Naaznen Eliza (2)

502 Words
Naaznen Eliza, gadis dengan ukuran tubuh yang mini. Matanya bulat dan bibirnya yang mendukung tubuh mininya untuk terlihat semakin imut, rambut ikalnya yang cukup panjang terurai begitu saja. Kecelakaan beberapa hari yang lalu membuat kesehatannya terganggu, dan yang gangguan yang terparah dari kesehatannya yaitu luka pada kepalanya yang membuatnya menjadi tidak bisa mengingat sesuatu. Jangankan mengingat hal lain, orang tua bahkan dirinya sendiripun dia tidak ingat. 'Naaznen Eliza' adalah satu-satunya peninggalan tersisa dari kehidupan sebelumnya, dia yang sekarang memulai kehidupan barunya dengan semua hal yang baru akan dia pelajari. Karena luka pada kepalanya itu juga yang membuat Eliza tidak mengingat bahwa nyawa orang tuanya telah direnggut dalam kecelakaan itu. POV Eliza. Jari-jariku kuremas satu sama lain sembari berjalan menunduk mengikuti pak Logan dari belakang menuju kamar yang dimaksud. Aku takut, khawatir dan perasaan bercampur aduk yang tidak bisa aku jelaskan. "Hufftt.. Eliza semua akan baik-baik saja" Aku mencoba menguatkan diriku. Pak Logan berhenti disalah satu pintu. "Nona Eliza silahkan masuk.." "Pak Logan tidak ikut masuk??" Pak Logan hanya tersenyum sambil menggeleng. "Kenapa?? Ayo masuk sama aku pak.." "Maaf Nona, hanya Nona yang dipanggil oleh tuan.." "Tapi pak.. Aku takut.." Dengan memasang wajah memelas dan memegang erat pergelangan tangan pak Logan, aku berharap pak Logan bisa berubah pikiran dan menemaniku masuk kedalam. "Nona tidak perlu takut, Nona kan sudah bertemu dengan pak Samuel sebelumnya. Apa menurut Nona pak Samuel menakutkan waktu itu.." "Tidak sih pak.." Genggaman tanganku pada pak Logan terlepas. "Tapi tetap saja aku takut.." "Jangan takut.. Nona masuk saja, saya ada disini menunggu Nona.." "Apa didalam hanya ada pak Samuel saja??" "Tidak, didalam juga ada Nyonya dan Tuan Muda beserta tunangan Tuan muda pertama" Sebanyak itu?? Ah nyaliku semakin ciut untuk melangkah masuk. "Tidak perlu khawatir seperti itu Nona" Sepertinya pak Logan bisa membaca ekspresi gelisahku, ah wajar saja dia bisa membacanya karena aku tidak bisa menyembunyikannya. "Tuan dan Nyonya orangnya sangat ramah, Tuan muda juga begitu dan lagi dia seusia dengan Nona jadi Nona dan Tuan muda bisa saling mengerti selayaknya remaja pada umumnya. Nona Ailee juga sangat ramah.." Meski pak Logan sudah menjelaskan seperti apa mereka, tetap saja aku merasa gelisah. "Nona, mau tidak mau Nona tetap akan berhadapan dengan keluarga pak Samuel. Hari ini jika Nona tidak melangkahkan kaki masuk kedalam, besok atau lusa Nona tetap akan bertemu dengan mereka. Tidak ada gunanya Nona menunda-nunda untuk bertemu dengan keluarga pak Samuel.." Jelas pak Logan Benar juga apa yang dikatakan pak Logan, tidak seharusnya aku takut seperti ini karena cepat atau lambat aku akan berhadapan dengan keluarga itu. Aku harusnya berterimakasih dengan mereka karena mereka mau menerima orang sepertiku yang bahkan diri sendiripun aku tidak ingat. Aku akhirnya memberanikan diri melangkah masuk. Tidak ada yang menghiraukan aku yang sekarang berdiri didepan pintu dengan masih memegangi ganggang pintu. Mereka semua seperti sibuk dengan pembahasan yang akupun tidak tahu. Aku mengarahkan pandanganku melihat semuanya. Mataku terpaku pada laki-laki yang sedang berbaring dengan selang yang menempel di hidungnya penghubung dengan okisgen yang membantunya untuk tetap bertahan. Ah tidak ada yang menyadari keberadaanku
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD