15

1475 Words

15 Davien meneguk brendi dengan frustrasi. Dadanya panas oleh emosi gelap mematikan yang terasa asing. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Emosi ini begitu kuat dan membuatnya kewalahan. Membuatnya sesak. Sesosok gagah nan tampan yang duduk di depan Davien, menyesap bir tanpa kata. “Dia mengabaikan peringatanku,” ucap Davien akhirnya setelah meneguk brendi untuk kesekian kali. Alis Rock terangkat. Davien yang menangkap pertanyaan tanpa kata itu, mengembus napas panjang. Setelah pulang dari apartemen Jasmine tadi, ia menghubungi Rock, memaksa sahabatnya itu menemaninya minum-minum di bar meski malam telah larut. Davien tidak ingin sendirian di saat emosi bergolak tak keruan seperti ini. Ia butuh teman bicara, yang setidaknya bisa sedikit meredakan gejolak amarah di dadanya.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD