Dirga masih merengek manja di sisi kakaknya yang tak sadarkan diri, meski Samuel sedari tadi meminta Dirga untuk beranjak agar tidak menganggu kakaknya. Dirga sangat menolak keinginan Ayahnya yang memintanya tinggal bersama perempuan asing, yang terlibat kecelakaan bersamanya.
Suara engsel pintu yang terputar, membuat Dirga dan juga Samuel mengarahkan pandangan kearah pintu. Nara muncul dari balik pintu dengan beberapa bawaan ditangannya.
Nara berjalan masuk sembari meletakkan barang bawaannya diatas meja. Ia mengeluarkan sebuah kotak makan yang berisi beberapa potong sandwich. Ya, sang suami sangat terburu-buru untuk menjenguk putra sulungnya pagi tadi, hingga lupa untuk sarapan. Membuat Nara sang istri, harus datang mengantarkan sarapan untuk suaminya. Tentunya ia datang bukan hanya sekedar mengantar sarapan saja, ia juga ingin melihat keadaan kedua putranya.
Dirga beranjak dari sisi kakaknya, berjalan menghampiri Nara yang tengah menyiapkan sarapan yang ia bawa sebelumnya.
“Ada apa, Dirga? Kenapa ekspresimu kusut begitu?” Tanya Nara yang melihat jelas, bagaiamana buruknya eskpresi dari anak tirinya itu.
“Aku udah mohon-mohon sama Ayah, biar perempuan itu tidak tinggal sama aku. Tapi suami kesayanganmu itu menolak” Jawab Dirga dengan nada kesal, sembari meraih sepotong Sandwich.
“Dirga, Ayah...”
Samuel tidak melanjutkan ucapannya tatkala mendapat isyarat dari Nara untuk berhenti. Nara tersenyum pada suaminya, ia berniat mengambil alih usaha untuk membujuk Dirga, agar putra bungsunya itu menurut pada keinginan Ayahnya.
“Dirga..” Nara mendekat sembari membelai lembut kepala Dirga, layaknya seorang Ibu yang akan membujuk putranya. Namun tindakan Nara yang demikian membuat Dirga menatapnya dengan intens.
“Ck.. Kamu seperti ini sudah merasa tua sekali? Kamu cuman beberapa tahun lebih tua dariku, Nara” Gerutu Dirga sembari kembali mengigit Sandwich di tangannya.
Wajah keibuan yang lembut tadinya Nara perlihatkan, namun kini ekspresinya sudah berubah setelah kesal mendengar ucapan Dirga. Spontan saja tangannya melayang dan memberi pukulan kecil di jidat Dirga.
Tttokk..
“Aduh”
“Iya, aku memang sudah tua dari segi status. Aku ini Ibumu dan kamu adalah Putraku. Jadi wajar saja kalau perlakuanku seperti ini. Jadi mulai dari sekarang panggil aku Ibu” Ujar Nara kesal.
Ya, meski status Nara adalah seorang Ibu, sifatnya tentu masih terbawa dari usianya yang masih sangat muda. Sesekali ia kesal dan bahkan ngambek jika Dirga membuatnya marah.
Samuel hanya terkekeh melihat tingkah laku istrinya. Selama ini, ia tidak begitu mempermasalahkan jika Dirga memanggilnya dengan nama, karena ia cukup mengerti jika Dirga belum terbiasa. Tapi untuk hari ini, sepertinya dia sudah benar-benar kesal pada Dirga.
“Harusnya dari kemarin-kemarin kamu seperti itu, sayang..” Kata Samuel masih dengan tawanya
Kinara, seorang wanita cantik yang kini menjadi istri Samuel. Tidak ada yang salah dari ucapan Dirga yang mengatakan, bahwa Nara lebih terlihat seperti kakak perempuan baginya, dibanding seperti seorang Ibu. Usia Nara terlalu muda untuk bisa dipanggil Ibu oleh Dirga, ia hanya terlampau delapan tahun lebih tua dari Dirga, yang berarti hanya berbeda tiga tahun lebih tua dari Delio.
111111q Tidak ada yang bisa menduga, bahwa Samuel dan Nara akan berakhir menjadi sepasang suami istri, mengingat usia mereka yang terlampau 20 tahun. Namun, seperti itulah cinta. Benar cinta itu buta, sehingga usia tidak bisa menjadi penghalang untuk dua insan yang merasakannya.
Sebelumnya, Nara adalah seorang guru privat yang Samuel panggil untuk memberi pelajaran tambahan pada Delio, saat Delio duduk di bangku kelas tiga SMA, dan akan menghadapi Ujian Akhir Nasional. Samuel yang seorang pengusaha dengan pekerjaan yang begitu banyak, membuatnya sibuk dan tidak memiliki waktu untuk sekedar mendampingi Delio belajar. Meski ia memiliki waktu, tentunya ia akan tetap memanggil seorang yang ahli di bidangnya untuk memberikan Delio pelajaran tambahan.
Bukan tanpa alasan Samuel mempekerjakan guru yang notabenenya masih sangat muda. Jika Samuel menginginkan orang hebat untuk mengajar putranya, tentunya ia akan menghadirkan seorang profesor untuk Delio. Namun Samuel berpikiran, bahwa bukan seseorang dengan ilmu yang luarbiasa saja yang harus memberi pelajaran pada putranya, tapi juga orang yang bisa membuat putranya nyaman dalam belajar.
Karena pemikiran yang demikian itu, Samuel akhirnya memilih Nara, yang hanya berkisar tiga tahun saja dari Delio, agar Delio tidak merasa sungkan pada gurunya. Samuel juga berpikir, bahwa Nara yang masih muda, tentunya memiliki teknik mengajar yang sesuai dengan usianya, dan pastinya membuat Delio lebih mudah memahami apa yang Nara ajarkan.
Ya, semuanya hanya berawal dari hubungan seorang guru dan orangtua murid. Samuel yang terkadang berada diluar kota, sesekali menghubungi Nara untuk mempertanyakan kondisi Delio dan kemajuan Delio dalam belajar, juga hal-hal lainnya yang tentunya yang berhubungan dengan Delio saja. Sesekali juga ia bertanya tentang Dirga, karena tentunya ketika Nara menjadi guru privat untuk Delio, ia juga akan sering bertemu dengan Dirga.
Seiring berjalannya waktu, Samuel semakin sering berhubungan dengan Nara. Pembahasan yang sebelumnya hanya berkisar disekitar Delio dan Dirga saja, pelan-pelan merambat hingga ke pembahasan yang berkisar tentang Samuel sendiri. Nara adalah seorang pendengar yang baik, dan itu membuat Samuel nyaman bercerita dengannya. Tentu saja Samuel tidak serta merta bercerita tentang dirinya pada Nara, jika bukan Nara yang membuka pembahasan lebih dulu.
“Pasti berat ya jadi orang tua tunggal untuk dua putra” Berawal dari kalimat dengan nada iba yang keluar dari mulut Nara, akhirnya perlahan Samuel bercerita tentang dirinya. Ia mulai terbuka pada Nara perihal beratnya menjadi orangtua tunggal, namun memberinya kebahagiaan yang luarbiasa.
Pembahasan demi pembahasan terus berlanjut. Samuel yang nyaman dengan bercerita dengan Nara di sela-sela kesibukannya, dan Nara yang antusias hingga memandang Samuel sebagai laki-laki yang hebat karena mampu menjadi Ayah yang luarbiasa bahkan ditengah-tengah kesibukannya.
Perlahan tapi pasti, keduanya mulai nyaman satu sama lain. Hingga Samuel mengumpulkan keberaniannya untuk meminta Nara menjadi pendampingnya. Tentu saja Samuel tidak berharap banyak, ia cukup sadar diri dengan usia dan statusnya. Ia sangat mempersiapkan diri untuk mendapat penolakan dari Nara. Namun siapa sangka, wanita yang 20 tahun lebih muda dari usianya itu, menerima dirinya.
Dari sudut pandang Nara, Samuel adalah laki-laki hebat nan luarbiasa. Ia menjadi Ayah tunggal untuk kedua putranya. Ia pekerja keras dan sangat menyayangi dan memperhatikan putranya. Bagi Nara, Samuel adalah laki-laki yang bisa membuatnya merasa aman dan nyaman.