Entah ada apa dengan sepatu atau lantai yang sedang dia pijaki, berjalan sembari menunduk dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
Ailee berjalan menunduk menyusuri koridor bagian VIP di Rumah sakit tempat Delio dirawat. Keranjang buah bertengger ditangannya.
"Hufftt..." Menghembuskan nafas kecil dan berusaha mengubah ekspresinya menjadi lebih baik.
"Selamat siang kak..." Sapa Ailee dari balik pintu, berjalan menghampiri Delio yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
Mendengar sapaan Ailee, segala aktifitas Delio hentikan dan beralih fokus pada wanita cantik yang menjadi tunangannya itu.
"Siang Ailee.." Delio memberi senyuman manis. "Sudah pulang sekolah??"
Ailee hanya tersenyum mengiyakan pertanyaan Delio.
"Bagaimana keadaan kakak?"
"Yahh lebih baik dari hari kemarin.."
"Mau aku kupaskan buah?"
Delio mengangguk dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya.
Ailee mengambil satu buah apel, membersihkan dan mengupasnya, masih berusaha memperlihatkan ekspresinya yang baik-baik saja meski hati dan pikirannya sedang berkecamuk.
"Auu..." Sontak Ailee terkejut, jarinya tergores dan cairan merah itu perlahan muncul dari balik kulitnya yang putih bersih.
"Ailee... Kamu tidak apa-apa.." Delio yang terkejut spontan meraih tangan Ailee, memasukkan kedalam mulutnya untuk menghentikan pendarahannya.
Ailee sedikit terkejut, meski statusnya sekarang adalah tunangan Delio, namun hal yang Delio lakukan saat ini bukanlah hal yang lumrah baginya, mengingat pertunangan itu menyimpan sesuatu yang hanya diketahui keduanya.
Pandangan Ailee tidak lepas dari Delio yang begitu mengkhawatirkannya hanya karena luka kecil yang disebabkan oleh goresan pisau saat mengupas buah. Ini bukan hal yang lumrah terjadi diantara mereka meski status mereka saat ini adalah sebagai tunangan. Namun status mereka yang resmi hanya dimata kedua keluarga, tidak untuk Ailee juga untuk Delio.
"Kamu ini kenapa ceroboh sekali??"
Pertanyaan Delio menyadarkan Ailee dari lamunannya sejenak. Ailee mengalihkan pandangannya.
"A aku.. Aku hanya tidak sengaja. Ini juga gak papa kok.."
"Apanya yang gak papa, ini berdarah Ailee.."
"Cuman luka kecil saja.." Ailee menarik tangannya kembali.
"Ada apalagi?"
Wajar saja Delio curiga, tidak biasanya Ailee ceroboh seperti ini jika tidak ada hal yang mengganggu pikirannya.
"Tidak ada apa-apa. Memangnya mau ada apa?" Ailee menyembunyikan segala kerusuhan yang ada dalam hatinya.
"Jangan bohong sama aku Le, aku bukan orang yang baru mengenalmu kemarin sampai bisa kamu bohongi.."
"Beneran kak, gak ada apa-apa kok. Aku cuman kelelahan saja tadi, makanya tanganku jadi gak sengaja kegores.."
"Kamu gak mau cerita sama aku??" Mata Delio tidak hentinya menatap Ailee dengan sedikit tekanan agar Ailee mengeluarkan apa yang menjadi beban pikirannya saat ini.
Ailee hanya tersenyum simpul. Ya tidak ada hal yang bisa dia sembunyikan dari Delio, sekuat apapun dia menyembunyikannya, lelaki berkulit putih bersih itu pasti akan tahu.
"Tentang Dirga lagi??" Delio menebak.
Ailee sedikit terkejut.
"Ah tebakanku benar ya?" Melihat reaksi Ailee, Delio yakin jika hal yang membuat wanita cantik di depannya itu kepikiran saat ini adalah adiknya.
Ailee hanya tertunduk dengan senyumnya yang perlahan pudar.
"Dirga kenapa lagi??"
Walau tidak ada perasaan khusus yang dimiliki Delio untuk Ailee, namun Delio yang sudah mngenal Ailee sangat lama, selalu mengkhawatirkan Ailee, gadis kecil yang tumbuh bersamanya sedari kecil. Ailee sudah seperti adiknya sendiri.
"Apa aku masih boleh cemburu??"
Dia cemburu? Apa Dirga sedang dekat dengan perempuan lain sekarang? Rasanya tidak mungkin anak nakal itu bisa melupakan Ailee dalam waktu secepat ini.
"Tentu saja boleh. Tidak ada yang berhak melarangmu untuk cemburu.."
"Iya, hanya saja aku merasa terlalu egois untuk merasa cemburu.."
"Ailee, perasaan cemburu itu wajar kamu rasakan untuk orang kamu cintai.."
Delio berusaha menangkan wanita cantik di depannya yang kini menjadi tunangannya, meski perasaan wanita tersebut milik adiknya.