Dirga kembali melanjutkan langkahnya menuju parkiran, Eliza hanya menatap punggung Dirga yang semakin lama semakin menjauh karena tidak seperti sebelumnya yang hanya berjalan dengan cepat. Dirga kali ini berlari kecil menuju dimana mobilnya berada.
Sebuah mobil mendekat dan berhenti perlahan didepan Eliza.
"Ayo.." Entah karena kasihan setelah melihat Eliza yang terjatuh atau karena nuraininya lagi terdorong untuk menjadi orang baik sehingga membuat Dirga yang awalnya begitu dingin pada Eliza, sekarang bersedia turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Eliza.
Meski sedikit bingung dengan perubahan perilaku Dirga yang lag lagi berubah, Eliza menurut saja dan masuk kedalam mobil. Dirga berlarian memutar arah untuk kembali mengambil posisi menyetir
DEGGGGG.... "Apa barusan????"
"Buka mobilnyaa.. bukaa..." Eliza memberontak membuat Dirga terkejut.
"Apa?? Kenapa??" Tanya Dirga panik dan kebingungan.
"Aku bilang bukaa.. bukaaa.. aku mau keluarr.. bukaaa...." Eliza terus-terusan memberontak, peralahan airmatanya mulai menetes.
Dirga yang tidak tahu apa yang terjadi hanya berusaha menuruti permintaan Eliza.
Eliza berhambur keluar dari mobil, berlari menjauh dari mobil sebisanya hingga jatuh tersungkur saat kehilangan keseimbangannya.
Dirga bergegas menghampiri Eliza.
"Kamu kenapa??"
Tidak ada jawaban dari Eliza, dia hanya menggeleng dan tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan Dirga, airmatanya terus menetes.
"A aku tidak mau.. aku tidak mau naik... Aku tidak mauu..." Eliza tidak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan. Ada perasaan tekananan yang membuatnya ketakutan.
******
Raja sang galaksi sedang sombong-sombongnya memamerkan teriknya pada planet yang berpenghuni ini. Seolah memperlihatkan, bahwa dialah pengusaha panas yang sebenarnya disaat siang.
Nara sudah sedari tadi menunggu didepan rumah Dirga. Meski suaminya sudah beristirahat didalam, Nara masih saja tidak bisa tenang mengingat Dirga dan Eliza belum juga tiba. Nara terus-terusan kepikiran dengan kesehatan Dirga terlebih setelah tahu hasil dari pemeriksaan dokter tadi.
Nara berlari kecil menghampiri gerbang ketika melihat Eliza dan Dirga berjalan pelan.
"Kenapa jalan kaki? Mobilmu mana Ga?"
"Ditinggal di Rumah sakit.." Jawab Dirga melewati Nara begitu saja. Nara hanya mengikuti langkah Dirga dengan pandangannya yang terus-terus hingga masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Nara ataupun Eliza.
Perhatian Nara teralihkan dari Dirga ke Eliza.
"Eliza, kamu baik-baik saja sayang??" Eliza terlihat begitu pucat membuat Nara semakin khawatir.
Eliza hanya tersenyum.
"Ayo masuk.. Kamu harus istirahat.." Nara merangkul Eliza dengan lembut, mencoba memopang gadis yang berukuran tubuh mini itu, yang terlihat sangat lemah.
Nara mengantar Eliza menuju salah satu kamar di rumah Dirga yang sudah disiapkan untuk Eliza.
"Kamu baik-baik saja kan?" Nara mencoba memastikan keadaan Eliza.
Sekali lagi Eliza mengangguk. Ia seolah mengiyakan bahwa dirinya baik-baik saja, sedang jelas terlihat bahwa keadaannya tidak sesuai dengan pernyataannya
"Ya sudah, istrihatlah. Kalau ada perlu kamu bisa manggil aku.." Nara berusaha menjadi Ibu yang baik juga bagi Eliza.
"Terimakasih Mami.."
"Iya sayang..."
Nara bergegas menuju kamar Dirga, ada berapa hal yang harus dia pastikan pada putra bungsunya itu.
"Dirga..." Panggil Nara sambil mengetuk pelan kamar Dirga. "Aku bisa masuk??"
"Gak di kunci.." Jawab Dirga jutek.
Nara memutar engsel pintu, menampakkan wajahnya dari balik pintu kamar Dirga.
"Kamu baik-baik saja??" Nara berjalan menghampiri Dirga yang berbaring dengan malasnya sambil memainkan ponselnya di sofa.
"Kelihatannya??" Dirga menjawab pertanyaan Nara dengan balas bertanya.
Nara masih terus-terusan kepikiran tentang kesehatan Dirga. Melihat Dirga yang pulang tanpa membawa mobilnya membuat Nara berfikir yang tidak-tidak.
"Ya kayaknya sih baik-baik saja.." Nara menyembunyikan kebenaran diagnosa dokter pada Dirga. "Oh iya, kenapa pulangnya gak bawa mobil? Bukannya tadi kamu minta pak Kasim buat nyiapin mobilmu??" Dia mencoba mencari tahu penyebab Dirga meninggalkan mobilnya di Rumah sakit. "Mungkin Dirga memiliki ingatan yang buruk jika dia mengendarai.." Pikir Nara.
"Apa Ayah sudah mencari tahu asal usul anak itu? Dia itu berasal dari mana??" Entah itu suatu hobby atau hanya sebuah kebiasaan bagi Dirga untuk menjawab pertanyaan Nara dengan pertanyaan juga.
"Memangnya kenapa??" Nara cukup kesal melihat anak tirinya itu selalu saja punya pertanyaan lain sebelum menjawab pertanyaannya. Namun pertanyaan Dirga kali ini cukup menarik perhatiannya membuat dia mengabaikan rasa kesal yang sempat tertumpuk di hatinya.
"Apa dia dari pedalaman? Atau dari hutan? Apa jangan-jangan dia masih primitif??" Eskpresi Dirga memperlihatkan betapa seriusnya dia dengan pertanyannya. Namun berbeda dengan Nara yang mengubah perasaan penasarannya menjadi kesal yang semakin tidak tertahankan. "Apa otak anak ini juga rusak setelah kecelakaan kemarin? Primitif katanya? Memangnya disekitar sini ada perkampungan yang bisa menciptakan kondisi primitif begitu??"
"Sepertinya kamu harus periksakan otakmu juga" Dengus Nara kesal.
"Aku serius bertanya seperti ini.."
"Ck, kamu ini ada-ada saja... Memangnya ada apa? Kenapa bertanya seperti itu??"
"Anak itu aneh.."
"Aneh bagaimana?" Nara mulai bingung lagi.
"Aku juga gak tahu gimana jelasinnya. Tadi aku niatnya pulang bawa mobilku, tapi karena bocah itu histeris teriak-teriak minta turun dari mobil, jadi ya mobilku ku tinggal disana.." Dirga masih saja kesal mengingat kejadian tadi. "Kayaknya dia takut naik mobil.."
Nara hanya menatap Dirga dengan bingung