Guru Dirga (2)

1030 Words
Dirga dengan kecerdasan yang terbilang diatas rata-rata mulai berusaha memberikan penjelasan ulang pada Eliza yang entah mengapa tidak mampu mengerti dengan penjelasan Guru sebelumnya. Keduanya mulai larut dan fokus agar kegiatan ajar mengajar bisa berjalan dengan baik. "Ini untuk data tunggal, gampang aja sih rumusnya" Dirga mengambil selembar kertas, memberi penjelasan sambil menulis agar Eliza bisa lebih muda mengerti. "X stret yang berarti rata-rata, sama dengan X1 dijumlah dengan X2 dijumlah dengan X3 dan seterusnya. Kamu tahu kan X1, X2 itu apa?" Tanya Dirga menatap Eliza. "Datanya kan?" Eliza mengangkat wajahnya menatap Dirga, berharap apa yang dia jawab itu benar. "Yaps betul. Terus dibagi dengan N. N disini adalah jumlah seluruh frekuensi" "Gitu doang?" "Lah terus mau bagaimana lagi?" "Perasaan waktu dijelaskan tadi ada tanda-tanda aneh yang di jelasin sama guru.." "Tanda apaan?" Dirga kebingungan, tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Eliza. "Begini.." Eliza menulis sebuah tanda signa. "Ck.. Itu rumus lainnya Eliza markonah. Kamu ini gak tidur kan pas guru lagi ngejelasin?" Seperti biasanya, akan ada kata-kata hujatan dengan sedikit candaan yang Dirga lontarkan tiap kali mengajari Eliza. Eliza hanya menatap Dirga, memperlihatkan ekspresinya bagaimana dia tidak mengerti dengan apa yang Dirga maksud. Dirga menarik nafas lebih dalam. Tingkat kemampuan Eliza dalam belajar membuatnya nyaris menyerah. Meski sebenarnya bukan Eliza yang kurang mampu menyerap pembelajaran, melainkan Dirga yang terlalu mudah menyerap apapun yang di ajarkan padanya. "Nih ya.. Aku tuliskan lagi.." Dirga kembali menulis dibagian lain dari kertas tersebut, melanjutkan penjelasan dari materi yang sebelumnya. "Ini itu ada rumus lainnya. X stret yang berarti rata-rata, sama dengan signa Xi yang berati ini itu semua jumlah dari X1, X2 dan seterusnya. Kemudian di bagi N, jumlah seluruh frekuensi.." "Oh jadi ini sama aja, cuman ini biar nulisnya praktisnya jadi dibuat satu tanda signa ini saja?" "Ya begitu nona Eliza" "Oh ha ha ha, aku ngerti sekarang.." "Harusnya kamu udah ngerti sedari tadi siang waktu guru menjelaskan.." "He he gak apa aku kurang ngerti sama penjelasan guru, kan ada kamu dirumah" Eliza menyengir, memperlihatkan bagaimana dia sangat bergantung pada Dirga masalah penjelasan. Dirga memukul pelan kening Eliza dengan pulpen yang dipegangnya. "Makanya, waktu pembagian otak, jangan keluyuran.." "Udah, gak usah ngehujat. Lanjut lagi.." "Besok-besok, itu buku dibakar terus abunya di seduh, ditambah madu untuk memberi cita rasa yang nikmat, minum dengan satu kali tegukan. Dengan begitu, semua materi dalam buku itu bisa terserap oleh otak.." Dirga mulai ngawur. "Aku tahu kalau aku bodoh, tapi aku gak sebodoh itu untuk percaya sama kata-katamu barusan.." Dengus Eliza. "Udah lanjut lagi.." Dirga hanya tertawa kecil mendengar perkataan Eliza. Dirga kembali melanjutkan menjelaskan materi berikutnya, berusaha membuat Eliza mengerti. Cukup lama Dirga menjelaskan, sembari terus menulis dikertas memberi contoh-contoh soal agar Eliza lebih mudah mengerti. "Nah, data tunggal sudah selesai. Ini mau dilanjut bahas ke data kelompok atau gimana?" Tanya Dirga mengangkat pandangannya yang sedari tadi hanya fokus pada buku paket dan kertas yang ditulisnya. "Lah??" Eliza yang sedari tadi di beri penjelasan dari apa yang ingin dia pelajari ternyata sudah tidak dalam kondisi sadar lagi. Dengan tangan yang diletakkan di dagunya sembari menahan kepalanya, Eliza sudah tertidur. "Ck, anak ini.. Bagaimana dia bisa pintar kalau sambil belajar saja ketiduran.." Gerutu Dirga kesal. "Lagian bagaimana caranya nih anak bisa tidur duduk begini?" Dirga cukup kebingungan melihat Eliza yang bisa terlelap sambil duduk, hanya dengan bantuan tangannya sendiri untuk menahan kepalanya. Dirga memandangi wajah Eliza. Meski sudah sangat sering Eliza belajar pada Dirga, tapi ini adalah kali pertama Eliza sampai ketiduran. "Apa semembosankan ini pelajaran matematika buatmu, sampai membuatmu ketiduran hah??" Tanya Dirga tanpa mengalihkan pandangannya dari Eliza. Mengajak Eliza berbicara meski dia tahu, tak akan ada respon balik dari Eliza, bahkan sekedar mendengar apa yang dia katakan pun, Eliza tidak bisa. Entah apa yang ada di wajah Eliza, hingga membuat Dirga tidak bosan memandang wajah dari pemilik yang sedang terlelap itu. "Dia cukup manis kalau tertidur, setidaknya tidak memasang wajah cemberut atau kesal. Juga tidak mengeluarkan omelannya yang berderet seperti unsur periodik" Eliza tertidur hanya dengan bantuan tangannya untuk menyanggah kepalanya, perlahan semakin terlelap dan semakin menurun juga kemampuan tangannya untuk tetap seimbang dalam menahan kepalanya. Perlahan tangannya mulai hilang keseimbangan membuat Eliza nyaris terjatuh. "Hei hei hei Eliza..." Dirga dengan cepat berpindah dari tempatnya dan.. Duukk.. Kepala Eliza terbebas dari benturan lantai dengan bahu Dirga sebagai penolongnya. Untung saja Dirga bisa dengan cepat duduk disamping Eliza sebelum Eliza terjatuh dilantai. Kepalanya bisa saja sakit jika bahu Dirga tidak dengan cepat datang untuk menyanggahnya. "Ck, anak ini. Bisa-bisanya tetap terlelap.." Gerutu Dirga, meski tetap bersedia menjadikan bahunya sebagai bantal yang kurang empuk untuk kepala Eliza. "Hey Eliza, kamu tidak bangun?? Pindah kekamarmu, dan tidur dengan tenang disana..." Dirga berusaha menyadarkan Eliza. Namun Eliza yang terlelap seperti seseorang yang baru saja mengonsumsi obat yang mengandung hipnotif sedatif, tetap tertiddur dengan tenang. "Apa anak ini setiap tidur seperti koala begini? Lelap dan terlalu tenang meski kepalanya sudah berpindah tempat.." Meski selalu mengomel, namun Dirga tidak sampai hati membangunkan Eliza dengan kasar. "Hey Eliza, banguun.. Badanku bisa kaku kal...." "Sebentar Ayah.." Jawaban Eliza yang tengah tertidur membuat Dirga tidak melanjutkan kata-katanya. "Ayah? Anak ini sedang mimpi??" Eliza yang tengah tertidur itu bergumam, dan lagi kata yang disebutkannya cukup membuat otak Dirga bekerja dan berfikir mengingat Eliza adalah seorang yang amnesia. "Apa orang yang Amnesia bisa bermimpi tentang kehidupannya sebelumnya??" Dirga mulai menebak-nebak. Dirga tiba-tiba terkejut. Tubuhnya refleks sedikit menurun kebelakang mendapat perlakuan dari Eliza. "Ini nyaman.." Eliza terus-terus mengigau dalam tidurnya. Namun bukan mengigaunya Eliza yang membuatnya terkejut, tapi karena Eliza yang mengubah posisinya dengan tangannya yang mulai melingkar dipinggangnya. "Ha Eliza.. A apa yang kamu lakukan??" Tubuh Dirga seketika mematung merasakan tangan Eliza yang melingkar dipinggangnya dengan kepalanya yang sedikit turun bersandar di d**a Dirga yang bidang. Pandangan Dirga mengarah ke wajah Eliza yang tetap terlelap sembari bersandar di d**a bidang milik Dirga. Dirga tidak tahu harus berbuat apa, wajahnya mulai memerah. Ini kali pertama baginya mendapat perlakuan seperti ini, terlebih lagi dari Eliza. "Hey jantung.. Ja angan berdetak terlalu kencang, Eliza bisa mendengarnya nanti.." Meski ia tahu, menegur jantungnya sendiri tidak akan mengubah jantungnya kembali berdetak dengan normal. "Ke kenapa wajahku panas begini.." Dirga terus berceloteh pada dirinya sendiri dengan kata-kata yang tebata-bata karena gugup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD