Eliza dibuat terkejut saat hendak mengambil Tuspin miliknya yang terjatuh dan menemukan Dirga sedang tengkurap dibawah tempat tidurnya.
"UUWAAAHHHH" Teriak Eliza memecah keheningan dalam kamarnya.Ia spontan mundur dan jatuh tersungkur.
Dirga tak kalah terkejutnya saat teriakan Eliza yang nyaring menghantam gendang telinganya.
"Dirgaaa????"
Eliza begitu terkejut mendapati Dirga yang berada dibawah tempat tidurnya. Perlahan dengan merayap, Dirga keluar dari tempat persembunyiannya dengan ponsel Eliza yang masih dipegangnya.
"Kamu ngapain disini??" Tanya Eliza. Ekspresinya jelas sekali memperlihatkan kalau dia bingung dengan keberadaan Dirga yang sudah berhasil keluar dari bawah tempat tidurnya.
"A aku..."
Dirga yang tertangkap basah membuatnya tidak bisa berfikir jernih mencari alasan, untuk menjawab pertanyaan dari Eliza.
"Sejak kapan kamu disitu??"
Belum Dirga menjawab pertanyaan Eliza sebelumnya. Eliza kembali memberinya pertanyaan yang baru.
"I itu.. A aku..."
"Itu? Aku? Apa?? Kamu ngapain disini??"
"A anu.. Ta tadi aku liat ada tikus masuk kedalam kamarmu, ja jadi aku langsung kesini buat ngusir tikusnya.." Diantara malu dan terkejut, hanya alasan yang sangat tidak masuk akal itu yang dapat Dirga katakan.
"Tikus??" Tanya Eliza memperjelas. Mimik wajah Eliza yang bingung terus-terusan menghias wajahnya.
Bagaimana tidak, Dirga yang dikenalnya begitu bersih, rumahnya pun tak kalah bersihnya, dan dia bilang ada tikus yang berkeliaran? Jangankan tikus, debu saja nyaris tidak punya tempat dirumah Dirga, apalagi tikus yang tingkat keberadaannya sangat tidak memungkinkan dirumah yang bersih seperti rumah Dirga.
"I iya.. A aku khawatir nanti tikusnya makan sesuatu di kamarmu.."
"Selama aku disini, aku gak pernah ngeliat ada tikus disini.."
"I iya.. Sebelumnya memang tidak ada, a- aku juga kaget pas liat tikusnya tadi, makanya aku langsung kesini. Mungkin tikus-tikus sedang bertransmigrasi sekarang"
Jawaban Dirga yang tidak masuk akal itu semakin membuat Eliza bingung.
"Itu ponselku kenapa ada dikamu?" Tanya Eliza saat indra penglihatannya menangkap ponselnya yang sedang berada di genggaman Dirga
"Oh.. I ini.. Ta tadi aku pinjam ponselmu, karena dibawah tempat tidurmu agak gelap, jadi aku butuh pencahayaan"
Eliza hanya menatap Dirga kebingungan.
"I ini.." Dengan rasa gugup, Dirga memberikan kembali ponsel milik Eliza.
Eliza meraih ponselnya, juga mengambil Tuspin yang tergeletak tidak jauh dari posisinya dan beranjak.
"Aduhhh..."
"Eliza, kamu kenapa?" Respon cepat dari Dirga mendengar keluhan Eliza.
Eliza hanya menatap Dirga dengan wajahnya yang sedang menahan sakit.
"Kamu baik-baik saja??"
Eliza hanya mengangguk mengiyakan dirinya sedang baik-baik saja sedang yang terlihat oleh Dirga saat ini, adalah Eliza yang kesakitan.
"Kamu serius??"
Eliza tidak menjawab, hanya terus-terusan memegangi perutnya.
"Sakit perut??" Tanya Dirga khawatir.
Eliza menggeleng.
"Maag? Ah, setauku kamu tidak punya sakit maag"
Eliza kembali menggeleng.
"Ayo kerumah sakit. Kamu harus periksa.."
"Gak.."
"Apanya yang gak.. Kamu sedang kesakitan Eliza"
"Gak, aku gak papa"
"Perasaan saat teriak tadi, kamu keliatannya baik-baik aja. Kenapa sekarang tiba-tiba begini??"
Eliza hanya terdiam, rasa sakit yang dia rasakan membuatnya tidak mampu menjawab pertanyaan Dirga.
"Apamu yang sakit?? Aku ambilkan minyak telon?"
Eliza menggeleng. "Aku hanya keram perut saja.."
"Keram perutt??? Apa itu bahaya?? Tidak tidak, kita harus kedokter. Sebentar aku carikan ojek biar gak harus jalan kaki ke halte"
Dirga yang dengan cepat beranjak segera ditahan oleh Eliza.
"Kenapa???"
"Keram perut itu biasa, untuk perempuan yang lagi dat.. datang bulan" Eliza menurunkan nada bicaranya, sedikit malu mengatakan itu pada Dirga.
"Kamu sedang datang bulan??"
Eliza menurunkan nada suaranya karena merasa malu harus mengatakan itu pada Dirga, namun Dirga seolah tidak risih lagi atau peduli. Mungkin Dirga mulai terbiasa akan hal-hal yang bersangkutan hanya pada perempuan, seperti menstruasi.
Eliza hanya mengangguk.
"A apa itu ada obatnya?? Apa yang bisa aku lakuin??"
Eliza menggeleng. "A aku baik-baik saja, sebentar lagi nyerinya pasti hilang.."
"Sebentarnya kapan??"
"Kamu gak liat? Tadi aku baik-baik saja kan? Ini sebentar lagi juga bakal membaik.."
"Iya, terus gak lama sakit lagi.."
Ah, Dirga ini karena terbiasa sama aku atau memang punya ilmu lebih tentang perempuan? Masa iya masalah dismenore dia bisa mengerti.
"Ah aku tahu, aku lihat di iklan-iklan kalian kalau nyeri begini minum jamu kan?"
"Jamu??"
"Iya, yang warna kuning itu" Tatapan Dirga memperlihatkan betapa seriusnya dia saat ini. "Ah Kiranti.." Serunya setelah berhasil mengingat jamu yang dia maksud. "Tunggu sebentar, aku ke supermarket beliin itu.."
Dirga dengan cepat beranjak.
"Dirga.."
Dirga kembali menoleh mendengar Eliza memanggilnya.
"Ka kamu mau ke supermarket?"
"Iya, kan belinya disana. Kenapa?"
"I itu.."
"Kamu gak usah ikut. Kan susah kalau mau ke halte lagi nunggu bis. Aku bisa cepat kembali kalau naik mobilku.."
"Bukannya aku mau ikut"
"Terus.."
"A anu.. A aku bisa minta tolong.."
"Apa??"
"Be belikan a aku.." Eliza begitu ragu-ragu mengatakannya.
"Pembalut ya??"
Eliza yang sedari tadi tidak mampu menatap mata Dirga karena malu, namun spontan mengangkat kepalanya dan menatap Dirga. Eliza cukup terkejut mendengar Dirga bisa menebak apa yang akan dia sebutkan dan lagi dengan santai diiringi ekspresi wajahnya yang biasa-biasa saja.
"Oke, akan aku belikan. Aktifkan ponselmu, aku tahu itu banyak jenisnya , tapi aku gak tahu yang bagaimana yang harus aku beli"
"I iya.."
"Aku pergi dulu.."
Dirga melangkah keluar dari kamar Eliza. Namun tidak cukup lama kembali lagi.
"Aku pasti cepat kembali, telfon aku kalau sakitnya tambah parah"
Eliza hanya mengangguk.
Rasa malu yang sedari tadi dirasakan Eliza, tersingkirkan begitu saja. Eliza cukup terkejut melihat Dirga yang cukup santai menanggapi perihal sesuatu yang dominan lebih mengarah pada wanita. Umumnya, laki-laki akan merasa risih untuk membahas masalah seperti ini, namun Dirga begitu enteng-entengnya menanggapi.
Terlebih dari rasa heran melihat Dirga yang tidak begitu risih, Eliza lebih heran lagi mengingat dia adalah seorang Dirga yang cuek, dan terkesan tidak peduli sebelumnya.
Masih hangat diingatan Eliza, bagaimana judesnya Dirga saat pertama mereka bertemu dulu. Eliza tidak menyadari sejak kapan Dirga mulai berubah menjadi seperti yang sekarang ini.
****
Entah berapa kali Dirga menelfon dalam 15 menit selama dia meninggalkan Eliza sendiri dirumah dalam keadaan sakit. Tidak hanya pada saat Dirga hendak membelikan sebuah pembalut untuk Eliza dia menelfon, sepanjang jalan Dirga terus menelfon untuk memastikan Eliza baik-baik saja. Ya menelfon hanya untuk bertanya keadaan Eluza kemudian memutuskan telfonnya, dan berselang tidak lebih dari dua menit, Dirga akan kembai menelfon lagi, hingga akhirnya dia tiba dirumah kembali.
Perhatian Dirga cukup bisa menghipnotis Eliza dan menciptakaan rasa terharu akan perlakuan Dirga yang begitu perhatian.
"Sekarang istirahat, aku balik ke kamarku dulu, kalau ada apa-apa telfon aku.."
"Makasih.." Kata Eliza diiringin senyumannya yang manis, membuat Dirga semakin terpikat.
"Kenapa makasih, kamu juga kan sering nolongin aku.."
Eliza hanya tersenyum. Eliza melirik ponselnya, waktu masih begitu pagi untuk tertidur.
"Dirga.."
"Hem?"
"Tentang tugas Bahasa Indonesia itu, kamu sudah selesai?"
Dirga menggeleng.
"Sudah nonton filmnya?"
Apa dia bakal ngajak aku nonton bareng?
Dirga menggeleng, sembari berusaha mempertahankan ekspresinya yang terlihat biasa-biasa saja. Meski hatinya mulai kegirangan mendapat sinyal dari Eliza, yang seolah akan mengajaknya nonton bersama.
"Aku juga belum. Mau nonton bareng??"
YESSS YESSS YESSS YEAAAHHHHH..... Kalau saja aku tahu, Eliza bakal ngajak aku nonton, aku gak bakal kayak orang bego sembunyi di bawah tempat tidurnya dan ngarang cerita tikus yang tidak masuk akal itu.
"Boleh, mau nonton film apa?" Dirga masih berusaha terlihat biasa-biasa saja meski hatinya sedang kegirangan.
Eliza menggeleng. "Kamu ada referensi.."
"Aku punya beberapa CD, mau liat? Atau mau ke bioskop saja??"
Yeaahh, kalau ke bioskop bisa keliatan kayak pasangan..
"Perutku lagi gak memungkinkan buat ke bioskop"
Ah iya ya, kenapa aku lupa kalau dia lagi gak sehat sekarang.
"Ya sudah nonton dirumah saja. Ayo.."
Dirga beranjak, di susul oleh Eliza yang mengekor dibelakang Dirga menuju ruang tengah.
Yess yess yesss.. Akhirnya nonton bareng... Yeesss
Meski sangat sulit ketika batin dan ekspresi bertolak belakang, namun Dirga tetap bisa membuat dirinya terlihat biasa-biasa saja. Sepertinya Dirga memiliki bakat seorang aktor