Keakraban Samuel dengan orangtua Ailee tidak diragukan lagi, sehingga menjodohkan anak mereka bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi.
Saat Ailee diberi sebuah pilihan antara Dirga dan Delio, jelas saja tidak ada alasan bagi Ailee untuk tidak memilih Dirga mengingat sedari kecil Ailee lebih akrab dan bahkan sudah mengutarakan perasaannya pada Dirga. Namun Ailee tidak bisa menentukan pilihan sesuai keinginannya, Ayahnya meminta Ailee untuk memilih Delio dengan alasan, Delio lebih dewasa dan saat ini sedang kuliah, yang berarti tidak harus menunggu lama lagi Delio akan bekerja dan jelas Delio akan mapan lebih dulu jika dibandingkan dengan Dirga.
Jelas saja Ailee menolak, perasaannya pada Dirga tidak bisa dia abaikan begitu saja. Namun apa kuasa Ailee jika lawannya adalah orang tuanya. Dengan ancaman kecil akan memindahkan Ailee sekolah diluar negri, membuat Ailee harus turut mengikuti keinginan Ayahnya untuk memilih Delio.
Sebelum menentukan pilihannya, Ailee lebih dulu berbicara pada Delio. Awalnya, keragu-raguan menghampiri perasaan Ailee. Bagaimana jika Delio menolak, bagaimana jika Delio menceritakan semuanya dan bagaimana jika Delio membencinya setelah ia mengatakannya. Namun semua yang dia khawatirkan tidak terjadi, Delio siap membantu dan siap ikut dalam alur yang diinginkan Ayah Ailee.
Ailee mengungkapkan semuanya pada Delio, tentang permintaan Ayahnya untuk memilih Delio dengan semua alasannya. Tidak lupa Ailee mengatakan bagaimana perasaannya pada Dirga yang sangat dia cintai. Juga tentang rencananya untuk berpura-pura memilih Delio setidaknya sampai pendidikannya di Sekolah menengah atas selesai. Ailee siap kuliah di luar negri, sembari menunggu Dirga menjadi mapan juga, sehingga ada alasan baginya untuk kembali memilih Dirga.
Awalnya Delio meminta Ailee untuk menjelaskan semuanya pada Dirga sebelum Dirga terlanjur salah paham. Namun mengingat watak Dzaki yang seperti itu, membuat Ailee memilih menyembunyikan rencana ini dari Dirga. "Dirga tidak akan tinggal diam jika dia tahu Ayah yang memaksaku memilih kakak" Jawab Ailee waktu itu.
****
Waktu berlalu, Eliza semakin terbiasa hidup bersama Dirga begitu juga sebaliknya. Eliza dan Dirga semakin hari semakin akrab dan keduanya mulai saling terbuka untuk hal-hal yang umum. Kadar rasa sungkan mulai menurun menjadi lebih santai. Meski begitu, Eliza masih sering menjadi bulan-bulanan kekesalan Dirga saat ada sesuatu yang Eliza lakukan namun tidak disukai oleh Dirga.
Makan bersama dan mengerjakan tugas rumah bersama. Bahkan keduanya membagi tugas dalam mengurus rumah. Tinggal bersama jelas memiliki keseruan dan kesulitan tersendiri. Dirga yang biasanya lupa memeriksa pintu dan jendela sebelum tidur akhirnya ada Eliza yang selalu mengingatkannya saat ini. Juga Eliza yang baru bersekolah lagi akhirnya bisa terbantu oleh Dirga dalam mengerjakan tugas dan hal lainnya.
Terlebih dari keuntungan yang masing-masing mereka rasakan, mereka harus bisa lebih waspada dalam hal pribadi terutama yang berhubungan dengan gender mereka sebagai laki-laki dan perempuan. Seperti ketika Eliza tanpa sengaja memungut underwear Dirga yang terjatuh saat dijemur dan mengembalikannya ke Dirga, yang membuat wajah Dirga sampai merah karena menahan malunya. Juga saat Dirga menemukan pembalut wanita, milik Eliza saat mereka membongkar belanjaan untuk persediaan dirumah.
Selain itu, keduanya pun sudah terbiasa saling membantu satu sama lain saat kesulitan, seperti halnya hari ini. Dirga yang terjatuh dalam toilet membuat kakinya terkilir dan sedikit kesusahan dalam berjalan.
"Kamu ini kenapa bisa jatuh sih??" Omel Eliza sembari membawa mangkuk yang berisi kencur yang sudah diparutnya.
"Ya namanya juga lantainya licin, kalau dikasi pilihan ya aku juga gak mau jatuh lah.." Balas Dirga menggerutu.
Seperti hari-hari sebelumnya, mereka mulai ribut di pagi hari. Terlebih hari ini adalah akhir pekan sehingga mereka memiliki waktu lebih lama untuk berdebat.
"Makanya bersihkan lantai kamar mandimu, sikat biar tidak licin.."
"Kamu pikir aku membiarkan lantai kamar mandiku kotor, kamu tahu kan aku tidak suka yang kotor-kotor" Bela Dirga.
"Ck.." Dengus Eliza sambil menatap Dirga dengan kesal sembari duduk disamping Dirga.
Dirga hanya terdiam, ya karena saat ini yang terluka adalah dia, dia memilih untuk diam lebih cepat dibanding meneruskan mendebat Eliza.
"I itu apa??" Aroma yang asing dan tampilan yang aneh membuat Dirga bertanya tentang sesuatu yang dibawah oleh Eliza dalam mangkuk kecil. "Jahe??" Tanya Dirga lagi.
"Ck.. Kamu ini kan bisa masak, masa gak tahu ngebedain bumbu dapur. Dari baunya saja ini jelas sekali kalau bukan jahe.." Jelas Eliza dengan nada kesal.
"Aku kan cuman tanya, lagian itu modelnya seperti jahe parut.."
"Ini kencur. Sini kakimu.."
"Un untuk apa??" Tanya Dirga terbata-bata.
"Ya untuk aku obati, itu bisa makin parah kalau gak diobati.."
"Obati? Pakai apa? Pakai itu?" Tunjuk Dirga pada mangkuk yang dipegang Eliza.
"Iya.."
"Tahu darimana??"
"Ya dari internet lah, aku kan gak punya oranglain yang bisa aku hubungi untuk bertanya hal yang seperti ini.."
"Nara, bukannya semua hal kamu tanyakan pada Nara.."
"Aku gak bisa ngehubungi Mami sesukaku, Mami kan sibuk. Dan lagi kalau dia tahu kamu luka seperti ini, Mami pasti khawatir.."
"Kamu sepertinya lebih kenal Nara dibanding aku.."
"Iyalah.. Cepat sini kakimu, ini sudah mulai siang dan aku belum masak.."
"Ga gak.. Gak usah.."
Dirga sedikit sungkan mengingat Eliza akan menyentuh kakinya, rasanya tidak sopan sekali.
"Apanya yang gak usah, kakimu bisa makin parah nanti.."
Eliza menunduk hendak meraih kaki Dirga, namun Dirga dengan cepat menghindar.
"Kamu ini kenapa sih? Mau sakit terus? Sengaja biar aku yang ngerjain tugas rumah semuanya??"
"Bukannya begitu.. Yasudah, sini kencurnya, biar aku saja.."
"Kakimu itu gak bisa bengkok, dan tanganmu gak cukup panjang untuk bisa nempelin ini kencur ke kakimu yang keseleo.."
Dirga menatap kakinya, rasanya benar-benar sungkan untuk menyerahkan kakinya yang akan disentuh oleh Eliza.
"Kenapa??" Tanya Eliza.
Dirga berbalik menatap Eliza.
"Kamu sungkan? Kamu kepikiran kalau aku bakal megang kakimu?"
Dirga hanya terdiam, namun sangat jelas terlihat dimata Eliza saat ini bagaimana Dirga yang sedang sungkan terhadapnya.
"Ck, kenapa harus sungkan sih.." Eliza dengan cepat menarik kaki Dirga dan menyimpan dipangkuannya, Dirga tersentak dengan wajahnya yang tidak bisa menyembunyikan ekspresinya yang terkejut. "Kalau mau berbicara sungkan, harusnya aku yang sungkan kan, karena tinggal gratis dirumahmu.."
"Kenapa harus ngomong gitu?" Dirga menarik kembali kakinya dari pangkuan Eliza. "Kan aku sudah bilang, aku udah gak mempermasalahkan lagi tentang kamu yang tinggal dirumahku. Aku udah gak keberatan lagi.."
"Iya iyaa.. Gak usah marah juga.." Eliza kembali menarik kaki Dirga kepangkuannya.
"Aku bukannya marah.. Aku cum.."
"Iya kamu gak marah. Bisa diam dulu gak, biar aku bisa ngolesin kakimu dengan benar. Kita bisa-bisa gak sarapan gara-gara aku gak sempat masak karena kamu yang ribut terus.."
Dirga akhirnya menurut dengan perkataan Eliza dan diam.