Malam belum begitu larut, Samuel meminta Dirga dan Eliza untuk berbicara.
"Bagaimana dengan kamarmu Eliza? Kamu suka?" Tanya Samuel.
Eliza hanya mengangguk tersenyum.
"Maaf kalau kurang bagus, soalnya saya tidak punya anak perempuan jadi saya kurang tahu seperti apa minat anak perempuan.."
"Tidak apa-apa, aku suka kok sama kamarku.."
"Sykurlah.. Ah iya aku memanggil kalian kesini untuk membahas masalah pendidikan kamu Eliza" Samuel akhirnva membahas alasan dia memanggil Eliza dan Dirga untuk berbicara.
"Aku sudah mengurusnya, dan kamu akan bersekolah di sekolah yang sama dengan Dirga.." Jelas Samuel.
"A apa?? Sekolah sama aku??" Dirga yang tadinya acuh tak acuh seketika membelalak dengan ekspresinya yang sangat terkejut.
"A anak ini?? Anak kecil ini??" Jari telunjuknya terus dia acungkan pada Eliza
Dirga dengan cepat menoleh menatap Eliza, ditatap dari atas hingga bawah.
"Bukannya dia masih kecil??"
Dirga sangat terkejut, Dirga selalu beranggapan bahwa Eliza hanyalah anak kecil dan tubuh mini Eliza lah yang menjadikan Dirga berfikiran demikian.
Eliza menatap Dirga dengan tatapan tidak senang. "Kalau saja dia bukannya anak pak Samuel, sudah jelas aku tidak mau mengenalinya.." Eliza hanya bisa mengecamnya dalam hati.
"Anak kecil? Dirga, Eliza ini seumuran sama kamu.."
"What????"
Dirga kembali menoleh dan menatap Eliza dengan tatapan tidak percaya
"Oh world, are you kidding me?"
Hening tercipta sejenak setelah Eliza berlalu, Dirga belum bisa memberi kesadaran pada dirinya tentang usia Eliza yang menurutnya jauh dibawahnya.
"Dirga..."
Wajah yang sedari tertunduk dengan segala kebingungan yang menggerogoti pikirannya diangkat secara perlahan.
"Ayah berharap kamu bisa menjaga Eliza di sekolah.."
"Lelucon apa lagi ini Ayah? Kurang dermawan apa aku ngasih dia tumpangan dirumahku dan sekarang..."
"Karena diaa.."
"Belum pulih seutuhnya kan??" Dirga memotong perkataan Samuel menebak apa yang akan Ayahya katakan dan menatapnya sejenak.
"Bukan hanya itu.."
"Terus?? Ayah, kenapa Ayah jadi drama begini sih?? Kenapa Ayah jadi begitu dermawan sama orang yang tidak kita kenal. tidak kita tahu asal usulnya dan tidak.."
"Untuk melindungi kakakmu.." Potong Samuel
What?? Melindungi kakak? Alasan baru apalagi ini?
"Huhh.. Apa Ayah sudah kehabisan alasan sampai ngebawa-bawa kak Delio juga??"
"Tidak Dirga. Kamu yang harusnya ada di lokasi kejadian bisa lebih paham masalah ini.."
Ekspresi wajah kesal yang sedari tadi Dirga tampakkan berubah menjadi kebingungan dengan segala pertanyaan yang mulai muncul di benaknya.
"Maksud Ayah??"
"Kamu tahu kan, kalau kalian dan Eliza terlibat dalam kecelakaan yang sama?"
Dirga mengangguk.
"Kamu juga tahu kan orang tua Eliza meninggal karena kejadian itu.."
Dirga kembali mengangguk.
"Menyelamatkan Eliza, memberi Eliza tempat tinggal dan sebagainya adalah cara Ayah untuk menutup kasus itu sehingga kakakmu bisa aman.."
Hahh?? Apa ini benar??
"Jika Eliza ditemukan dalam keadaan yang tidak baik, apa kamu pikir polisi tidak akan menguak kembali perkara ini?? Kecelakaan itu terjadi karena kelalaian kakakmu Dirga, dan orang tua Eliza meninggal dalam kecelakaan itu.."
Dirga tertegun tidak bisa berkata apa-apa.
"Ja jadi.."
"Iya.. Yang kita lakukan selama ini adalah untuk melindungi kakakmu. Aku bisa saja membuat Eliza tinggal bersama kakakmu dan mengabaikan Ailee, hanya saja aku khawatir bagaimana jika Delio terus-terusan melihat Eliza dia teringat dengan kejadian itu lalu menyalahkan dirinya sendiri, Delio bukan seseorang yang berfikiran acuh dengan masalah yang seperti ini.."
Dirga terdiam, perlahan mengalihkan pandangannya mencoba memberi ketenangan pada hatinya yang penuh kebimbangan.