Ini lebih baik

657 Words
Dirga sangat tidak senang dengan kehadiran Eliza, bukan semata karena Eliza itu orang yang tidak dikenalinya tapi karena pada dasarnya Dirga memang tidak senang dengan kontak fisik atau sekedar berbaur dengan perempuan. "Ayah minta maaf karena menempatkanmu di posisi yang tidak menyenangkan seperti ini. Ayah sama sekali tidak bermaksud membuatmu kesulitan Dirga" Dirga masih saja terdiam. "Jadi Ayah minta tolong.." Dirga mengangguk, membuat Samuel tidak meneruskan kata-katanya. "Iya, aku akan melakukannya.." "Beneran??" Samuel sampai beranjak dari tempat duduknya. Dirga kembali mengangguk. "Aku akan melakukan apapun jika itu untuk melindungi kakak, sudah seharusnya aku balas budi atas segala apa yang kakak kasi sama aku selama ini..." Putraku, aku tidak tahu harus berterimakasih seperti apa. Tuhan benar-benar memberiku karunia yang luar biasa dengan menghadirkan kalian yang rela berkorban satu sama lain untuk saling melindungi. Maafkan Ayah karena harus menipumu seperti ini. "Terimakasih Dirga. Jika keadaan Eliza mulai membaik, Ayah akan memberinya rumah lain sehingga tidak lagi harus tinggal bersamamu.." Dirga hanya mengangguk pelan. "Tidak ada yang harus dibahas lagi kan?? Aku ke kamar dulu.." Dirga beranjak. "Dirga..." Langkahnya terhenti karena panggilan Ayahnya. "Jaga Eliza baik-baik nak, Ayah hanya bisa berharap padamu.." "Jangan khawatir.." "Juga.. Terimakasih.." Dirga menoleh dan menatap Ayahnya. Ada kelegaan dimata Ayahnya. Ayah, maafkan aku karena telalu egois sebelum ini. Aku tahu kamu menanggung beban begitu banyak, dan pikiran yang begitu rumit. Dirga tersenyum. "Sana istirahat, Nara ah maksudku Ibu mungkin sudah menunggu Ayah dikamar.." Dirga melanjutkan langkahnya menuju kamar. Perasaannya masih belum bisa dia kondisikan sebaik mungkin, melihat kelegaan dimata Ayahnya tadi membuatnya sadar bahwa begitu banyak beban dipundak Ayahnya pasca kecelakaan itu dan dia dengan segala keegoisannya tidak bisa turut membantu. Ya, dia akan berusha menjadi lebih baik sekarang. **** Nara berlari kecil menghampiri suaminya yang melangkah masuk kedalam kamar. "Bagaimana???" Tanya Nara antusias. "Aku merasa bersalah sama Dirga.. Aku sudah menipunya, kasus tentang kecelakaan ini sudah ditutup dan aku menjadikan itu juga kakaknya sebagai sebuah senjata untuk menodongnya.." Nara memeluk suaminya. "Maaf, karena ini adalah ideku, aku membuatmu melakukan ini pada putramu. Aku kan sudah bilang biar aku saja yang bicara sama Dirga tapi kamu..." "Tidak apa.." Samuel balas memeluk istrinya. "Yang harus dipikirkan saat ini adalah bagaimana cara menghadapi Dirga jika suatu hari nanti dia tahu bahwa kita menipunya malam ini.." "Dia tidak akan tahu, hanya kita bertiga yang tahu dan tidak ada diantara kita yang bisa membuka mulut masalah ini.." Samuel tersenyum, istrinya benar-benar tidak pernah gagal dalam menenangkan perasaannya. "Oh iya, bagaimana dengan Delio??" "Ah, dia bilang untuk menelfon dia setelah kita selesai berbicara dengan Dirga.." Samuel meraih ponselnya, dia tahu putra sulungnya itu sedang menunggu kabar darinya saat ini. "Halo Ayah.. Bagaimana??" Terdengar suara antusias Delio dari seberang telfon. "Ayah berhasil, Dirga akhirnya menurut.." "Ah syukurlah.. Bagaimana keadaan Dirga sekarang??" "Kamu kan tahu nak, adikmu itu sudah baikan. Yang harus kamu pikirkan sekarang itu adalah kesehatanmu.." Meski Delio tahu tentang Dirga yang tidak bisa mengingat kejadian pasca kecelakaan itu, tapi Samuel tetap menyembunyikan fakta bahwa ada hal yang masih Dokter cari tahu tentang hilangnya ingatan Dirga di waktu kecelakaan itu. "Aku juga sudah membaik Ayah.." "Delio maafkan Ayah.." "Maaf? Untuk Apa??" "Kamu harus menanggung beban ini sendirian, adikmu akan terus-terusan berfikir kalau kamu yang lalai dalam mengendarai dan menyebabkan kecelakaan itu. Dipikiran Dirga saat ini kamulah yang membuat...." "Ayah.." Delio memotong perkataan Samuel. "Aku lebih suka Dirga berfikiran seperti itu dibanding dia tahu kebenarannya kalau dia yang menyetir saat itu. Dirga akan merasa sangat bersalah jika tahu dia yang menyetir dan kecelakaan itu menyebabkan aku koma. Dirga tidak akan bisa memaafkan dirinya kalau dia tahu dan aku tidak ingin itu.." "Kamu benar-benar kakak yang luarbiasa Delio, wajar saja kalau Dirga tidak berfikir dua kali saat aku menjadikan kamu alasan.." "Aku dan Dirga seperti ini karena memiliki Ayah yang hebat seperti Ayah.." Meski takdir sempat mengoyak kehidupan keluarganya dengan kecelakaan yang menimpa kedua putranya, namun rasa saling menyayangi diantara mereka membuat takdir tidak bisa berkutik memasuki medan perasaan mereka dengan luka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD