Dirga duduk menikmati luasnya langit dengan taburan bintang yang membuatnya terlihat ramai, sambil menikmati secangkir kopi yang sudah dipesan sebelumnya. Sebuah cafe outdor dengan interior alam yang menyajikan pemandangan malam, menjadi tujuan Dirga saat melarikan diri dari pertemuan keluarga itu.
Dirga tersenyum kecil, beberapa ingatan terlintas di kepalanya yang memberikan rasa bahagia baginya.
Pukk..
Dirga menoleh merasakan pundaknya di tepuk seseorang.
"Kak Delio??"
Sosok Delio yang ditangkap oleh indra penglihatannya, membuat dahinya mengkerut menyadari keberadaan kakaknya.
Delio hanya tersenyum.
"Kakak kok disini?"
"Iya, nyusulin kamu.."
"Kakak tahu aku disini??"
"Memangnya ada hal yang aku tidak tahu dari kamu??" Delio melangkah dan mengambil posisi duduk pada kursi kosong disamping Dirga.
Dirga hanya tersenyum, dia tidak memungkiri apa yang kakaknya katakan. Dia sendiri cukup tahu, bagaimana kakaknya itu mengenal dirinya mungkin lebih dari dia mengenali dirinya sendiri. Tidak satu dua kali Dirga melarikan diri ke cafe ini, sehingga bukan lagi hal yang baru jika Delio mengetahui keberadaannya saat ini.
"Kabur??"
Dirga menoleh, menatap Delio. Bukan hanya keberadaannya pada cafe itu yang diketahui oleh Delio, Delio bahkan bisa menebak tentang dirinya yang melarikan diri dari pertemuan keluarga yang sama-sama mereka hadiri sebelumnya.
"Iya.." Jawab Dirga tersenyum.
"Kenapa? Gak nyaman sama pembahasan Ayah?" Tanya Delio mulai mencari tahu penyebab adiknya yang melarikan diri.
Apa kamu cemburu sampai harus melarikan diri dari agar tidak mendengar percakapan Ayah, Dirga? Jika iya, lalu bagaimana perasaanmu pada Eliza sebenarnya? Bukankah demam mendadakmu ketika dekat dengan Eliza itu, adalah rasa cinta yang tidak kamu sadari?
Dirga menggeleng.
Pembahasan Ayah tidak mengganggumu? Apa itu berarti kamu??
"Terus??" Delio mencoba mencari tahu lebih.
"Kak, kakak ingat waktu aku pernah cerita tentang aku yang mungkin trauma dekat-dekat sama Eliza?"
"Iya, kenapa?"
"Aku sadar, itu bukan karena aku trauma. Tapi karena aku mulai suka sama Eliza. Ah bukan, bukan mulai suka, tapi aku sudah suka sama Eliza"
Jadi dia sudah menyadari perasaannya. Percakapan Ayah bersama Ayah Ailee sudah tidak menganggu Dirga lagi dan itu berarti, Ailee sudah terganti di hati Dirga sekarang. Eliza sudah berada disana.
"Jadi sekarang?"
Dirga hanya tersenyum lalu menggeleng. "Eliza gak tahu kalau aku suka sama dia, dan aku gak berani buat ngomong"
"Kenapa?"
"Aku takut, Eliza jadi menghindar kalau dia tahu aku suka sama dia. Aku juga gak tahu, gimana caranya mau ngomong sama Eliza"
"Perasaan Eliza ke kamu gimana?"
Dirga menggeleng sekali lagi "Aku gak tahu. Makanya aku gak berani ngomong sama Eliza"
Delio masih mencoba melanjutkan obrolannya bersama Dirga, meski ada hal yang lain yang menganggu pikirannya.
Delio senang melihat adiknya itu mulai membuka hati pada oranglain. Bagaimana tidak, adiknya yang selalu menutup diri pada perempuan itu akhirnya bisa keluar dari cangkangnya. Dirga akhirnya bisa merasakan rasa cinta yang sesungguhnya, bukan rasa cinta yang dia dapatkan hanya karena terbiasa dengan kehadiran seseorang, seperti yang dia rasakan saat bersama Ailee dulu.
Namun, dibalik rasa senang melihat Dirga yang mulai merasakan cinta itu, teriring juga rasa khawatir Delio. Saat ini, Dirga menyukai Eliza, lalu bagaimana dengan Ailee yang masih sangat mencintai Dirga juga. Ailee sendri tengah berjuang saat ini untuk bisa bersama Dirga di kemudian hari.
"Lalu perasaanmu sama Ailee bagaimana?"
Spontan Dirga berbalik menatap Delio.
"Ba bagaimana apanya?"
"Bukannya kamu suka sama Ailee?"
"I itu dulu kak, sekarang aku sama Ailee udah gak ada apa-apa lagi.."
Tidak ingin Delio salah paham, Dirga berusaha menjelaskan tentang hubungannya dengan Ailee yang sudah berakhir. Meski beberapa bulan yang lalu, Dirga masih berkoar-koar pada perasaannya yang masih sangat menyukai Ailee
"Ha ha ha kenapa jawabnya begitu? Aku kan cuman tanya saja.."
Tawa Delio pecah melihat Dirga yang begitu gugup menjawab pertanyaannya.
"Jadi perasaanmu benar-benar sudah hilang pada Ailee"
"I iya kak.. Kenapa kakak nanyanya itu. Lagian kan aku gak mungkin suka sama tunangan kakak"
Delio tersenyum.
"Aku tahu, terakhir kali kita makan bersama dirumahmu, kamu masih suka kan sama Ailee waktu itu?"
Dirga mengalihkan pandangannya.
"Maaf kak.."
"Kenapa minta maaf, itu bukan kesalahan, bukan juga kejahatan. Kalau kakak di posisimu, kakak juga pasti sama sepertimu. Melepaskan orang kita cintai untuk orang yang kita sayangi itu sulit Dirga"
Dirga terdiam sejenak.
"Jujur saja, awalnya aku gak terima Ailee lebih milih kakak ketimbang aku. Aku marah dan memilih menghindar dari Ailee. Tapi semakin aku menghindar, semakin jelas juga perasaan sakitku"
Dirga mulai menceritakan semua hal yang sebenarnya terjadi, tentang perasaannya dan hal-hal yang berhubungan dengan Ailee.
"Selain marah sama Ailee, aku juga marah sama diriku sendiri karena gak bisa ngelupain Ailee. Aku selalu menyadarkan diriku, mengingatkan diriku kalau Ailee itu punya kakak. Aku selalu berusaha ngelupain Ailee, kata-kata Ailee tentang dia yang lebih milih kakak daripada aku, terus-terusan aku jadikan motivasi untuk bisa ngelupain Ailee. Tapi nyatanya, memang tidak semudah itu"
Dirga berhenti sejenak, mengambil nafas. Delio terus menatapnya dengan menunggu cerita Dirga selanjutnya.
"Kakak tahu kan aku susah tidur?"
Delio hanya mengangguk.
"Itu karena setiap malam aku terus-terusan kepikiran sama pilihan Ailee, kenapa dia milih kakak dan bukan aku. Pikiran yang tidak ada habisnya. Tidak sampai disitu, setiap malam juga aku terus-terusan mikirin cara biar bisa ngelupain Ailee, sampai kuputuskan untuk menghindari Ailee, biar bisa lebih muda melupakan"
Delio begitu prihatin mendengar cerita Dirga. Dia tidak pernah menyangka, sesulit ini Dirga dalam berjuang melupakan Ailee. Adik satu-satunya itu butuh perjuangan keras dalam melupakan orang yang dicintainya. Dia dulunya masih lebih beruntung, lebih bisa menerima melepaskan wanita yang dicintainya saat itu. Setidaknya, tidak ada kata saling mencintai diantara dirinya dan wanita itu, sehingga dia tidak perlu terngiang-ngiang kata-kata manis wanita yang dicintainya. Sedangkan Dirga, dia harus menahan sakit tiap kali ingatannya kembali mengingat bagaimana Ailee pernah mencintainya dulu.
"Aku sempat menyerah, dan memilih untuk membiarkan perasaan cintaku pada Ailee. Aku sadar, semakin aku menahan perasaanku, semakin aku memaksakan diri untuk melupakan Ailee, maka semakin sakit juga hatiku dan semakin kuat ingatanku tentang Ailee. Tapi..."
"Tapi???"
"Aku akhirnya bisa melepaskan Ailee sekarang. Meski aku gak ngelupain semua hal tentang Ailee, tapi akhirnya aku bisa melepaskan rasa cintaku dan melihat Ailee seperti teman. Perasaanku akhirnya berubah, dan itu berkat Eliza"
"Eliza? Karena kamu suka sama Eliza makanya perasaanmu bisa melepas Ailee?"
Dirga menggeleng.
"Eliza ngajarin aku untuk mengikhlaskan, bukan melupakan. Aku akhirnya bisa mengikhlaskan Ailee sama kakak tanpa harus melupakan kalau sebelumnya aku dan Ailee punya hari-hari bahagia juga. Eliza mengajarkan banyak hal sama aku kak. Eliza terus-terusan ngasih jawaban yang aku butuhkan selama ini"
Aku tidak perlu bertanya alasan hatimu bisa berpindah. Dari apa yang kamu ceritakan, aku sudah mengerti, bagaimana Eliza bisa mengambil alih perasaanmu
Delio tersenyum. Tidak ada alasan baginya untuk menghalau perasaan Dirga pada Eliza, demi membantu Ailee melanjutkan rencananya. Delio sudah mendengar, bagaimana adiknya berada dalam kesulitan saat ingin melupakan Ailee, jadi bagaimana bisa dia menghadirkan kembali wanita yang sudah bersusah payah adiknya lupakan itu, untuk kembali ke kehidupannya yang akan datang. Juga bagaimana bisa dia menghalangi perasaan adiknya pada Eliza, sedang Eliza adalah orang yang memberi cahaya pada gelapnya jalan yang ditempuh adiknya dalam menemukan cintanya yang baru.
Sebelumnya Delio selalu meminta Ailee untuk jujur pada Dirga agar membahas semua rencanya pada Dirga. Namun Ailee terus menolak, dengan dalih takut jika Dirga marah pada Ayahnya sehingga jalan untuknya bersatu bersama Dirga semakin sulit.. Namun kenyataan yang ada sekarang, kekhawatiran Ailee tentang Dirga yang akan marah pada Ayahnya itu tidak lagi berguna.
Tidak lagi ada alasan bagi Dirga untuk marah pada Ayah Ailee, mengingat perasaannya yang sudah melepas Ailee dan berlabuh pada Eliza saat ini.
Hal yang mulai dikhawatirkan Delio saat ini adalah, bagaimana jika Ailee akhirnya membahas masalahnya pada Dirga, yang bisa membuat Dirga menjadi bimbang pada perasaannya. Bagaimana jika seandainya Dirga tahu bahwa perasaan Ailee masih sama seperti dulu dan akhirnya mengalami kebimbangan. Karena salah satu alasan yang membuat Dirga mudah memberi ruang bagi Eliza dalam hatinya adalah karena pikiran yang Dirga punya tentang Ailee, ialah Ailee yang tidak mencintainya lagi.
"Kalau begitu jalani pelan-pelan?"
Dirga menatap Delio, Dirga tidak cukup mengerti dengan apa yang baru saja Dansih katakan.
"Maksudku, nikmati hari-harimu bersama Eliza. Jalani pelan-pelan sampai kemudian hari, kamu ketemu waktu untuk bilang sama Eliza tentang perasaanmu. Jangan terus-terusan jadi pengecut, takut akan penolakan sampai kamu terus-terusan hanya diam. Cepat atau lambat kamu harus mengungkapkan perasaanku, tapi lebih baik lagi kalau cepat"
Dukungan yang di berikan Delio membuat perasaan Dirga sedikit lebih baik. Pesimisnya sedikit menurun, sebaliknya kepercayaan dirinya meningkat satu level.
"Makasih kak.."
Delio hanya tersenyum.
"Oh iya, tadi kakak bilang 'melepaskan orang yang kita cintai untuk orang yang kita sayangi itu sulit'?"
"Iya, kenapa?"
"Kakak pernah??"
Delio terdiam sejenak. Kemudian tersenyum sembari menggeleng. "Tidak" Jawab Delio. "Kenapa?"
"Gak. Jawaban Kakak, seperti kalau kakak pernah di posisi itu.."
"Ha ha pikiranmu saja" Delio tersenyum mengalihkan pandangannya dari Dirga yang menatapnya.
Ya pernah, dan kondisiku lebih sulit lagi. Menerimanya lebih sulit lagi dan hubungan yang kumiliki dengannya lebih rumit dan lebih menyakitkan. Hanya saja aku lebih beruntung dalam hal melepaskan. Setidaknya aku tidak pernah mendengar dia mengatakan cinta, karena hanya aku saja yang mencintainya. Berbeda denganmu yang harus dihantui dengan ungkapan cinta Ailee, juga rasa sayang Ailee yang menjadi konsumsi keseharianmu dulu.
Keduanya memulai obrolan yang lain, keluar dari pembahasan yang cukup berat sebelumnya.
Ponsel yang Delio letakkan diatas meja saat tiba sebelumnya, berdering. Delio juga Dirga spontan menoleh bersamaan menatap layar ponsel dengan menampilkan nama pemanggil. Panggilan dari Ailee.
Delio menjawab panggilannya. Dirga hanya terdiam, memberi waktu Delio untuk berbicara via telfon.
"Dirga, aku kembali dulu. Sepertinya ada hal yang mau Ailee bahas.."
"Iya, kakak hati-hati"
"Kamu juga pulanglah. Mungkin Eliza lagi nungguin kamu dirumah"
"Eh, Eliza sudah pulang?"
"Iya, kamu pikir aku bisa ada disini kalau pertemuan itu masih berlangsung.."
"Ja jadi Eliza pulang sama siapa? Eliza gak pernah naik bus sendirian"
Terlihat jelas bagaiamana Dirga mengkhawatirkan Eliza.
Apa kamu segitu cintanya, sampai mengkhawatirkan Eliza seperti ini.
"Eliza pulang sama Ibu, Ibu nganter Eliza pulang tadi.."
"Oh syukurlah.."
"Yasudah, kamu cepat pulang juga. Eliza sendiri dirumah sekarang.."
"Iya kak.."
Delio berlalu, meninggalkan Dirga yang sedang berjalan menuju kasir.
Biarkan perasaanmu mengalir, kamu sudah berjuang keras dalam melupakan. Sekarang, nikmati masa-masa jatuh cintamu itu. Tentang hal lainnya, biar aku yang mengurusnya.