Tentang Kecelakaan

493 Words
“Nar.. Ah Ibu..”   Kinara yang sebelumnya terdiam karena merasa kesal pada Dirga, melirik Dirga sejenak. Telinganya sangat langka mendengar panggilan Ibu dari Dirga, dan itu membuatnya merasa senang hingga membuat amarah dan rasa kesalnya tadi, hilang begitu saja.   “Apa Ibu gak bisa ngebantu aku?” Kata Dirga sedikit berbisik, dengan maksud agar Ayahnya yang duduk disamping Delio, tidak mendengar percakapan mereka yang duduk di sofa dan sedikit berjarak dari Ayahnya.   “Bantu apa?” Jawab Nara.   “Bujuk Ayah, aku beneran gak mau tinggal sama perempuan itu” Wajah memelas sudah otomatis terpasang di wajah Dirga. Ia berharap, ekspresi memelasnya itu bisa membuat hati Ibu sambungnya iba kepadanya, dan membantunya untuk membujuk Ayahnya. Dirga sangat tahu, bahwa Ayahnya tidak bisa menolak keinginan Nara.   “Untuk itu, seperti aku gak bisa ngebantu kamu, Dirga”   Jawaban yang tidak diinginkan oleh Dirga.   “Dirga, aku setuju dengan pendapat Ayahmu. Perempuan itu tidak punya siapa-siapa lagi dan lagi, dia sedang lupa ingatan sekarang. Coba bayangkan, apa yang terjadi sama dia kalau kita mengabaikannya..”   “Ya tapi kan tidak harus tinggal sama aku..”   “Terus sama siapa? Aku sama Ayahmu tinggal tidak menetap, dan kami tidak mungkin membawanya kemana-kemana. Sedang kakakmu, kamu sendiri bisa lihat kondisinya sekarang, dia bahkan belum sadarkan diri. Kita juga tidak mungkin membiarkannya tinggal sendiri di tempat yang baru”   Mendengar jawaban Nara, Dirga hanya menghembuskan nafas berat dan bersandar pada punggung sofa. Ia kini sadar, bahwa tidak ada yang bisa meloloskannya dari takdir yang mengharuskannya tinggal bersama dengan perempuan yang tidak ia kenali itu.   “Apa Ayahku bermaksud menodai kesucian putranya? Bagaimana bisa Ayah ngebiarin putranya yang lajang ini tinggal bersama perempuan” Gumam Dirga dengan wajah masam.   Nara yang duduk didekat Dirga, bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Dirga, dan itu membuatnya tertawa kecil.   “Hufftt.. Baru juga niat bolos sekali, lah karmanya malah dapat bencana seperti ini” Keluh Dirga mengingat kejadian dimana ia bolos sekolah ketika Delio datang untuk menjemputnya.   Ucapan Dirga membuat Nara menjadi penasaran akan sesuatu, ia mengubah jarak duduknya dengan Dirga menjadi lebih dekat.   “Kenapa?” Tanya Dirga ketus. “Kamu kan gak berpihak sama aku sekarang”   “Kamu jangan ngambek begitu lah..” Bujuk Nara.   “Ck..” Dirga merasa kesal karena tidak berhasil mendapatkan pembelaan dari Nara.   “Dirga..”   “Hm..”   “Waktu kecelakaan itu, kalian mau kemana?” Tanya Nara penasaran.   “Gak kemana-kemana, cuman mau jalan-jalan saja sama kak Delio”   “Delio yang ngajak?”   Dirga hanya mengangguk mengiyakan.   “Kok tumben Delio ngajak jalan, padahal kan dia tahu kalau kamu lagi sekolah”   “Oh.. Itu karena sebelumnya aku sempat merengek kek kak Delio buat ngajak aku jalan, ya semacam refreshing begitu. Tapi karena kak Delio sibuk kuliah, dia nolak terus setiap aku ngajak dia”   “Jadi kemarin?”   Melihat Nara yang begitu antusias dan penasaran, Dirga akhirnya menceritakan kronologi ia bolos sekolah sampai pada kecelakaan itu terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD