Bingung

826 Words
Seperti sebuah teka teki yang tidak ada habisnya dan tidak ada penyelesaiannya meski sudah menjerumuskan diri untuk mengetahui puing-puing soal yang kian merumit. Masalah mengenai kesehatan Delio sudah cukup membuat pikiran bekerja keras meski sedikit lebih tenang saat Delio siuman, namun pikiran-pikiran rumit lainnya terus bermuncul dari ingatan tentang Dirga hinggal Eliza yang kemungkinan memiliki trauma. Semua masalah dalam medan yang disebabkan oleh kecelakaan beberapa hari itu terus-terusan memaksa pikiran untuk tidak tenang. "Kamu dari mana saja sayang??" Tanya Samuel melihat istrinya berjalan masuk ke dalam kamar dengan lesuh. Nara tidak menjawab dengan cepat, beberapa hal masih menganggu pikiran membuatnya mengabaikan pertanyaan suaminya sejenak. "Ah, aku dari kamar Dirga dan Eliza.." Jawabnya kemudian. "Bagaimana keadaan mereka??" "Hem.. Seperti yang kita lihat, jasmaninya baik-baik saja tapi aku tidak tahu dengan rohaninya.." Nara menghembuskan nafas panjang, beban pikirannya kali ini benar-benar membuatnya sampaii bingung harus berbuat apa. "Maafkan aku.." Lirih ucapan Samuel membuat Nara spontan menatapnya. "Harusnya yang kamu dapatkan saat bersamaku hanyalah kebahagiaan, kamu masih terlalu muda untuk memikirkan hal-hal yang seperti ini, terlebih ini adalah masalah anak-anakku.." Nara sadar, beban pikiran yang dia miliki sekarang tidaklah seberapa dibanding beban yang sudah ditanggung oleh suaminya, namun suaminya sebisa mungkin tidak menampakkannya agar dia tidak terlalu khawatir. Nara mendekat dan memberi pelukan hangat pada suaminya yang terlihat sangat down itu. "Kenapa meminta maaf?? Aku bahagia bersamamu. Saat aku memilih untuk menjadi istrimu, aku sudah membuat kesepakatan pada diriku sendiri saat itu untuk menanggung semua suka dan duka bersamamu. Ingat, aku adalah istrimu dan bukan orang lain, anakmu adalah anakku juga, jadi wajar saja kalau aku mengkhawatirkan mereka" Nara mempererat pelukannya, berusaha memberi ketenangan pada suaminya itu. "Tapi..." Cup.. Kecupan manis Nara membungkam mulut Samuel. "Berhenti selalu memikirkan hal-hal yang seperti itu. Aku senang seperti ini, membuatku merasakan seperti seorang Ibu yang sesungguhnya.." Senyum manis Nara yang menenangkan. "Kedepannya, aku akan memberimu hari-hari yang bahagia.." Ucap Samuel, meski ia tidak tahu kapan waktu itu tiba, namun dia ingin kata-kata itu membuat Nara bahagia. "Sungguh??" Tangan Nara melingkar manja di leher suaminya. "Tentu.." Samuel meraih tengkuk istrinya, memberinya ciuman hangat yang dalam tanpa memberi Nara waktu untuk bernafas. Dering telfon Samuel menghentikan ciuman manis Randi yang mendarat di bibir istrinya. "Ah sebentar..." Samuel meraih ponselnya. Nara masih bergelantungan disisi suaminya meringkuk dengan manja. "Kenapa??" Tanya Nara menatap dalam suaminya setelah menyelesaikan pembicaraan melalui telfon itu. "Tidak apa-apa, hanya laporan perusahaan saja. Sepertinya negosiator kita berhasil meraih kesepakatan dengan klien, kita bisa tinggal disini lebih lama.." Samuel membelai rambut istrinya, merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik nan putih bersih milik Nara. "Ah iya aku lupa.." Beberapa hal yang ingin disampaikan Nara tadi sempat terlupakan akibat dari ciuman suaminya yang selalu membuatnya terbuai. "Tentang??" "Aku rasa Eliza memiliki trauma.." "Maksud kamu??" "Dirga dan Eliza pulang menggunakan Bis hari ini. Dirga bilang kalau Eliza memberontak dalam mobil dan tidak ingin pulang menggunakan mobil Dirga. Awalnya aku kira Dirga sengaja membuat Eliza takut agar Eliza tidak ingin tinggal bersama Dirga. Kamu tahu kan, bagaimana Dirga sangat menolak untuk tinggal bersama Eliza. Tapi setelah aku bertanya pada Eliza... Sepertinya dia mengalami trauma untuk masuk kedalam mobil, dia seperti mengingat sesuatu yang menyeramkan saat berada dalam mobil. Aku rasa itu hal yang mungkin saja terjadi, meski dia lupa ingatan, memori Eliza pasti tersembunyi dalam otaknya yang membuat ingatannya muncul sekilas jika terpacu.." Jelas Nara panjang lebar. "Jadi maksud kamu, ingatan Eliza terpacu tiap berada dalam mobil??" "Mungkin seperti itu, kecelakaan itu memberinya memori yang buruk dan itu terjadi didalam mobil" Samuel mengusap dagunya yang sedikit kasar dengan jenggotnya yang baru saja dicukur tidak sampai habis itu. "Aku rasa untuk sementara sebaiknya Eliza kemana-mana tidak menggunakan mobil.." Saran Nara. "Lalu? Apa dia harus naik sepeda?? Aku sudah mengurus pendidikan Eliza dan aku menempatkannya disekolah yang sama dengan Dirga. Sekolah itu tidak cukup jauh dari sini tapi tetap saja akan membuat Eliza kesusahan jika harus bersepeda sayang." "Eliza masih bisa naik Bis. Dirga bilang mereka tiba dirumah menggunakan bis.." "Tapi aku tidak bisa membiarkannya naik Bis sendirian, kesehatannya belum pulih dan ingatannya juga bermasalah, dia bisa ditipu oleh orang lain dan lagi kamu lihat, Eliza itu seperti anak kecil dia bisa saja diculik..." "Bagaimana kalau kita bujuk Dirga untuk berangkat naik bis juga bersama Eliza.." "Sayang.. Idemu buruk sekali. Apa kamu pikir Dirga akan menuruti kita, kamu tahukan Dirga itu seperti apa.." " Hem.. Biar aku yang mencoba membujuknya, sesekali kita harus menipu Dirga agar mau menurut.." Nara mengepalkan jari-jarinya, bertekad untuk membujuk Dirga meski dia tahu itu bukan hal yang mudah. "Semoga bisa, aku benar-benar sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi sekarang. Diagnosa dokter tentang Dirga juga masih saja menganggu pikiranku.." Samuel tidak bisa lagi menyembunyikan gelisahnya. "Jangan terlalu khawatir, itu hanya trauma bagi Dirga sampai membuatnya tidak bisa mengingat kejadian itu. Toh semuanya Dirga tetap ingat.." Nara mencoba menenangkan perasaan suaminya. "Percayalah, semuanya akan baik-baik saja.." Nara kembali memeluk suaminya dengan hangat. "Terimakasih sayang.." Hanya senyuman sebagai balasan dari ucapan terimkasih dari Samuel.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD