Trauma

535 Words
Nara masih begitu sertius mendengar penjelasan Dirga, meski seperti ada yang ganjil menurut Nara. "Bagaimana bisa di jaman modern seperti ini ada orang yang takut naik mobil, apa ada sesuatu di dalam mobil Dirga yang membuatnya takut" "Eh tapi gak bisa dibilang takut naik mobil juga sih..." Sanggah Dirga kemudian. Nara hanya menatap Dirga dengan bingung. "Tadi aku pulangnya naik Bis sama dia.." Dirga mengingat kembali bahwa mereka tiba di rumah menggunakan Bis. "Apa ada sesuatu dalam mobilmu??" Dirga berusaha mengingatnya. "Gak ada.." Jawab Dirga sambil menggeleng. "Ah dia saja yang aneh..." Dengus Dirga kembali memainkan ponselnya. "Hem..." Nara semakin bingung saja. "Ya sudah kamu istirahat dulu, aku akan disini bersama Ayahmu sampai malam.." Dirga hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Seperti ada teka-teki yang harus Nara pecahkan, kesehatan Dirga dan Delio adalah prioritas saat ini tapi hal-hal mengenai Eliza juga menjadi hal yang harus dia perhatikan. Nara kembali mengubah haluan menuju kamar Eliza. Dia semakin tidak tenang saja. "Tidak mungkin Eliza ketakutan seperti itu tanpa sebab" Nara mengetuk pelan pintu kamar Eliza. "Eliza, apa kamu sedang tidur??" "Tidak Mami.." Tedengar suara langkah kaki Eliza semakin mendekat. "Ada apa?" Tanya Eliza saat menemui Nara dibalik pintu. "Boleh aku tanya sesuatu??" "Iya.." Nara melangkah masuk kedalam kamar Eliza, mencoba mencari tahu dan memecahkan hal-hal yang menurutnya mengganjal. "Maaf aku menganggu waktu istirahatmu.." Eliza menggeleng sambil tersenyum. "Enggak kok.." Jawabnya. "Engg Eliza.. Barusan aku dari kamar Dirga, dan dia bilang kalian pulang menggunakan bis hari ini karena kamu.." "Ah maaf.." Potong Eliza. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh di mobil Dirga??" Eliza menggeleng. "Masalahnya bukan sama mobilnya, tapi aku.." Jawab Eliza sembari menunduk tidak berani mengangkat wajahnya menatap Nara. "Aku tidak tahu pasti, hanya saja saat berada dalam mobil Dirga aku terbayang sesuatu yang menyeramkan.." "Sesuatu yang menyeramkan? Seperti apa??" Eliza kembali menggeleng, dia benar-benar bingung harus menjelaskan seperti apa perasaannya. "Aku tidak tahu, jantungku hanya berdetak kencang dan tidak karuan. Bayangan seperti tabrakan muncul dikepalaku dan..." Eliza menghentikan kata-katanya. "Aduhh.. Kepalaku....." Ada rasa nyeri hebat yang dia rasakan di kepalanya, seperti ada yang berdengung sampai membuatnya kesulitan dan kesakitan. "Eliza, kamu baik-baik saja??" Tanya Nara khawatir. Eliza terus-terusan memegangi kepalanya. "Eliza...." Tidak ada jawaban dari panggilan Nara, Eliza terus-terusan memegangi kepalanya yang terasa sakit sampai membuatnya tidak bisa mendengar panggilan Nara. Nara berhambur memeluk Eliza, mencoba menenangkan Eliza dengan pelukannya dan berharap rasa nyeri di kepala yang terus-terusan Eliza rasakan bisa mereda. Pelukan hangat Nara perlahan menenangkan Eliza, detak jantungnya yang sedari tadi berdetak cepat sampai membuatnya sesak perlahan stabil, rasa nyeri di kepalanya meski masih terasa namun tidak sesakit tadi. "Tenanglah Eliza..." Nara mengusap-usap rambut hingga punggung Eliza mencoba untuk memberi ketenangan pada Eliza. "Maaf..." Airmata Eliza perlahan menetes. "Tidak apa, tidak usah dipikirkan lagi.." Nara mengusap airmata Eliza. "Sepertinya kamu masih butuh istirahat, jangan paksakan dirimu.." "Maafkan aku..." Airmata Eliza terus menetes. Ada rasa bersalah dalam hatinya, rasanya dia begitu merepotkan dan itu membuatnya merasa tidak tenang. "Tidak apa.. Sudah, kamu istirahat dulu.." Nara mencoba membantu Eliza untuk berbaring. Nara melangkah keluar dari kamar Eliza, mencoba memberi Eliza waktu sendiri untuk beristirahat. Ada satu kesimpulan yang bisa Nara tarik dari apa yang dia dengar dan lihat dari Eliza. "Sepertinya dia memiliki Trauma..".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD