Delio dan Ailee tiba disebuah cafe yang tidak cukup ramai pengunjungnya. Ailee segera saja memesan minuman dan makanan ringan untuk mereka berdua berdasarkan dengan daftar menu yang tersedia.
"Kakak mau ngomong apa?" Tanya Ailee dengan buru-buru.
"Ailee, apa kamu sudah cerita sama Dirga tentang rencanamu?"
"Belum. Aku belum ketemu waktu yang pas buat ngebahas ini sama Dirga"
"Apa kamu gak berniat buat ngebahas hal ini sama Dirga dekat-dekat ini"
Ailee menggeleng.
"Kurasa masih terlalu cepat buat ngomong ini semua sama Dirga kak.."
"Apa kamu gak takut kalau perasaan Dirga bakal berubah"
Perkataan Delio barusan cukup membuat Ailee terkejut. Sorot matanya yang memperlihatkan bagaimana dia tidak mengerti mengaapa Delio mengatakan itu, membuat Delio memperjelas apa yang dia maksud.
"Maksudku, bagaimana kalau semisalnya Dirga benar-benar menemukan perempuan yang bisa membantunya melupakanmu? Dirga pernah bilang kalau dia akan mencari perempuan agar lebih mudah mengikhlaskanmu bersamaku kan? Bagaimana kalau misalnya Dirga beneran ketemu dengan perempuan itu"
"Gak, aku tahu Dirga gak mudah dekat sama perempuan. Dirga tidak keluar rumah selain kesekolah atau belanja. Dan disekolah aku selalu bisa ngeliat Dirga, dia gak main sama temen perempuan. Dirga tetap seperti biasanya"
Ya, sepertinya kamu mengecualikan Eliza, Ailee.
"Ailee, Dirga tidak tahu menahu tentang perasaanmu sama dia sekarang. Yang dia tahu, saat ini kamu mencintaiku dan bukan dia, jadi yang sedang Dirga usahakan sekarang adalah berusaha melupakanmu sebagai orang yang dicintainya. Dirga menemukan oranglain yang dicintainya adalah kemungkinan yang bisa saja terjadi"
Ailee terdiam sejenak.
"Tapi Dirga akhir-akhir ini semakin baik sama aku kak. Dirga sudah tidak menghindar lagi seperti dulu"
Itu karena perasaannya padamu sudah tidak seistimewa dulu lagi Ailee. Yang dia rasakan sekarang, hanya biasa-biasa saja sehingga tidak ada alasan baginya untuk menghindarimu.
"Ya, aku hanya memperingatkanmu Ailee. Suatu hari nanti, saat Dirga benar-benar memiliki perempuan yang dia sukai, aku tidak akan bisa membantumu lagi dalam menjalankan rencanamu untuk bisa bersama dengan Dirga"
"Kak.."
"Ailee, kamu tahu kan alasan aku membantumu saat ini. Itu karena aku tahu Dirga juga mencintaimu, jadi kalau saja suatu hari nanti Dirga menemukan oranglain yang dia cintai, aku tidak akan menghalang-halanginya dalam mencintai orang itu. Yang aku lakukan adalah bagaimana membuat Dirga bahagia, entah itu bersamamu atau bersama oranglain" Jelas Delio dengan serius.
Mata Ailee mulai berkaca-kaca. Selama ini yang diharapkannya adalah Delio yang bisa terus membantunya, meski dia tahu, alasan Delio membantunya hanya untuk kebahagiaan Dirga, karena Delio tahu bagaimana perasaan Dirga terhadapnya.
"Maafkan aku karena mengatakan ini Ailee. Aku hanya ingin kamu jujur pada Dirga agar tidak menyesal nantinya. Aku sama sekali tidak bermaksud berhenti untuk mendukungmu, aku hanya memberimu gambaran akan kemungkinan yang bisa saja terjadi"
Air yang mulai menggenang dipelupuk mata Ailee membuat Delio merasa bersalah.
"Tidak apa kak, aku mengerti maksud kakak dan aku tahu bagaimana kakak sangat menyayangi Dirga" Airmata Ailee mulai menetes namun dengan cepat ia menyekanya.
"Apa yang kakak bilang itu benar, aku akan ngebahas hal ini secepatnya sama Dirga. Terimakasih udah ngingetin aku kak"
Delio hanya tersenyum. Ailee dengan sisa-sisa air matanya balas tersenyum.
****
Meski tidak mendapatkan jawaban yang pasti dari kakaknya, Delio. Namun Dirga perlahan menyadari, bahwa yang membuat hatinya bergetar dan membuat suhu tubuhnya tiba-tiba meningkat ketika berada disekitar Eliza, adalah karena hatinya yang mulai menyukai Eliza.
Perasaan yang mulai Dirga sadari itu semakin membuatnya uring-uringan. Ia berusaha sebisanya untuk menyembunyikan perasaannya dari Eliza, dia tidak ingin jika Eliza berubah setelah tahu bagaimana perasaan Dirga yang sebenarnya.
Alhasil, demi berusaha menutupi perasaannya, Dirga semakin sering marah pada Eliza yang membuat Eliza semakin kesal terhadapnya.
Walau marah dan menjadi menyebalkan dimata Eliza adalah cara Dirga untuk menyembunyikan perasaannya, tapi Dirga tetap saja tidak bisa menyembunyikan keinginannya untuk bisa bersama Eliza. Keinginannya untuk terus berada di sekitar Eliza, membuatnya sedikit kesulitan. Dirga sering kali kesal pada dirinya sendiri, saat dia selalu merasa rindu akan sosok Eliza meski hampir tiap waktu mereka bersama.
****
Dirga maupun Eliza dan teman sekelas lainnya, mendapatkan tugas dimana mereka diharuskan untuk menonton sebuah film dan mengambil kesimpulan dari film yang mereka tonton, juga memberikan kritik dan saran.
Ya tugas yang lumrah dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, dimana siswa dan siswi sedang dilatih dalam menganalisa sesuatu.
"Ajak gak ya??" Pikir Dirga sembari mengusap dagunya dengan terus-terusan menatap layar ponselnya yang pipih itu.
Sebelumnya Dirga berniat mengajak Eliza secara langsung, sebelum Eliza mendapat ajakan lain dari teman lainnya. Namun berkali-kali Dirga berlatih di depan cermin untuk mengatur ekspresinya saat mengajak Eliza, tetap saja dia tidak menemukan ekspresi yang cocok. "Ck, aku ini kenapa ribet begini sih? Padahal setiap hari juga ketemu Eliza, tapi kenapa jadi canggung begini.." Gerutu Dirga saat itu.
Karena tidak memiliki keberanian mengajak secara langsung, dengan dalih ekspresinya yang tidak tahu dia harus pasang seperti apa, akhirnya Dirga memilih untuk mengajak Eliza melalui pesan singkat.
"Aku ngomongnya lebih lancar kalau lewat chat" Pikirnya.
Berulang-ulang Dirga mengetik pesannya namun kembali menghapusnya sebelum pesan itu dikirim pada orang yang dituju. Diketik lagi dan dihapus lagi, entah sudah berapa kali pesan itu diketik dan dihapus tanpa ada hasil, sampai waktu sudah berlalu dua jam dari sejak dia memikirkan untuk mengajak Eliza menonton film bersama.
"Aisshh.. Kalau kelamaan mikir begini, bisa-bisa Eliza sudah diajak sama teman yang lainnya"
Keragu-raguan dalam mengajak Eliza akhirnya dia tepis dan perlahan mulai mengetik kembali pesan yang akan dikirim pada Eliza.
"Udah dapat teman nonton gak? Mau nonton bareng aku?? Lumayan kan kalau nonton bareng aku, kamu bisa sambil belajar"
Pesan yang dipandanginya kurang lebih sekitar lima menit itu akhirnya dikirim juga.
Meski pesan itu sudah dikirim dan sudah menerima tanda yang menandakan pesan itu sudah diterima oleh Eliza, Dirga tetap saja terus memandangi pesannya sembari menunggu tanda centang dua pertanda pesan itu dibaca oleh Eliza.
"Tunggu tunggu.. Ini kok kesannya aku terlalu pamer ya, nilai Bahasa Indonesia Eliza kan gak terlalu buruk.." Pikir Dirga setelah berulang kali membaca pesan yang dikirimnya itu.
"Ngajak nonton bareng?? Kok aku kesannya kayak ngajak kencan ya.."
Dirga mulai memikirkan hal yang tidak-tidak. Ya, namanya orang sedang jatuh cinta, Dirga berusaha terlihat baik dimata Eliza.
"Aduh.. Ini pesan bisa dibatalkan gak ya??"
Dalam sekejap Dirga sudah berubah pikiran. Hanya karena pesan yang dikirimnya terlihat seperti pesan yang sedang mengajak kencan, Dirga kembali uring-uringan dan berniat membatalkan pesan itu.
"Arrgghhhh..."
Dirga melangkah keluar dari kamarnya. Kepalanya serasa sakit memikirkan hal yang tidak-tidak itu. Dirga terus membayangkan bagaimana jika Eliza berfikiran kalau pesannya itu adalah ajakan kencan, Eliza bisa saja menertawainya.
Dirga mempercepat langkahnya menuju kamar Eliza. Yah, hal yang ada dipikirannya sekarang adalah menghapus pesan yang dikirimnya itu dari ponsel Eliza sebelum Eliza membacanya.
"Eliza.." Panggil Dirga sembari mengetuk pintu kamar Eliza, mengecek apakah Eliza berada didalam atau ditempat lain.
Tidak ada jawaban dari dalam. Dirga yang sedari tadi memegang ponselnya, mengarahkan layar ponselnya pada panggilan untuk memanggil Eliza.
"Ah.. Ponselnya ada didalam"
Suara nada dering Eliza terdengar oleh Dirga yang menempel pada daun pintu kamar milik Eliza.
"Elizaa.." Panggil Dirga sekali lagi.
Dirga memutar engsel pintu kamar Eliza yang tidak terkunci. Kepalanya menjulur masuk sembari memperhatikan di sekitar kamar Eliza.
"Eliza.." Panggilnya lagi dengan nada pelan. Kembali memastikan, apakah Eliza sedang berada dalam kamarnya sekarang.
Lagi tidak ada sahutan, membuat Dirga melangkah masuk dengan pelan. Penglihatannya menangkap benda pipih berwarna putih yang dibalut dengan case berwarna merah muda tergeletak di meja samping tempat tidur Eliza. Ya, sesuatu yang dicarinya, ponsel Eliza.
Dengan mengendap-endap, Dirga melangkah mendekati ponsel Eliza. Air mengalir terdengar dari kamar mandi yang berada disamping pintu kamar Eliza.
"Ah dia lagi dikamar mandi, pantas saja dia gak dengar panggilanku dari tadi.. Aku harus ngehapus pesan itu sebelum Eliza keluar dari kamar mandi"
Dirga mempercepat langkahnya dan meraih ponsel Eliza. Pesannya tampil di taskbar, membuat Dirga semakin memburu ingin menghapus pesan itu.
"Ck.. Ini passwordnya apa.." Keluh Dirga kesal saat menyentuh layar ponsel Eliza dan meminta password untuk bisa mengakses ponsel Eliza.
Dirga mulai menekan beberapa angka, mengetik acak mencoba menemukan kombinasi angka untuk membuka kunci ponsel milik Eliza.
"Argghh siaall..."
Kombinasi angka yang dicobanya berulang-ulang namun salah membuatnya harus menunggu tiga menit lagi untuk kembali bisa mencoba kombinasi angka berikutnya.
Waktu tiga menit itu terasa lama sekali. Dirga menunggu dengan gelisah sembari sesekali menoleh kearah pintu kamar mandi, mengawasi Eliza jika tiba-tiba Eliza keluar dari kamar mandi.
Setelah tiga menit berlalu, Dirga kembali mencoba kombinasi angka untuk membuka password ponsel Eliza, dan..
"Akhirnya.." Senyum Dirga mengambang "Anak ini, masa iya ngasi password ponselnya angka 5 berturut-turut hingga 6 kali" Masih saja sempat-sempatnya Dirga mengomentari kombinasi angka password ponsel Eliza yang begitu mudah tapi terbilang sulit di tebak.
Cklekkk...
Suara pintu kamar mandi yang terbuka, mata Dirga membelalak melihat pintu kamar mandi itu terbuka perlahan. Tanpa aba-aba dan tanpa pikir panjang, tubuhnya berinisiatif bergerak dengan cepat bersembunyi dibawah kasur tidur milik Eliza.
"Aduh.. Bagaimana ini?? Arghh Kenapa Eliza gak lamaan sedikit sih di kamar mandinya.." Gerutu Dirga kesal.
Dirga dengan cepat menghapus pesan yang dikirimnya, diliriknya langkah Eliza yang keluar dari kamar mandi. Langkah Eliza yang mendekat ke arah tempat tidurnya semakin membuat Dirga deg-degkan. Mulutnya dia tuutp rapat dengan tangannya, berharap Eliza tidak akan menemukannya.
"Ponselku kemana??" Tanya Eliza. Membuat Dirga menatap layar ponsel Eliza, memastikan ponsel itu dalam mode senyap. Persembunyiannya bisa saja terbongkar jika sebuah notif masuk dalam ponsel Eliza.
Eliza melangkah menjauh dari sisi tempat tidurnya, berjalan beberapa langkah menuju meja hias yang tidak jauh dari tempat tidur dimana Dirga bersembunyi dibawahnya
Ting ting tingg..
Entah benda kecil apa yang dipegang Eliza namun terlepas dari tangannya.