Matanya mulai berkaca-kaca. Perasaannya mulai kalut kembali saat mengingat bagaimana Dirga begitu akrab dengan Eliza, dan memperlakukan Eliza dengan sangat baik. Masih ada perasaan tidak ikhlas di hati Ailee mengingat Dirga membuka diri pada perempuan lain selain dirinya. Ailee sadar, perasaannya saat ini adalah sebuah keegoisan.
"Kenapa? Apa Dirga dekat sama oranglain sekarang?"
Ailee mengangguk.
"Sama siapa?" Delio setengah terkejut. Delio tahu betul seperti apa adiknya itu. Untuk bisa dekat dengan seorang perempuan, Dirga membutuhkan waktu yang lebih lama.
"Eliza. Kakak tahu Eliza kan?"
Perempuan yang terlibat kecelakaan denganku kan? Yang sekarang tinggal bersama Dirga.
"Iya.."
"Hari ini aku ketemu Dirga dan dia. Cara Dirga memperlakukan Eliza, sama seperti cara Dirga memperlakukanku dulu. Aku tahu, aku egois seperti ini. Tapi aku beneran belum bisa nerima ada perempuan lain yang dekat sama Dirga kak.."
Delio tesenyum. "Jangan terlalu dipikirkan Ailee, wajar saja jika Dirga memperlakukan Eliza dengan baik. Kamu tahu kan kalau Eliza itu tidak punya siapa-siapa sekarang, dan lagi dia sedang lupa ingatan. Apa yang Dirga lakukan pada Eliza bukan hal yang sama dengan apa yang dia lakukan sama kamu. Itu hanya bentuk simpati Dirga saja.." Jelas Delio berusaha menenangkan Ailee dari pikirannya yang kalut.
"Tapi kak.."
"Hem.. Ailee, kamu tahu kan kalau Dirga itu gak mudah dekat sama perempuan. Apa kamu pikir Dirga bisa seperti itu pada Eliza kalau bukan dengan alasan atas dasar kemanusiaan? Aku yakin, masih kamu yang ada di hati Dirga saat ini.."
Ailee tersenyum. "Aku berharap seperti itu kak.."
"Jangan pikirkan hal seperti ini lagi. Saat ini banyak hal yang harus kamu lakukan, kamu tidak lupa kan kalau harus belajar dengan baik agar bisa sukses dan melampui Ayahmu.."
Ailee mengangguk.
"Anak baik.." Kata Delio sambil mengusap kepala Ailee dengan lembut.
"Kak.. Aku bukan anak kecil lagi.." Kata Ailee cemberut.
"Ha ha ha, iya iya.."
Maafkan aku Ailee, aku tidak tahu harus berbuat apa untukmu. Aku sadar, meyakinkanmu tentang Dirga yang masih mencintaimu adalah sebuah kesalahan selagi aku tidak menemukan cara untuk bisa menyatukan kalian. Untuk saat ini, hanya menenangkanmu dengan cara seperti ini saja yang bisa aku lakukan agar kamu bisa berjuang dan semangat dalam hidupmu sembari menyiapkan diri untuk bisa melampaui Ayahmu. Suatu hari nanti, entah perasaanmu masih untuk Dirga atau berpindah, aku yakin usahamu saat ini tidak akan sia-sia.
"Sudah sudah, jangan pasang wajah cemberut. Sini buah dan pisaunya.."
"Gak.." Tolak Ailee. "Biar aku saja yang kupas..."
"Tanganmu kan lagi luka Ailee.."
"Ini cuman luka kec.."
"Sudah jangan bandel, berikan buah dan pisaunya.."
Ailee memberikan pisau dan sebuah Apel pada Delio.
"Kak.."
"Hem??" Sahut Delio tanpa mengalihkan perhatiannya dari pisau dan buah yang sedah dikupasnya.
"Makasih ya.."
"Untuk??"
"Karena udah ngejaga aku, dan mau ngebantu aku mengikuti alur cerita yang Ayah buat untukku. Aku gak tahu, akan seperti apa aku tanpa kakak.."
Delio tersenyum. "Kamu ini bicaranya seperti kalau aku ini orang lain saja. Aku kan kakakmu Ailee, wajar saja kalau aku menjaga dan melindungimu"
"Meskipun begitu, aku harus tetap berterimakasih sama kakak kan. Aku tahu, permintaanku ini sangat konyol dan lagi ini bukan hal yang mudah dijalani"
"Jangan sungkan begitu. Aku senang ngebantu kamu seperti ini"
Ailee tersenyum. Ailee bersyukur ada Delio yang begitu pengertian akan kondisinya, sehingga dia tidak harus melewati semuanya sendirian.
"Ini makan buahnya.."
"Hehe, yang sakit kakak. Tapi aku yang dikupasin buah.."
"Udah, gak usah nyengir. Makan saja.."