seperti sekarang. "Ahh sana kembali kekamarmu.." Eliza meraih hairdryer dan memberikan padaku. "Cepat keringkan rambutmu dan bersiap-siap. Kita bisa terlambat nanti.." Eliza beranjak masuk kedalam kamarnya diringi dengan suara pintu kamar yang tertutup dengan sedikit keras. Aku terdiam ditempatku sejenak. Sedikit menyesali rasa ingin tahuku yang berlebihan sampai membuatnya merasa malu seperti itu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD