Is this Love?
Terkadang aku mengerti, namun terkadang pula menjadi hal yang tidak kumengerti.
Ada banyak kata yang bertebaran disekitarku,
Tapi tak satupun yang bisa menjelaskan perasaanku.
Aku hanya merasa,
Seperti bulan terbit setelah matahari terbit
Kaulah yang mengubah ingatanku menjadi kenangan
Seseorang yang mampu membuat, seseorang sepertiku bisa mencintai.
Kau menggetarkan hatiku..
Kau membuat pria dewasa ini, bertingkah seperti anak kecil.
Apa kau memang sehebat itu sampai bisa membuatku merasa gugup?
Trivia-Love & Boy In Luv - BTS
Punggung Dirga menjadi pemandangan bagi Eliza yang tengah menunggu Dirga memutar film yang sudah mereka setujui berdua.
Layar lebar yang sedari tadi hanya memberi gambar dengan satu warna disertai merk dari alat elektronik itu, akhirnya mulai menampilkan film yang akan mereka tonton.
"Mau kemana?" Tanya Eliza saat melihat Dirga melangkah, bukannya untuk duduk di sampingnya melainkan berjalan menuju arah lain.
"Mau ambil cemilan.."
"Cepat, nanti filmnya keburu jauh" Kata Eliza dengan pulpen dan kertas yang sudah siap ditangannya untuk menulis sesuatu yang terbesit dipikirannya saat menonton film nanti.
Dirga seperti sebuah pion yang begitu ikhlas di kendalikan oleh Eliza. Kata cepat yang dilontarkan Eliza seperti sebuah perintah baginya. Langkah yang sebelumnya normal itu seketika berubah dipercepat sesuai keinginan Eliza.
Tidak cukup lama, Dirga kembali dengan membawa beberapa makanan kecil dan sebotol air hangat.
"Ini ada air, kenapa bawa air lagi?"
Water jug yang berisi air penuh lengkap beserta gelasnya terpajang dengan cantik di meja depan mereka, membuat botol air yang dibawa Dirga menarik perhatian Eliza.
"Untuk kamu" Kata Dirga sembari menyodorkannya pada Eliza.
"Hangat?"
"Iya.."
Eliza hanya menatap Dirga dengan bingung.
"Aku baca di internet, keram perut bisa terasa enakan kalau di kompres dengan air hangat. Jadi aku bawakan itu biar keram perutmu bisa lebih membaik"
Eliza mengalihkan pandangannya, perlakuan Dirga begitu manis sampai hal seperti ini pun dia siapkan.
"Ma makasih.."
Dirga hanya tersenyum mendapat ucapan terimakasih dari Eliza, kemudian mengambil tempat duduk disamping Eliza.
Keduanya mulai fokus pada film yang sedang menghias di layar berukuran 43 inch itu. Meski fokus pada film yang sedang tayang, Dirga tetap saja sesekali melirik Eliza. Bola matanya begitu tidak tahan untuk tidak melihat Eliza, terlebih lagi saat ini Eliza sedang duduk tepat di sampingnya.
Ledakan tawa Eliza yang tiba-tiba saat film menayangkan scene komedi, sesekali membuatnya terkejut. Namun, tetap saja keterkejutannya itu hanya berlalu tiada arti saat rasa bahagia melihat Eliza tertawa lepas, menghampirinya.
Waktu berlalu, film yang mereka tonton mulai memasuki bagian klimaks membuat Dirga yang awalnya terus-terusan melirik Eliza menjadi fokus pada film.
"Hikss.."
Isak Eliza membuat fokus Dirga yang tidak cukup beberapa lama itu menjadi teralihkan.
"Eliza.. Kamu kenapa?" Tanya Dirga terkejut melihat airmata Eliza perlahan menetes.
Tidak ada jawaban dari Eliza.
Scene yang sedang tayang memang sedang menampilkan dimana main male dan female dalam film itu mengalami kecelakaan dan menciptakan suasana sedih dalam film tersebut. Namun menurut Dirga, itu seharusnya tidak cukup bisa membuat Eliza terbawa perasaan dan ikut menangis.
"Hey itu hanya film, jangan terlalu di hayati"
Dirga mencoba menenangkan Eliza. Sehelai tissue ditarik dari tempatnya dan diberikan pada Eliza.
"Mau sudahan aja nontonnya?"
Eliza menggeleng.
"Ya daripada kamu nangis terus. Padahal menurutku ini gak terlalu sedih.." Komentar Dirga pada film itu, yang menurutnya tidak cukup sedih untuk bisa membuat penontonnya ikut menangis.
"Bukan..." Suara Eliza yang mulai parau dan masih saja terisak.
"Bukan apanya?"
"Bukan aku terlalu menikmati Film ini. Aku hanya membayangkan, mungkin seperti ini kita hari itu"
"Maksudmu?"
"Saat kecelakaan itu. Mungkin kita seperti pada film ini, tertabrak dan tidak sadarkan diri. Hanya saja aku sedikit sial dibanding pemeran utama dalam film ini. Setidaknya dia masih ingat semua hal tentangnya, tapi aku??" Airmata Eliza semakin deras.
Meski ingatannya tentang masa lalu telah terkubur dalam otaknya, namun Eliza masih bisa memikirkan pengandai-andaikan tentang kecelakaan yang menimpanya saat itu.
"Tapi apa yang ngebuat aku lebih beruntung? Itu karena ada Ayah, Mami, kak Delio dan kamu yang masih mau nerima aku.."
Melihat Eliza yang tidak bisa menahan tangisnya, membuat Dirga secara tak terperintah mendekati Eliza dan memeluknya, mencoba memberi Eliza ketenangan.
"Jangan dipikirkan. Kamu tidak perlu ingatanmu, aku dan semuanya tidak akan peduli dengan ingatanmu yang hilang itu. Yang harus kamu tahu sekarang, kamu ada disini dan kamu adalah bagian dari kami"
"Aku rasanya sedih sekali. Meski aku gak ingat, tapi aku bisa membayangkan hari itu.."
Eliza semakin sulit mengendalikan perasaannya, tatkala pikirannya berhasil membuat bayangan kejadian mengerikan yang membuat ingatannya menjadi hilang.
"Jangan di bayangkan lagi"
"Aku takut Dirga. Aku takut.."
"Apa yang kamu takutkan Eliza, ada aku disini. Sudah, buang pikiranmu tentang hal yang mengerikan itu.."
"Ba bagaimana.. Kalau suatu hari nanti kalian ninggalin aku saat tahu siapa aku yang sebenarnya. Aku tidak tahu asal usulku Dirga, aku tidak tahu seperti apa aku sebelumnya, aku tidak tahu diriku ini siapa dan bagaimana sebenarnya aku.."
Dirga melepas pelukannya, memegangi pundak Eliza dengan sedikit kuat.
"Hey, kamu ini bicara apa sih?? Aku, Ayah, Mami ataupun kak Delio tidak akan peduli dengan masa lalumu. Kalaupun kami tahu, kami tetap akan bersamamu Eliza"
"Bagaimana kamu bisa yakin dengan kata-katamu Dirga. Aku ini orang yang.."
"Berhenti bicara yang tidak-tidak. Kamu tidak perlu memikirkan tentang fakta seperti apa kamu sebelumnya, yang harus kamu tahu sekarang, adalah hidupmu yang baru. Hidupmu yang hanya ada aku dan keluarga ini. Jangan buat pikiranmu terlalu jauh dalam mengandai-andai dan jangan buat kepalamu sakit hanya karena memaksa untuk mengingat hal yang gak bisa kamu ingat"
Eliza hanya menatap Dirga dengan airmatanya yang terus menetes.
"Apa kamu mau nyusahin aku lagi? Kamu lupa kalau setiap kamu memaksa untuk mengingat sesuatu, kamu bakal jadi orang yang gak bisa di kendalikan, dan itu ngebuat aku kewalahan ngehadapin kamu.. Jadi, berhenti membuat aku susah dengan kamu yang selalu memaksa ingatanmu itu Eliza"
Eliza hanya mengangguk pelan.
"Mulai sekarang, jangan pernah membayangkan hal-hal seperti tentang bagaimana kamu sebelumnya. Pokoknya niat membayangkanpun tidak boleh. Kamu adalah Eliza yang sekarang, Eliza yang hidup dalam jangkauanku.."
Eliza kembali mengangguk.
"Jangan mengangguk saja. Aku bakal marah kalau kamu seperti ini lagi"
"Iya.." Jawab Eliza dengan suara parau sambil terisak.
"Sudah, jangan menangis lagi.."
"Makasih Dirga.."
Dirga hanya mengangguk diiringi senyumannya.
Eliza bersandar di punggung sofa, Dirga memberinya segelas air agar bisa membuatnya tenang lebih cepat.
"Mau ganti filmnya saja??" Tawar Dirga. "Atau mau nonton mv lagu kesukaanmu itu??"
"Tapi kamu kan gak suka itu.."
"Malam ini aku ngalah sama kamu.."
Dirga melangkah dan mengganti film dengan Mv lagu kesukaan Eliza. Untuk kali ini, Dirga menurut dan ikut menonton video music yang di gemari Eliza meski Dirga sangat tidak suka dengan itu.
Entah berapa lama keduanya menikmati music video itu. Lebih tepatnya, entah berapa lama Eliza menikmati tayangan music video kesukannya dan berapa lama juga Dirga memperhatikan Eliza.
"Kamu kecapean nangis, akhirnya sampai ketiduran disini kan??"
Benar kelelahan karena setelah menangis atau karena malam yang sudah semakin larut sampai membuat Eliza tertidur ditengah-tengah dirinya yang sedang menonton itu. Atau mungkin saja alunan merdu dari lagu-lagu itu membuat Eliza menjadi lebih rieks hingga tertidur.
Dirga mendekat, meletakkan tangannya pada kaki dan punggung Eliza, membawa Eliza ke kamarnya untuk tidur dalam posisi yang lebih nyaman. Dirga meletakkan Eliza ditempat tidurnya, memberinya selimut dan tak lupa menyalakan lampu tidur diatas meja samping tempat tidur Eliza sebelum mematikan lampu utama dalam kamar tidur Eliza.
"Bukan kamu yang beruntung karena kami yang menerimamu Eliza. Jika kamu ingat, mungkin saja kamu sudah menuntut kami karena kecelakaan itu merenggut nyawa kedua orangtuamu. Mungkin kamu memiliki keluarga yang bahagia sebelumnya, namun akkhirnya berakhir menjadi bagian dari keluargaku. Aku janji, aku akan mengembalikan kebahagiaanmu itu suatu hari nanti. Aku akan menjadi pelindung seperti Ayahmu, dan memenuhimu dengan segala perhatian seperti Ibumu. Tunggu saja.."
Dirga beranjak, mematikan lampu utama dalam kamar Eliza dan menutup dengan baik pintu kamarnya sebelum dia meninggalkannya.
*****
Waktu menunjukkkan pukul 19:15. Dirga sudah menunggu Eliza di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Hari ini mereka harus memenuhi undangan keluarga Ailee untuk makan malam bersama sembari mempererat tali silaturahmi diantara kedua keluarga.
Suara langkah kaki yang semakin mendekat, membuat fokus Dirga pada ponselnya teralih. Sebuah pemandangan yang begitu indah di sajikan oleh seseorang yang membuat jantungnya terus berdetak tidak karuan beberapa bulan terakhir ini.
Tubuh kecil yang dibalut dengan gaun berjenis flare dress tanpa lengan berwarna vermilion itu cukup bisa membuat Dirga menatapnya tanpa berkedip. Olesan make up tipis, dengan sentuhan eyeshadow pink nude yang begitu lembut dan blush on di sapukan tipis berwarna senada, juga warna lipstik nude yang diberi sentuhan liptint merah muda menghias bibirnya, membuat Dirga benar-benar terhipnotis.
Pandangannya tidak teralihkan, terlihat jelas bagaimana Dirga sedang takjub melihat penampilan Eliza malam ini. Bagaimana tidak, Eliza yang setiap harinya hanya menggunakan baju kaos dengan wajah polos tanpa make up, sekarang berubah menjadi perempuan yang begitu cantik dimata Dirga hanya dengan polesan make up tipis dan gaun yang sangat cocok dengan warna kulit dan ukuran tubuhnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Eliza bingung melihat Dirga yang sedari tadi memandanginya.
Pertanyaan Eliza, memberi kesadaran Dirga kembali.
"Ti tidak.." Dirga mengalihkan pandangannya.
"Ayo, Ayah dan yang lainnya pasti sudah menunggu.."
Dirga beranjak dari duduknya, dan memperbaiki setelan jas yang dia gunakan.
"Kamu pake make-up?" Tanya Dirga tanpa menatap Eliza sembari meluruskan posisi jam tangan yang dipakainya.
"Kentara banget ya?? Jelek ya??"
"Gak kok, cantik" Dirga menatap Eliza dengan senyumannya. "Ayo.."
Eliza mengekor dibelakang Dirga, berjalan keluar dengan tas kecil yang hanya berisi dompet dan ponsel di tentengnya.
"Kenapa berhenti?" Tanya Eliza melihat Dirga menghentikan langkahnya.
Dirga melepas jas yang dia gunakan, berbalik dan memasangkan pada Eliza.
"Kenapa pakai baju tanpa lengan begini sih? Ini kan malam, kamu bisa kedinginan. Kita juga akan naik bus, kamu bisa diliatin orang nanti"
Eliza hanya terdiam mendapat perlakuan dari Dirga.
"Ayo.."
Dirga meraih tangan Eliza, menggenggamnya sedikit erat dan mulai melanjutkan langkah yang sempat tertunda.
Aku harus memegangmu, agar laki-laki yang melihatmu harus berpikir dua kali jika ingin mengenalmu.
*****
Dirga dan Eliza tiba pada sebuah restoran, tempat dimana keduanya diberi tahu sebagai tempat pertemuan malam ini. Jas yang tadi diberikan Dirga pada Eliza, di kembalikan Eliza sebelum mereka memasuki restoran itu. Genggaman tangan Dirga juga dilepasnya, akan menimbulkan pertanyaan jika Dirga terus-terusan menggenggam tangan Eliza.
Langkah keduanya memasuki ruangan yang telah direvervasi sebelumnya. Disana sudah hadir Ayah dan Ibu tirinya, Ayah Ailee, juga Ailee dan Delio.
Dirga memperlihatkan senyumnya dengan ramah, demikian juga dengan Eliza.
"Maaf, kami datang terlambat"
Dengan sopan Dirga memperlihatkan rasa tak enak hatinya karena datang terlambat.
Sekilas pandangan Dirga tertuju pada Ailee dan keduanya sempat beradu pandang sejenak. Dirga hanya tersenyum kemudian kembali menyapu semua orang dalam ruangan dengan pandangannya.
"Tidak apa, kami semua juga baru tiba" Jawab Ayah Ailee.
"Aduh Eliza, malam ini keliatan manis sekali.." Puji Nara. "Sudah lama sekali ya aku gak main kesana"
"Makasih Mami.. Ah iya, aku jadi kangen sama Mami.."
"Sama Mami saja? Sama Ayah tidak?" Samuel seperti tidak mau kalah untuk mendapat respon dari Eliza.
"Eliza juga rindu sama Ayah. Kapan-kapan mampir kesana buat ngejenguk aku.."
"Iya sayang" Senyum seorang Ibu dipancarkan oleh Nara. Meski usianya masih begitu muda, namun pembawaan Nara perlahan memperlihatkan bagaimana dia yang memperlihatkan kelayakan diri sebagai seorang Ibu.
Senyuman Nara yang dia tujukan pada Eliza itu menarik perhatian Delio. Entah mengapa perempuan yang sudah menjadi Ibunya itu, masih saja bisa membuatnya terus memandanginya tanpa bosan.
"Jadi dia..??"
Ayah Ailee yang hanya tahu tentang Eliza dari cerita Samuel tanpa pernah melihatnya, membuatnya berusaha menarik kesimpulan tanpa yakin.
"Ah iya, belum pernah liat Eliza ya. Ini dia pak, Eliza yang selalu saya ceritakan itu" Samuel memberi penjelasan pada Ayah Ailee.
"Wah cantik sekali.."
Eliza hanya tersenyum mendengar pujian dari orang yang baru ditemuinya itu.
"Eliza, bapak ini Ayah Ailee. Kedepannya mungkin kamu bakal sering melihatnya"
Eliza mengarahkan pandangannya pada Ayah Ailee, menunduk memperlihatkan rasa hormatnya dan memberikan senyuman manis memberikan kesan yang ramah. Ayah Ailee balas tersenyum.
Makan malam bersama dinikmati bersama, diselingin dengan obrolan dan candaan yang membuat suasana harmonis tercipta. Semuanya larut dalam keakraban dan suasana kekeluargaan yang begitu hangat. Sajian terus berdatangan, dari makanan pembuka yang disusul oleh makanan utama dan ditutup oleh desert dengan berbagai varian.
"Ah iya, bagaimana hubungan kalian? Baik-baik saja kan?" Tanya Ayah Ailee sembari mengarahkan pandangannya pada Delio dan Ailee yang duduk bersampingan.
"Baik Om.." Jawab Delio tersenyum.
"Harus baik Delio, Ayah akan memberimu ultimatum kalau membuat Ailee dalam keadaan tidak senang.." Tegur Samuel dengan bercanda.
"Aku kan anak Ayah, seperti Ayah memperlakukan Ibu dengan baik" Delio menatap Nara sejenak. "Aku juga akan memperhatikan wanitaku dengan baik" Lanjut Delio.
"Ha ha ini nih yang dibilang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Aku jadi semakin bangga mengingat akan mempunyai menantu yang seperti ini"
Suara tawa kedua Ayah itu memenuhi ruangan di sertai senyuman Nara. Sedang para remaja yang bergabung dengan mereka hanya tersenyum simpul. Terlebih Ailee yang melirik Dirga, sedikit khawatir perkataan Ayahnya barusan membuat perasaan Dirga menjadi sakit.
"Karena kita sudah terlanjut berkumpul seperti ini, bagaimana kalau kita bahas saja sekalian tentang hubungan Delio dan Ailee"
Percakapan Ayah Ailee yang mulai masuk dalam ranah tentang hubungan Ailee dan Delio membuat Ailee spontan menegur Ayahnya.
"Ayah, kenapa jadi ngebahas aku sama kak Delio. Kita sedang makan malam bersama untuk saling menyapa. Dan lagian disini kan ada yang lainnya juga"
"Tidak apa kan sayang, lagian kita tidak bisa bilang 'yang lainnya'. Ini kan Dirga dan Eliza, bagian dari keluarga juga"
"Mungkin Ailee sedikit malu. Tidak usah malu begitu sayang, kita semua disini kan juga sudah pada tahu.." Nara yang tanpa tahu apa-apa tentang hubungan rumit yang dimiliki remaja itu, ikut membenarkan pembahasan Ayah Ailee.
"Iya nak, lagian Dirga dan Eliza tidak masalah kan kalau kita ngebahas ini.." Pandangan Samuel di tujukan pada putra bungsunya itu dan juga Eliza.
"Iya.." Jawab Dirga singkat. Sedang Eliza hanya mengangguk mengiyakan.
Ailee menatap Dirga. Perasaannya mulai tak tenang. Rasa khawatir tentang apa yang akan dipikirkan Dirga membuatnya terus-terusan mengawasi Dirga dengan pandangannya. Ekspresi tak tenang dia tekan sebisanya.
Ailee yang terus menatapi Dirga dengan ke khawatirannya, dan Delio yang sedang berusaha membaca ekspresi Dirga.
"Apa Dirga terpengaruh dengan pembahasan ini atau dia merasa biasa saja? Kalau Dirga menyadari perasaan sukanya pada Eliza seperti yang dia ceritakan padaku tempo hari, jelas saja kalau pembahasan ini tidak lagi mengganggunya" Delio mulai bergelut dengan pikirannya sendiri.
Pembahasan mengenai Delio dan Ailee semakin berlarut-larut namun tetap diselingi dengan candaan oleh kedua Ayah itu. Dirga tidak merespon apa-apa, dia hanya tersenyum sesekali ketika pandangannya tanpa sengaja beradu pada Ayah Ailee. Sedang Eliza, hanya mengikuti alur pembahasan tanpa komentar apapun.
"Ah maaf menyela.." Dirga yang sedari hanya diam, mengangkat suara ditengah-tengah serunya pembahasan Samuel dan Ayah Ailee. "Maaf, apa aku boleh permisi lebih dulu? Aku lupa ada janji sama teman.."
Samuel menggeser ponselnya dan melihat jam yang tampil pada layar.
"Kamu mau kemana jam begini Dirga, ini sudah agak larut"
"Ini baru jam 9 Ayah, belum cukup larut untuk anak remaja seusia Dirga" Delio menyela, seolah ingin membantu adiknya untuk keluar dari pembahasan kedua Ayah itu.
Dirga menatap kakaknya, memberikan ucapan terimakasih tanpa kata.
"Yasudah kalau begitu, hati-hati di jalan" Penjelasan Delio cukup bisa diterima oleh Samuel dan akhirnya mengizinkan Dirga berlalu lebih awal.
"Maaf Om, aku harus permisi duluan.."
"Ah tidak apa Dirga"
"Kak, Ailee, aku pamit duluan. Eliza, telfon aku kalau sudah mau pulang nanti, aku bakal kembali kesini lagi buat ngejemput kamu.."
Eliza hanya mengangguk.
Dirga berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Apa kamu baik-baik saja? Aku tidak mau kamu terganggu dengan pembahasan ini Dirga, aku tidak mau kamu menjadi sakit mendengarnya. Apa benar ada janji sama teman? Mau kemana kamu sebenarnya" Ailee dengan pikirannya, tidak begitu yakin Dirga benar-benar ada janji. Bagi Ailee, kepergian Dirga meninggalkan pertemuan ini adalah untuk keluar dan membebaskan telinganya dari percakapan para Ayah yang membahas hubungannya dengan Delio..