1

1241 Words
COPY RIGHT: Fake Relationship ©Evathink Cerita ini adalah fiktif. Bila ada kesamaan nama tokoh dan tempat kejadian, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka. Penulis tidak ada niat untuk menyinggung siapapun. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun (seperti cetakan, fotokopi, mikrofilm, VCD, CD - Rom, dan rekaman suara) tanpa izin penulis. Hak Cipta dilindungi undang-undang All right reserved ----------------------- ----------------------- 1 Davien Blythe menguap. Rasa kantuk dan lelah yang menggrogoti membuatnya melirik arloji di pergelangan. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia mendesah pelan. Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya dalam dua tahun terakhir. Kerajaan bisnisnya yang semakin besar, menuntut perhatiannya yang juga kian besar. Perusahaannya yang bergerak di bidang ekspor minyak zaitun semakin terkenal di seluruh penjuru dunia. Minggu ini, satu negara lagi bergabung menjadi mitranya. Davien merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku, lalu merapikan dengan asal dokumen-dokumen yang ada di atas meja. Jasmine Maxwell, sekretarisnya, baru pulang sekitar tiga puluh menit yang lalu. Dering ponsel memecah keheningan. Davien meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Ia melihat nama pemanggil, lalu dengan perasaan cemas mengusap tanda hijau di layar. “Ya, Rock? Ada apa? Apakah Celine dan Rhys baik-baik saja?” Tidak biasanya sahabat sekaligus adik iparnya itu menghubunginya malam-malam begini. Dua tahun menikah dengan Celine, hidup Rock berubah drastis. Sang playboy ulung telah hilang tak berbekas, berganti menjadi suami yang setia dan ayah yang hebat bagi putranya yang berusia satu tahun. “Celine dan Rhys baik-baik saja. Aku mendapat tautan dari teman, Mr. Ritchie berniat menjual rumahnya.” Semangat seketika membuncah dalam diri Davien. Sebagai sahabat, bahkan pernah menemaninya menemui Mr. Ritchie, Rock sangat tahu ia sudah lama mengincar rumah sederhana bergaya klasik dengan halaman luas yang dikelilingi pohon-pohon itu. Sudah berkali-kali ia mendatangi Mr. Ritchie, tapi pria paruh baya itu enggan menjualnya. Davien bisa membeli atau membangun rumah serupa, bahkan yang mewah, tapi nilai sentimentalnya tentu saja berbeda. “Aku akan membelinya. Terima kasih untuk informasinya, Rock.” Rock berdeham. “Tapi sepertinya tidak mudah, Davien.” Davien mengerut kening. “Kenapa?” “Aku sudah menyuruh Andrew menghubungi Mr. Ritchie.” Wajah pemuda berkacamata yang menjadi sekretaris Rock, melintas di benak Davien. “Lalu?” “Dia hanya akan menjual rumah itu pada pria yang sudah menikah, atau setidaknya bertunangan dan berniat menikah dalam waktu dekat.” Davien mengerang dan memijit kepalanya yang seketika berdenyut samar. “Dari mana ide gila itu melintas di kepala Ritchie?” Rock tertawa pelan. “Kita tahu sejak awal dia tidak mau menjual rumah itu karena banyak kenangan manis bersama istrinya. Sekarang dia membutuhkan uang, karena itu dia terpaksa menjualnya. Tapi sepertinya dia ingin orang-orang romantis seperti dirinyalah yang memiliki rumah itu.” “Itu gila!” Rock terkekeh. Samar-samar terdengar suara rengekan anak kecil. “Sudah dulu, Davien. Rhys menangis, aku harus membantu Celine menenangkannya.” Davien mendengkus masam. “Baiklah, Sweet daddy,” ledek Davien. “Salam untuk Celine.” Rock tertawa kecil. “Baik. Omong-omong, aku akan mengirimimu tautannya.” “Terima kasih, Rock.” Panggilan terputus. Sesaat kemudian, ponsel Davien berdering singkat. Tautan dari Rock. Ia dengan cepat membukanya. Benar, rumah yang telah sekian lama ingin ia miliki kembali itu akan dijual. Namun, jika seperti yang Andrew bilang persyaratannya haruslah pria yang sudah menikah atau setidaknya bertunangan, maka bisa dikatakan ia tidak memiliki peluang seujung jarum pun. Davien menghela napas frustrasi. Mengapa pria tua itu harus begitu kolot dan romantis? Tidak ada salahnya jika rumah itu dijual kepadanya yang lajang, bukan? Meski terkenal sebagai playboy, toh ia tidak akan mengotori rumah itu dengan membawa wanita jalang ke sana. Davien mendesah gusar. Ia harus memikirkan cara untuk memiliki rumah itu. *** Jasmine berlari kecil menyusuri trotoar. Sesekali ia melirik arloji. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Jasmine ingin mempercepat larinya, tapi dengan sepatu hak tujuh senti, sepertinya hal tersebut mustahil dilakukan jika ia tidak ingin mematahkan pergelangannya. Setelah hampir kehabisan napas, akhirnya Jasmine tiba di tempat yang ia tuju. Ia memandang pintu kaca restoran yang tertutup. Dengan sebelah tangan memegang tas, ia membungkuk, bertumpu pada kedua lutut dan bernapas dengan kasar. Butuh satu-dua menit sampai akhirnya napasnya kembali normal. Jasmine menegakkan badan, meraih cermin dari dalam tas, merapikan riasan dan rambut pirang madu sebahunya, kemudian melangkah masuk ke dalam restoran. Jasmine mengedarkan pandangan ke seluruh restoran yang tidak terlalu ramai. Seketika matanya menangkap sesosok mengenakan kemeja dengan lengan yang digulung hingga ke siku dan beberapa kancing bagian atas yang terbuka, duduk dekat meja paling pojok. Pria itu melambaikan tangan. Jasmine tersenyum lebar, balas tersenyum dan berjalan cepat ke arah pria tampan berambut pirang tersebut. “Ben, maaf,” kata Jasmine begitu tiba di meja pria itu lalu menarik kursi dan duduk. Benson, pemuda berusia 25 tahun yang telah bersahabat dengan Jasmine sejak di bangku kuliah itu, tersenyum dan menggeleng samar. “Tidak apa-apa. Lembur lagi?” Jasmine mengangguk. “Sampai kapan kau akan bekerja seperti ini, Jass? Kau bahkan hampir tidak punya waktu untuk diri sendiri,” ujar Benson sambil menatap Jasmine dalam-dalam. Alih-alih marah, hati Jasmine melambung tinggi mendengar teguran kecil Benson yang menyiratkan kepedulian, yang selalu membuat hatinya berbunga-bunga. “Gajinya tinggi,” kata Jasmine ringan. “Maaf kau harus menunggu lama. Apakah kau sudah makan?” Jasmine melirik gelas minuman yang hampir kosong di depan Benson. Benson menggeleng. “Aku menunggumu.” Jasmine tersenyum lebar. “Kalau begitu sebaiknya kita segera memesan makanan, aku sudah lapar.” Seorang pelayan datang, menyerahkan buku menu pada Jasmine dan Benson, lalu mencatat pesanan keduanya. Setelah beberapa saat, pesanan minuman mereka diantarkan. Cokelat hangat untuk Jasmine, sementara Benson yang sejak tadi minum cokelat hangat saat menunggu, kini memesan kopi hitam. Jasmine menyesap minumannya sambil memperhatikan raut wajah Benson yang tampak berseri-seri. “Kau tampak sedang senang, naik jabatan?” tanya Jasmine. Benson menjabat sebagai manajer penjualan di sebuah perusahaan otomotif. Benson tertawa. “Tidak.” “Lalu?” kejar Jasmine penasaran. “Kau ingat Claudia?” Kedua alis Jasmine hampir bertaut mengingat-ingat sosok pemilik nama tersebut. Sebentuk wajah cantik berambut pirang pucat yang dikenalkan pada mereka saat pesta ulang tahun Ravienna, salah seorang teman kuliah mereka dulu, melintas di benaknya. Jasmine mengangguk. “Adik sepupu Ravienna, kan?” Benson mengangguk membenarkan. “Tepat sekali.” “Ada apa dengan dia?” Benson menyeringai senang. “Kami menjalin hubungan.” Seketika seluruh rona meninggalkan wajah Jasmine. “Apa?” “Kau tidak salah dengar, Jass. Kini kami sepasang kekasih. Claudia wanita yang sangat memesona. Sejak awal berkenalan dengannya, aku sudah terpikat.” Jasmine sebisa mungkin menyembunyikan perasaan sedihnya. Selalu seperti ini. Sekian tahun ia mengharapkan Benson akan meliriknya, tapi pria itu justru tak henti-henti menjalin hubungan dengan wanita demi wanita. Sampai kapan ia harus menunggu Benson menyadari arti kehadirannya sementara hatinya terus berdarah setiap kali pria itu menjalin hubungan baru dengan wanita lain? Hubungan Benson dengan kekasih-kekasihnya hampir tak pernah bertahan lama. Meski bukan playboy, Benson sendiri juga tidak pernah sendiri untuk jangka waktu lama. Selalu dengan cepat pria itu menemukan pengganti. Seharusnya Jasmine lega karena itu artinya Benson tidak serius dengan wanita-wanita tersebut, tapi tetap saja hatinya sakit. “Jass?” Benson mengangkat alis melihat keterdiaman Jasmine. Lamunan Jasmine buyar. Ia memaksakan seulas senyum. “Ehm! Selamat, Ben.” *** Love, Evathink (IG/Youtube/Play buku/k*********a: evathink) *jangan lupa Follow juga akun Dreame & Innovel saya, ya teman2, agar kalian mendapat notif dari saya. btw, please sentuh love dan komennya, teman2. Love dan komen dari kalian, sangat berarti untuk saya. Terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD