Penglihatanku belum begitu jelas, entah karena ada masalah pada mataku atau karena redupnya cahaya yang menjadi penyebabnya. Sunyi tanpa suara, redup tanpa kejelasan. Aku mencoba memutar pandanganku dan menyapu wilayah sekitar untuk mengetahui dimana keberadaanku saat ini. Pandanganku menemui jam dinding yang menjadi satu-satunya suara yang terdengar oleh telingaku saat ini. waktu menunjukkan pukul dua dinihari.
“Oh, kamu sudah sadar?”
Perlahan, penglihatanku semakin jelas meski cahaya remang-remang, masih membuatku tidak dapat melihat wajah dari seseorang yang sedang berbicara padaku.
Seseorang yang aku ketahui berjenis kelamin laki-laki itu, berjalan beberapa langkah dariku, dan..
Cklekk..
Suasana ruangan yang tadinya hanya mendapatkan cahaya dari terangnya bulan dilangit dan kemerlap pancaran cahaya lampu diluar, kini berubah menjadi terang.
Sedikit silau.. ah tidak, cahaya lampu sangat menyilaukan penglihatan untuk aku yang baru saja tersadar. Aku kini bisa melihat dengan jelas seseorang yang tadinya berbicara padaku.
Dia, laki-laki dengan usia berkisar 30 tahunan, tersenyum dengan ramah kepadaku. Ia kembali berjalan menghampiriku setelah menekan saklar yang berada di dekat pintu. Aku sedikit bingung, di waktu yang menunjukkan pukul dua dinihari, ia memiliki setelan dengan kemeja putih yang ia padupadankan dengan celana kain hitam. Seperti orang yang sedang bekerja. Bahkan aku bisa melihat jas hitam yang berada pada punggung kursi, yang aku tebak bahwa itu adalah miliknya.
“Bagaimana perasaan nona?”
Ia bertanya padaku dengan nada suara yang rendah. Senyum manis yang terpancar di wajahnya, memperlihatkan bagaimana ramahnya dia. Aku tahu dia sedang menjagaku, dan terus memperhatikanku sebelum aku tersadar tadi. Terlihat dari ia yang masih terjaga bahkan saat waktu menunjukkan pukul dua dinihari.
Aku tidak mengenalinya.. Bukan.. Bukan hanya dia, aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri. Aku tidak mengerti, aku terbangun diruangan ini, yang aku sadari adalah rumah sakit, saat melihat selang infus yang terhubung pada punggung tanganku.
Aku terbangun tanpa mengenali diriku dan tanpa apapun diingatanku. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan diriku berada disini dan tidak tahu apapun yang lainnya. Ingatanku serasa kosong.
Aku tidak memberi jawaban dari pertanyaan yang sebelumnya laki-laki itu ajukan padaku. Ia hanya tersenyum dan kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku.
“Dia sudah siuman” Katanya pada seseorang melalui telfon.
Hanya tiga kata itu saja yang dia ucapkan sebelum ia memutuskan panggilannya.
“Dokter akan datang kesini dan memeriksamu nona” Katanya, masih dengan senyum yang ramah.
Aku masih terdiam tanpa tahu harus mengatakan apa padanya. Aku bahkan tidak tahu, apakah dia orang yang baik, atau orang yang akan melakukan hal buruk padaku.
Aku mengarahkan pandanganku kearah pintu, seseorang dengan baju snelli yang aku ketahui adalah seorang dokter, sedang berjalan kearahku dengan dua perawat yang mengekor dibelakangnya. Ia tampak berbicara dengan laki-laki yang sedari tadi bersamaku diruangan ini, sebelum melanjutkan langkahnya menghampiriku.
Aku tidak tahu banyak tentang pekerjaan dokter, selain tugas dari mereka yang mendiagnosa dan kemudian memberikan resep obat. Dokter yang jelas terlihat masih muda itu tengah memeriksaku, sedang memastikan keadaanku saat ini.
“Bagaimana perasaan Nona?” Tanyanya dengan ramah.
Aku diam saja. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini.
Tidak ada yang bisa aku katakan dan tidak ada yang terbesit dipikiran untuk dikatakan. Bahkan untuk pertanyaan mudah tentang apa yang sedang aku rasakan saja, aku tidak bisa menjawabnya.
*****
BRUUKKK...
Tabrakan yang tidak terelakkan itu, menciptakan suara yang keras untuk jalan setapak yang sepi.
Untuk sejenak ia terdiam, mencoba memahami keadaan hingga ia merasakan sebuah cairan kental nan berbau amis perlahan mengalir dari kepalanya. Ia mencoba bangkit dari tubuhnya yang terjatuh kedepan setelah kepalanya menghantam stir. Perlahan pandangannya mendapati seorang laki-laki yang ia kenali sebagai kakaknya, sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang bercucuran di wajahnya.
“KAKAK....!!!!”
Dirga, remaja berusia 17 tahun terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah. Ia berusaha menghirup oksigen sebaik mungkin dan mengatur kembali pernafasannya. Jantungnya berdetak begitu kencang, itu membuatnya sedikit sesak. Dirga meraih segelas air minum yang berada diatas meja, tepat disamping tempat tidurnya.
Sudah hampir satu minggu setelah kecelakaan itu, Dirga terus-terusan bermimpi buruk. Bahkan jika terbangun kemudian tertidur kembali, mimpi itu datang lagi. Ingatannya tidak bisa melepaskan kejadian yang terjadi padanya dua hari yang lalu.
Ia mengarahkan pandangannya, dan mendapati jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat dinihari. Seharusnya, seseorang sedang menjaganya saat ini, mengingat ia masih harus berada di Rumah sakit untuk masa pemulihan pasca kecelakaan.
Namun Dirga mengusir seseorang yang dipercayakan untuk menjaganya. Ia merasa lebih nyaman seorang diri di kamar itu, daripada ditemani oleh seseorang, meski mimpi buruk terus mendatanginya.
Dirga memutuskan untuk tidak kembali tertidur. Dia tahu, bahwa mimpi buruk itu akan datang lagi jika ia tertidur. Toh sebentar lagi pagi akan datang.
****
Matahari perlahan datang menyapa penduduk bumi dengan cahaya cerah dan hangat. Embun diluar masih meraja dengan menciptakan titik-titik air di dedaunan. Ya, seperti hari-hari sebelumnya, hari ini pun ia tidak akan bertahan lama. Hanya butuh beberapa waktu hingga ia menguap ke udara dan hilang tanpa jejak.
Dirga terus menatap keluar, meski tidak ada objek tertentu yang menjadi titik fokus dari pandangannya. Sesekali ia menghembuskan nafas, mendengus tanpa alasan tertentu. Rasa bosan dari hari ke hari kian menggrogoti perasaannya. Sayangnya, meski perasaannya mulai membaik, Ayahnya masih saja bersikeras agar ia tetap dirawat di Rumah sakit untuk masa pemulihan.
Ttok ttok..
Suara ketukan pintu yang diketuk dari luar, menyentuh indra pendengaran Dirga.
“Masuk” Jawabnya, tanpa mengalihkan pandangannya.
Seorang laki-laki paruh baya melangkah masuk kedalam ruang rawat inapnya.
“Selamat pagi Tuan muda, bagaimana kabar anda pagi ini?”
“Apa Ayah sudah tiba?” Tanya Dirga mengabaikan pertanyaan yang diarahkan kepadanya sebelumnya.
“Tuan Samuel sudah datang Tuan muda”
Dirga beranjak dari tempatnya. “Ck, sudah kubilang, jangan memanggil aku Tuan muda.. Itu terdengar menyebalkan.” Dengusnya sambil beranjak dari ranjang tempat tidurnya.
Lelaki paruh baya itu hanya menunduk memperlihatkan kesopanannya saat Dirga melewatinya. Ia sudah hafal betul bagaimana sikap dari anak bungsu tuannya itu.
Suasana pagi di Rumah sakit masih cukup sepi dari keluarga penjenguk pasien, terlebih lagi dia yang di rawat dibagian kamar VIP dimana tidak sembarang orang yang bisa lalu lalang. Hanya ada beberapa perawat dan juga dokter yang berjalan di sekitar lorong dari sekat-sekat kamar rawat inap.
Seragam pasien yang berwarna biru langit, bahkan terlihat sangat bergaya di tubuh Dirga yang memiliki proporsi tubuh bagus, ditambah dengan tinggi badannya yang mencapai 175cm. Dia terbilang tinggi untuk remaja seusianya.
“Orangtua itu, beraninya dia memutuskan jalan cerita hidupku kedepannya..” Dengusnya sambil mempercepat langkah kakinya.
Tap tap tap.. langkah kaki itu terdengar jelas dengan sendal cepak yang digunakannya.
Dirga tiba pada salah satu kamar rawat inap yang ia ketahui Ayahnya berada dalam ruangan itu. Rasa kesal yang sudah berkumpul, ingin segera ia lampiaskan.