Hidup bersama dengan orang asing jelas sangat tidak membuat nyaman. Namun Dirga tetap menjalaninya demi melindungi Delio meskipun itu adalah sebuah kebohongan. Begitu juga dengan Eliza, karena tidak adanya pilihan lain, akhirnya dia menahan semua perasaannya dan berusaha menerima kenyataan yang ada sekarang.
"Hey anak kecil..."
Dirga memecah keheningan yang sempat terjadi.
"Eliza.." Tegas Eliza memperjelas namanya, dia begitu kesal mendengar Dirga memanggilnya dengan sebutan anak kecil.
"Ah ya Eliza.."
Eliza kembali menatap Dirga, menuggu kalimat apa yang akan dikatakan Dirga selanjutnya.
"Aku akan memperlakukanmu dengan baik.. Jadi, aku minta.. Minta maaf dengan sikapku sebelumnya.."
WHAATT??? Dia bilang apa barusan??
"A apa???" Eliza seolah tidak percaya kata-kata seperti itu akan keluar dari mulut seorang Dirga yang menyebalkan.
Dirga mengangkat wajahnya, menatap Eliza yang memperlihatkan ekspresinya yang kebingungan.
"Aku akan memperlakukanmu sebagaimana mestinya, tidak akan jahat lagi dan menjagamu.."
Menjagaku?? Apa hanya karena aku menyiapkan sarapannya pagi ini bisa membuatnya jadi baik begini?
"Ke kenapa tiba-tiba??"
"Kenapa? Kamu gak suka kalau aku baik sama kamu?" Nada bicara Dirga yang tiba-tiba ketus, menyadarkan Eliza kalau dia masih saja Dirga yang menyebalkan, sebelumnya dia hanya membual dengan kata-katanya saja.
"Maksudku bukan begitu.." Eliza tidak segan-segan menjawab dengan nada yang sama ketusnya dengan Dirga. "Aku kaget saja, kenapa tiba-tiba mau baik sama aku.."
"Ya karena aku mau.. Aku rasa, gak enak kan kalau kita tinggal bersama tapi aku jahat.."
Sekarang juga kamu lagi jahat Dirga.
"Yah pokoknya begitu lah.. Aku bakal berusaha baik.." Lanjut Dirga.
Eliza hanya terdiam. Dia cukup terkejut mendengar perkataan Dzaki.
"Makanmu sudah selesai??"
Pertanyaan Dirga mengejutkan Hana yang sempat melamun sejenak berusaha mencerna perkataan Dirga sebelumnya.
"Ah? I Iyaa..."
Dirga beranjak, mengambil piring Eliza dan juga piringnya.
"Gak.." Tahan Eliza. "Biar aku saja yang mencucinya.."
"Tidak usah, bereskan saja mejanya kemudian mandi. Kita bisa terlambat ke sekolah nanti.."
Eliza hanya terdiam. Sejenak dia kesal pada Dirga, namun tidak butuh waktu lama untuk membuatnya kembali kebingungan dengan sikap Dirga yang menurutnya itu baik.
*****
Sudah bukan rahasia lagi, wanita lebih lama dalam berpakaian jika dibandingkan dengan laki-laki.
Eliza lebih dulu bersiap-siap, membersihkan meja makan membutuhkan waktu yang lebih singkat dibandingkan mencuci piring, namun alhasil Dirga lebih dulu siap dan sudah menunggu Eliza.
"Maaf maaf... Aku telat.." Menyadari dirinya yang datang terlambat, dengan langkah yang dipercepat, Eliza menghampiri dan meminta maaf pada Dirga.
"Kamu ini ngapain saja?" Tanya Dirga dengan wajahnya yang jelas terlihat sudah kesal.
"Maaf.." Tidak ada kata lain yang bisa dikatakan Eliza sebagai pembelaan.
"Yasudah ayo.." Dirga beranjak.
Ini adalah hari pertama Dirga berangkat sekolah ditemani oleh seseorang, meski dia merasa sedikit terganggu namun dia tetap melakukannya. Alasan klasik yang membuat Dirga tetap melakukannya itu demi kakaknya Delio. Selain itu, Dirga juga sudah terlanjur berjanji untuk menjaga Eliza.
"Loh..."
Eliza terkejut melihat Dirga yang terus-terus berjalan keluar pekarangan rumah melewati mobilnya.
"Kamu gak naik mobil??"
"Memangnya kamu bisa??" Tanya Dirga kembali.
Eliza terdiam sejenak. Dan akhirnya menggeleng setelah sadar, berada dimobil akan membawa ingatan yang buruk untuknya dan itu membuatnya trauma.
Dirga kembali meneruskan langkahnya, disusul Eliza yang harus berlari kecil untuk menyeimbangi langkah Dirga yang lebih luas.
"Apa sekolahnya jauh?" Tanya Eliza yang harus sambil mendongkak untuk bisa menatap Dirga yang cukup tinggi darinya.
"Iya.."
"Ja jadi kita? Kita lari-larian begini kesekolah??"
Dirga berbalik menatap Eliza.
"Lari-larian? Memangnya kamu lihat aku sedang berlari? Yang lari kamu saja tuh.." Ketusnya kata-kata Dirga kembali membuat Eliza kesal.
"Ya karena kamu jalannya terlalu cepat, jadi aku harus berlari kecil untuk menyusulmu.."
"Kakimu saja yang pendek sampai harus berlari untuk menyeimbangiku.."
Eliza tidak bisa lagi menyembunyikan ekspresi kesalnya.
Eliza berhenti sejenak, rasanya benar-benar kewalahan untuk mengikuti langkah kaki Dirga. Eliza mulai tertinggal agak jauh dibelakang, sedang halte masih didepan sana.
"Kenapa berhenti?" Tanya Dirga sembari menunggu Eliza ditempatnya.
Eliza tidak menjawab.
"Kenapa??" Dirga menghampiri Eliza.
"Aku capek ngejar kamu.."
"Ck.. Aku kan gak lari.."
"Tap.."
"Ayo.." Dirga meraih tangan Eliza dan menggandengnya. "Aku malas berdebat denganmu, buang-buang waktu dan kita bisa telat" Gerutu Dirga.
Eliza hanya mengikut, langkah Dirga pun dia sesuaikan dengan langkah Eliza yang lebih sempit karena kaki yang dimilikinya tidak cukup panjang.