Naaznen Eliza

524 Words
Dirga memalingkan wajahnya, ingatan tentang Ailee sejenak membuatnya kembali terperangkap masuk dalam luka perasaannya yang sudah dia kubur dalam-dalam. Meski Dirga sangat menghindari Ailee untuk membuat perasaannya tetap tenang, namun dihadapan orangtunya Dirga masih meladeni bicara Ailee seperti biasanya, dia tidak ingin masalah pribadinya dengan Ailee terkuak dan terdengar oleh Ayahnya. Dirga sadar, hal itu akan menambah beban pikiran Ayahnya juga kakaknya. "Apa kabar Dirga??" Sapa Ailee. "Seperti yang kamu lihat.." Jawab Dirga senyum smirik. "Kenapa judes begitu?" Tanya Nara mendengar nada bicara Dirga yang tidak biasanya. Meski Dirga berusaha menutupi sakit perasaannya pada Ailee, tetap saja ada waktu dimana dia tidak bisa mengendalikan diri dengan baik sehingga sesekali perilakunya bisa terbaca oleh orang sekitarnya. Namun Dirga selalu memiliki jawaban yang bisa meredam pikiran-pikiran orang lain tentang perilakunya yang mulai berubah pada Ailee. "Aku masih kebawa kesal saja karena kamu yang gak berpihak sama aku.." Jawan Dirga pada Nara sambil kembali melirik Ailee dengan pandangan ogah-ogahan. "Ya ampun.. Kamu ini kenapa dendam sekali sih Dirga.." Nara mulai kesal. "Aku memang suka dendam, suka gak bisa terima sama hal yang sebelumnya menjadi milikku tapi harus berbagi dengan oranglain.. Ah bukan berbagi, tapi menjadi milik oranglain secara utuh.." Dirga seperti sedang meluapkan perasaannya, lirikan matanya masih tidak lepas dari sosok Ailee yang tertunduk mendengar jawaban Dirga. "Ck.. Aku ini ngomong apa sih? Kenapa bisa kelepasan?? Hadehh udah setahun tapi masih saja ini mulut gak bisa dikontrol.." Batinnya kesal. "Maksudmu? Kenapa omonganmu melenceng sekali??" Nara sampai kebingungan mendengar jawaban Dirga. "I itu.. Ma maksudku tentang rumahku.. Awalnya itu adalah rumahku seutuhnya dan sekarang harus berbagi dengan orang lain.." Jawab Dirga ngeles. Ailee yang sedari tadi menunduk mendengar semua perkataan Dirga yang seolah diarahkan padanya secara tidak langsung, mengangkat kepalanya menatap Dirga. "Ber berbagi rumah?? Dengan siapa??" Tanya Ailee dengan tatapannya yang kebingungan bercampur penasaran. "Permisi.. Bapak memanggil saya??" Spontan semua mata tertuju pada sumber suara. "Dia orangnya?" Gumam Dirga menatap wanita berkulit putih yang entah sejak kapan berdiri dipintu kamar rawat inap Delio. Bibir kecilnya dibuat maju kedepan memperlihatkan pada dunia betapa imutnya dia. Dedaunan diluar terus-terusan ditatapnya meski itu sama sekali tidak menarik perhatiannya. Tidak ada hal yang bisa dia fokuskan, hanya rasa penasaran yang terkadang berbaur dengan rasa bosan yang menghampiri. Tok tok.. Eliza, gadis yang sedari tadi duduk sendiri dikamar rawat inapnya itu menoleh. "Pak Logan.." "Bagaimana kesehatan anda pagi ini Nona?" Pak Logan begitu ramah menyapa gadis yang bahkan dirinya sendiri pun dia tidak ingat. "Ah, mulai membaik.." Jawabnya tersenyum ramah. "Nona dipanggil oleh pak Samuel untuk bertemu di kamar ujung.." "A aku??" Dia menunjuk dirinya sendiri sembari membulatkan matanya yang dasarnya memang sudah bulat. "Iya Nona.." "Ta tapi kenapa??" Tanyanya ragu-ragu. "Saya juga tidak tahu, mungkin hari ini Nona sudah boleh keluar dari Rumah sakit sehingga bapak akan memberi tahu dimana Nona akan tinggal.." Dia terdiam sejenak, seperti ada perasaan risau untuk bertemu dengan laki-laki paruh baya yang baru dia temui 3 hari yang lalu setelah sadar dari kecelakaan yang menimpanya. "Mari Nona, pak Samuel sudah menunggu" Perlahan Eliza beranjak dari ranjangnya yang sudah dia tempati selama tiga hari belakangan ini. Baju pasien yang berukuran besar membuat tubuhnya yang kecil semakin tenggelam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD