Obat Tradisional

1062 Words
Dirga diam-diam memandangi Eliza, yang dengan telaten membaluri kencur yang telah diparut ke permukaan kakinya yang terkilir. Tanpa sadar ada perasaan kagum dan senang melihat Eliza yang memperhatikannya seperti itu, matanya tidak teralihkan dari sosok Eliza yang tengah serius mengobatinya. "Selesai.. Jangan banyak gerak.." Eliza selesai membalut kaki Dirga dengan kain seadanya agar parutan kencur yang dia letakkan diatas kaki Dirga yang terkilir tidak jatuh dan berserakan. Dirga dengan cepat mengalihkan pandangannya sebelum Eliza mendapatinya. "Mau sarapan pakai apa? Biar aku sendiri yang masak hari ini. Kamu istirahat saja" "Iyalah, kan aku sakit. Masa kamu ngebiarin aku masak sementara bediri aja aku kesusahan.." "Kalau begitu cepat sembuh tuan Dirga, jangan sengaja berlama-lamaan sakit biar bisa duduk cantik ngeliat aku masak sendirian.." "Iya iya Nyonya.." "Yasudah, mau makan apa??" "Terserah saja.." "Roti pake telur dadar sama selada??" "Kemarin kan makannya telur dadar juga.." "Ya terus bagaimana? Kan kita rencana belanjanya hari ini, jadi gak banyak yang bisa dimasak hari ini. Lagian kan kamu bilangnya terserah.." "Ya tapi jangan telur dadar lagi.." "Telur ceplok, mau??" Dirga berfikir sejenak. "Gak banyak bahan, jadi jangan milih-milih.." "Ya itu aja, dari pada telur dadar lagi.." Eliza bergegas menuju dapur. Eliza dan Dirga berbagi tugas dalam mengerjakan pekerjaan rumah, namun untuk urusan memasak mereka selalu mengerjakannya bersama terkecuali hari ini. Karena kaki Dirga yang terluka, sehingga Eliza harus memasak sendiri. Sejenak Dirga bingung akan perasaannya, perhatian Eliza barusan seakan menghipnotisnya membuat bayangan Eliza selalu terbayang dipikirannya. "Apa karena udah kelamaan tinggal bersama makanya aku terus-terusan kepikiran Eliza. Ah ya.. Ini pasti karena selalu ketemu saja.." Perasaannya yang membingungkan mencoba dia tepis dan berfikir lebih rasional. "Auuu....." Jerit Eliza. Usahanya untuk merasionalkan pikiran dalam memahami perasaannya terhadap Eliza buyar seketika mendengar jeritan Eliza. "Elizaaa..." Spontan Dirga berbalik, dan tanpa sadar beranjak dari tempat duduknya berlari menuju dapur menghampiri Eliza. "Eliza kamu kenapa??" Tanya Dirga dengan khawatir. Eliza hanya terdiam menatap Dirga. **** Tidak seperti biasanya, hari ini Eliza harus menyiapkan sarapan sendirian. Memasak sendiri seperti saat ini yang sebelumnya dilakukan bersama dengan Dirga, jelas membuatnya sedikit kewalahan, meski tidak banyak jenis yang harus dia masak. Namun karena mengingat waktu yang sudah semakin siang membuat Eliza menjadi sedikit terburu-buru. Karena sudah cukup lama tinggal bersama, Eliza jadi tahu selera makan Dirga. Jika umumnya orang-orang menyukai telur dengan tekstur yang masih lembut karena setengah matang, namun berbeda dengan Dzaki yang menyukai telur over cook, sehingga Eliza harus menggunakan minyak berlebih agar telur yang digorengnya bisa memberikan tekstur yang renyah. Sembari menunggu minyak menjadi panas, Eliza beralih membersihkan daun selada dan menyiapkan roti. Niat hati ingin menyiapkan dengan cepat, namun Eliza malah kewalahan. Asap mulai mengepul disekitar wajan menandakan suhu disekitar wajan sudah sangat panas. Eliza meletakkan kembali daun seladanya dan beralih menggoreng telur, tapi.. praatt praatt.. Karena suhu wajan yang terlalu panas membuat Eliza tanpa sengaja melepaskan telur yang digenggamnya. Minyak panas terciprat mengenai beberapa bagian tangannya membuat Eliza spontan menjerit. "Auuu..." Eliza mundur beberapa langkah menjauh dari wajan. "Elizaaa..." Teriakan Dirga dari luar sontak membuat Eliza lebih terkejut lagi. "Eliza kamu kenapa??" Dirga muncul dari balik dinding memperlihatkan eskpresi wajah yang sangat khawatir. Eliza tertegun melihatnya. Anak ini kenapa berteriak segitu kerasnya, seperti terjadi sesuatu hal yang besar saja "Kamu yang kenapa?" Eliza balik bertanya, dibandingkan rasa terkejut setelah mendapat beberapa percikkan minyak, Eliza lebih terkejut lagi melihat Dirga yang menghampirinya dengan tergesa-gesa. Ekspresi khawatir Dirga berubah menjadi datar melihat Eliza yang kebingungan menatapnya. "Ah.." Dirga mengalihkan pandangannya. "Aku kira kamu terluka.." Pandangan Eliza dengan tatapan yang bingung tidak lepas dari Dirga. "Astagaaa..." Dirga dengan cepat mematikan kompor yang semakin dipenuhi kepulan asap disekitarnya. "Ka-kamu beneran gak papa kan.." Dirga berbalik menatap Eliza. Eliza hanya mengangguk sembari meniup bagian tangannya yang mendapat percikan minyak. "Tanganmu kenapa??" Tanyan Dirga khawatir dan dengan cepat meraih tangan Eliza. "I ini, aku tidak sengaja melepas telurnya dan minyaknya terpecik. Aku.." "Kenapa ceroboh begini sih??" Potong Dirga tanpa mendengar penjelasan Eliza. Dirga berbalik dan mengambil sebotol air dingin dari dalam kulkas. "Sini.." Eliza mengikut saja dengan tarikan Dirga menuju wastafel. "Aduh..." Keluh Eliza saat Dirga menyiram tangannya dengan air dingin. "Perih??" Tatapan khawatir tidak lepas dari mata Dirga. Eliza hanya mengangguk. "Padahal setiap hari memasak, baru juga satu kali memasak sendiri sudah luka begini" "Minyaknya terlalu panas, jadi telur yang aku pegang terlepas.." "Kenapa juga harus nungguin minyaknya terlalu panas baru mau masukin telurnya.." "Bukannya aku ngebiarin minyaknya terlalu panas, aku lupa karena sambil ngebersihin daun selada tadi.." "Kenapa gak dikerja satu-satu? Kamu in.." "Ya karena ini sudah siang, kamu bisa telat sarapan kalau aku masaknya gak cepat.." Perdebatan diantara keduanya tidak terelakkan lagi. "Aku kan gak bilang kalau aku udah lapar.." Eliza diam saja sembari memperlihatkan wajah cemberutnya, rasanya dia tidak akan menang jika melawan Dirga dalam hal berdebat. "Yasudah, biar aku saja yang masak hari ini.." "Tapi kakimu ka...." Belum Eliza menyelesaikan kata-katanya, dia lebih dulu menyadari sesuatu. "Kamu tadi kesini lari kan?? Kamu bohong kalau kakimu sakit???" Dirga terlihat bingung. Diapun lupa kalau kakinya sedang terluka. Dirga hanya menatap kakinya dengan kebingungan. "Eh iya ya.. Tadi kok gak kerasa sakit" "Kamu ngebohongin aku? Kamu pura-pura sakit biar kerjaan rumah aku yang ngerjain gitu??" "Gak.. Kakiku beneran sakit, sekarang juga terasa sakit.." "Ck.." Eliza menatap Dirga dengan kesal. "Sekarang sakit, tadi lari-larian bisa.." "A aku juga gak tahu. Tapi beneran kakiku sakit.." Dirga kebingungan sendiri. Jelas sekali saat ini dia merasakan nyeri di pergelangan kakinya, namun dia juga tidak memungkiri bahwa sebelumnya dia berlari dan dia sama sekali tidak merasakan rasa sakit waktu itu. Eliza tidak hentinya menatap Dirga dengan tajam dan ekspresi wajah kesal. "Ka kamu tadi juga kan lihat kalau kakiku bengkak.." Dirga mencoba membela diri. "Ah iya ya.. Waktu aku olesin kencur juga tadi keliatan kalau kakimu membiru.." Pembelaan Dirga berhasil. Eliza pun ikut bingung dibuatnya, dia sendiri jelas sekali melihat kaki Dirga yang bengkak dan memar. "Kan.. Kamu percaya kan kalau kakiku beneran sakit. Aku gak bohong, aku gak pura-pura.." "Iya iyaa.. Yasudah sana duduk lagi, biar aku lanjut masak.." "Gak, biar aku aja yang masak.." "Kakimu kan sakit, gimana caranya kam.." "Kamu juga kan tanganmu luka.." "Bukan luka parah kok, aku masih bisa masak.." "Aku juga masih bisa masak. Sana duduk saja deh.." "Kalau gitu, kamu ngelanjutin ngegoreng telurnya, aku yang nyiapin roti sama seladanya.." "Yaudah.." Kegiatan memasak yang sempat tertunda dengan perdebatan akhirnya dilanjut. Acara Eliza memasak sendiri sebelumnya kini kembali berubah menjadi masak berdua dengan Dirga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD