Malu

1008 Words
Pagi ini Dirga keluar dari kamar dengan kesadarannya yang belum sepenuhnya kembali setelah tertidur semalam, dan hanya menggunakan celana boxer setengah paha sembari bertelanjang d**a yang membuat Eliza sangat terkejut melihatnya. Eliza terus-terusan menutupi wajahnya yang memerah dan berusaha menghapus ingatannya tentang apa yang  baru saja dia lihat. Wajah Dirga pun tidak kalah memerah menahan malu mengingat Eliza sudah melihat bagian tubuhnya yang bahkan Ailee perempuan yang bersamanya sedari kecil belum pernah melihatnya. "Tutup mataamu.. Jangan lihat aku..." "Siapa juga yang mau melihatmu.. Cepat pakai baju dan celanamuu..." Teriak Eliza masih membelakangi Dirga. Dirga perlahan mundur, masih berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. "Jangan berbalikk...." "Haahh... Siapa yang berbalik.. Kamu bayarpun aku tidak akan berbalikk...." "Awas saja kalau kamu berbalik.." "Tidak akan...." Dirga mempercepat langkahnya berbalik dan berlari kecil menuju kamarnya. "Laki-laki gilaa..." Kecam Eliza. Perlahan Eliza menurunkan tangannya, wajahnya terasa panas. Ingatan mengenai apa yang baru saja dia lihat berusaha Eliza hapus dengan susah payah, namun bukannya hilang, lekukan tubuh Dirga dan otot perut yang berbentuk kotak-kotak itu semakin jelas diingatannya. "Arghhh Eliza, kenapa pikiranmu menjadi nakal  begini??" Eliza menepuk-nepuk pelan kepalanya. "Ah apa sebelum lupa ingatan otakku memang m***m seperti ini yang terus-terusan membayangkan perut.. Arghhhh.." Eliza kesal pada diri sendiri. Perut sixpack Dirga yang dilihatnya tidak lebih dari tiga detik itu cukup menghipnotisnya dan membuatnya terus terbayang-bayang. "Tenangkan dirimu Eliza, hufftt tenang.." Menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan, Eliza berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Ck.. Dia juga kenapa bodoh sekali sih?? Bisa-bisanya dia keluar tidak menggunakan baju.." Dengus Eliza kesal. Suasana pagi dihari pertama mereka tinggal berdua, gempar dengan kejadian yang sangat memalukan bagi keduanya. Eliza terus mendengus kesal mengingat Dirga yang menurutnya sudah gila karena keluar tanpa menggunakan baju sedang Dirga.. Ah harusnya dia sangat malu melebihi Eliza bukan?? Brakk.... Dirga setengah membanting pintu kamarnya, berdiri mematung bersandar dibalik pintu. "Apa dia melihatnya??" Dirga kembali menunduk melihat tubuhnya yang benar-benar terpampang nyata. "Aisshhh..." Rambut yang tidak bersalahpun menjadi sasaran kekesalan Dirga, dijambak dan di ucek-ucek hingga berantakan tak karuan. "Dia pasti melihat semuanya.. Ah asetku yang berharganya.." Rasa malu dan kesal bercampur menjadi satu. Wajahnya semakin memerah setiap membayangkan bagaimana Eliza melihatnya tadi. "Apa yang dia pikirkan tentangku sekarang?? Aisshhh... Ini memalukan sekali..." Lagi-lagi Dirga menjambak rambutnya mengekspresikan kekesalan dan rasa malunya. Dirga melirik cermin berukuran besar setinggi tubuhnya. Dia berjalan cepat menghampiri cermin itu mencoba mengecek seperti apa sudut pandang Eliza saat melihatnya tadi. "Ahh tidak tidaakk...." Belum Dirga memperhatikan tubuhnya dengan saksama di cermin, dia sudah lebih dulu mundur. "Ini benar-benar terlihat jelas.. Arrgghhh bagaimana aku menghadapinya sekarang???" Dirga tidak bisa berfikir jernih, rasa malu dan kesal terus-terusan bermain disekitarnya. Ingin sekali rasanya dia melepas wajahnya itu dan memasukkannya dalam kantong plastik kemudian membuangnya jauh-jauh. "Tenang Dirga tenangg... Kamu harus tenang biar bisa ngambil keputusan, harus seperti apa saat berhadapan dengan anak kecil itu.." Tangannya dikepal, seolah siap bertarung melawan sesuatu. ***** Dirga jalan mengendap-endap, mengintip Eliza dari balik tembok untuk mengetahui sedang apa dia sekarang. Yah, dia ingin terlihat santai saja didepan Eliza untuk memecahkan kecanggungan, namun itu jelas bukan hal yang mudah dia lakukan. "Eheemm..." Dirga berdehem mencoba memberi tahu Eliza tentang keberadaannya yang akan tiba di meja makan dan bergabung dengan Eliza Eliza menoleh, rasa gugup menghampirinya dan lagi bayangan tubuh Dirga kembali bermain diingatannya. "Gak gak.. Lupakan lupakann..." Meski Eliza tahu menggeleng-gelengkan kepalanya tidak akan membuatnya lupa, tapi tetap saja dia melakukannya. "Ck.. Pasti dia lagi mikir yang aneh-aneh.." Gumam Dirga melihat kelakuan Eliza. Dirga menarik kursi didepan Eliza. Ia mencoba memasang wajah datar, berkelakuan seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. "Kenapa belum makan?" Dirga memecah perhatian Eliza yang sedari tadi tidak konsen. "I itu.. Aku lagi nungguin kamu.." "Ck.. Makan ya tinggal makan.. Gak usah pake nungguin aku segala.." Apa dia marah padaku?? Eliza menatap Dirga. "Kenapa??" Tatapan Eliza yang tertangkap oleh Dirga membuatnya bertanya. "Ah.. Ti tidak.." Eliza mengalihkan pandangannya. "A aku tidak tahu kamu biasanya sarapan dengan apa, jadi aku nyiapin nasi dan roti" Dirga meraih piring dan mengambil beberapa helai roti. "Aku makan apa saja yang ada, asal bukan junk food dan makanan yang dibeli jadi, kecuali kalau terpaksa.." Jelas Dirga sembari menyiapkan selai di rotinya. Eliza kembali curi-curi memandang Dirga. Dia terlihat biasa saja? Apa dia tidak mempermasalahkan yang terjadi barusan?? Dirga berhasil membuat Eliza berfikiran sesuai keinginannya, seolah tidak masalah baginya sedang Dirga sendiripun masih berusaha menangani diri tentang kejadian yang memalukan tadi. "Tidak banyak bahan makanan, jadi aku tidak menyiapkan bermacam-macam jenis.." Dirga mengalihkan pandangannya yang sibuk mengamati selai yang dia oles dengan rata diatas permukaan roti. Pandangannya diarahkan kearah dapur, mencoba membenarkan perkataan Eliza tentang persediaan dapurnya. "Beberapa hari aku dirumah sakit, dan tidak ada yang bisa berbelanja untuk mengisi dapurku.." Tidak ada? Apa benar Dirga tidak memiliki pembantu?? "Ka kamu tinggal sendiri??" Eliza mencoba mencari tahu daripada terus-terusan memikirkannya tanpa bisa mengambil kesimpulan "Ayahku apa tidak bilang kalau aku tinggal sendiri??" "Bu bukan, maksudku seperti pembantu rumah tangga.." Dirga menggeleng. "Terus, pekerjaan rumah? Makanmu? dan.." "Aku kerjakan sendiri.." Potong Dirga. "Waahh.. Dia masih muda dan lagi kelakuannya tidak terlihat seperti kalau dia adalah orang yang mandiri. Tapi sepertinya dia orang yang lebih baik dari dugaanku" Eliza berdecak kagum "Aku tidak suka barang-barangku disentuh orang lain.." Sambung Dirga. "Ck.. Baru saja aku mengaguminya. Ternyata alasan dia tidak mengambil pembantu rumah tangga karena terlalu sombong dalam merawat barang-barangnya. Huuhh, hanya barang dapur juga.." Gerutu Eliza sambil memandangi Dirga dengan ekspresi kesal. "Tapi tidak denganmu.." Lanjut Dirga. "Denganku? Apa?" "Jangan karena aku gak suka barang-barangku disentuh orang lain, itu kamu jadikan alasan untuk tidak bersih-bersih.." Tatap Dirga. Ck aku juga tahu. "Aku juga tidak mungkin tinggal disini kalau tidak melakukan apa-apa.." Jawab Eliza sedikit kesal. "Baguslah kalau kamu tahu.." Menyebalkan. Tatapan kekesalan Eliza tidak putus dia tujukan pada Dirga yang tampak enteng-enteng saja melahap sarapannya. "Kenapa tidak makan?" Tegur Dirga yang mendapati Eliza terus-terusan menatapnya. Anak kecil ini kenapa sih? Apa dia masih mikirin hal yang terjadi tadi pagi. Ck.. Tatapannya seperti mau menerkamku. Eliza mengalihkan pandangannya. Meski dia masih saja menggerutu dalam hati, namun dia sudah menghentikan aktifitasnya menatap Dirga dengan kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD