2

1045 Words
2 Matahari pagi musim panas bersinar cemerlang menembus dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit ruang kerja Davien. Cuaca yang cerah sama sekali tidak memengaruhi suasana hati Davien. Ia duduk termenung di balik meja kerjanya. Persyaratan Mr. Ritchie masih berputar di benaknya. Apa yang harus ia lakukan? Setelah berkali-kali gagal membujuk menjual rumah tersebut kepadanya, Davien tahu pasti, duda paruh baya bertubuh gempal itu, sangat keras kepala. Davien menatap muram mejanya yang tampak rapi. Jelas sebelum ia datang tadi, Jasmine sudah merapikannya. Suara pintu terbuka dan irama entakan sepatu hak tinggi membuat Davien mengangkat wajah. Jasmine Maxwell melangkah ke arahnya dengan tangan membawa nampan berisi kopi. Wajah yang biasanya ceria itu tampak muram. Apa yang terjadi? Davien bertanya-tanya dalam hati. Mata Davien mengikuti gerakan Jasmine menghidangkan kopi ke atas meja. “Ada apa?” Setelah pertanyaan itu lolos dari bibirnya, Davien mengertakkan gigi. Biasanya ia tidak mencampuri urusan pribadi stafnya. Akan tetapi, wajah murung Jasmine pagi ini mendobrak kebiasaan itu. “Eh? Apa?” Jasmine menatap Davien bingung. Davien menggeleng. “Tidak apa-apa.” Jasmine sudah dua tahun bekerja padanya, tepatnya sejak Celine mengundurkan diri dan menikah dengan Rock. Sepanjang sejarah Davien, Jasmine satu-satunya sekretarisnya yang tidak berusaha menggodanya, dan satu-satunya sekretarisnya yang sebisa mungkin tidak ia goda. Berganti sekretaris hampir lima kali dalam setahun secara terus-menurus pada akhirnya membuat Davien sadar, ia tidak boleh lagi mencampurkan urusan bisnis dan kesenangan. Apalagi Jasmine adalah sekretaris yang cekatan dan kompeten. Jasmine mengangguk samar lalu melangkah keluar sambil membawa nampan kosong. Tak lama kemudian gadis itu kembali dengan tablet di tangan. Berdiri di depan Davien sambil menyebutkan jadwal-jadwal hari itu. *** Lembayung senja memukau mata. Davien berdiri di dekat dinding kaca ruang kerjanya sambil menyesap anggur. Tatapannya tertuju pada langit yang tampak kemerahan. “Jadi apa yang akan kau lakukan untuk mendapatkan rumah itu?” Davien menoleh pada sosok yang menyuarakan pertanyaan itu. Rock duduk di sofa sambil menggoyang-goyang kecil gelas berisi anggur. Davien mengangkat bahu sebagai jawaban. “Entahlah. Aku sangat menginginkan rumah itu, dan aku harus melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, hanya saja aku belum tahu apa yang harus kulakukan.” Davien menyesap kembali anggurnya. “Kau harus menikah, atau setidaknya bertunangan.” Davien memandang Rock seolah sahabatnya itu baru saja menyarankannya terjun bebas dari lantai tertinggi sebuah gedung. “Oh, ayolah, Kawan, menikah tidak seburuk itu.” Rock terkekeh pelan. “Lihat aku dan Celine ....” Davien menyeringai masam. “Tidak semua orang seberuntung kalian.” “Mungkin kau termasuk yang beruntung ....” Davien mendengkus. “Tidak semua wanita seperti Carrie.” Mendengar nama itu, tubuh Davien menegang. “Aku tak mau menyinggung tentang dia, Davien, tapi aku rasa sudah waktunya kau bangkit dari kubangan lumpur masa lalu. Celine sangat mencemaskanmu. Kami sangat berharap kau segera menikah dan hidup—” “Bahagia seperti kalian,” tukas Davien menyelesaikan kalimat Rock, yang sudah terlalu sering ia dengar dalam dua tahun terakhir ini dari adiknya, juga sang sahabat yang menjadi adik iparnya. Davien meneguk anggurnya dengan frustrasi hingga tandas. “Aku memang tidak menikah, Rock, tapi aku bahagia dikelilingi wanita-wanita cantik dengan bisnis yang kian sukses.” Rock menghela napas panjang, lalu hanya diam untuk beberapa saat. “Baiklah jika itu pilihanmu. Tapi asal kau tahu, dikelilingi wanita-wanita cantik dan menjadi pebisnis sukses, tak selamanya memberikan rasa bahagia. Hidupmu baru terasa lengkap saat kau memiliki istri yang kau cinta dan anak-anak.” “Aku tak bisa jatuh cinta lagi.” Rock tersenyum samar. “Mungkin belum.” Davien menggeleng tegas. “Tidak. Aku tidak akan jatuh cinta lagi, pada wanita mana pun!” Rock menyesap anggur sebelum meletak gelasnya ke atas meja, kemudian berdiri dan menghampiri Davien. Ia memandang langit senja yang menyajikan awan kemerahan menakjubkan. “Aku tidak mau beradu argumen tentang itu. Omong-omong aku punya ide yang mungkin bisa membantumu mendapatkan rumah itu.” “Apa?” tanya Davien antusias. Rock menyeringai masam. “Bukan ide terpuji, tentu saja, tapi akan jadi solusi sempurna untuk masalahmu.” Davien menatap Rock dengan tak sabar. “Apa?” “Hmm...., tapi sebelumnya aku ingin tahu mengapa kau sangat menginginkan rumah itu.” Rock menatap Davien penuh rasa ingin tahu. Davien terdiam untuk sesaat, lalu menyeringai samar. “Aku akan memberitahumu lain kali. Sekarang katakan apa idemu.” Rock mendesis kesal. “Baiklah.” “Jadi?” “Kau butuh tunangan pura-pura.” Sesaat Davien terdiam, memroses ide tersebut, lalu senyum lebar melengkung di bibirnya. “Kau genius, Bung! Tidak sia-sia aku mengizinkanmu menikah dengan adikku!” Rock mencibir. “Kau membuatku teringat betapa menyebalkan kau dulu.” Davien tertawa kecil, dalam sekejap kenangan kelam tentang Carrie terlupakan. “Aku hanya berusaha menjaga adikku, Kawan.” Rock mendengkus samar. Ia melirik arloji. “Aku harus segera pulang. Celine dan Rhys menungguku.” Keceriaan yang mewarnai wajah Davien sesaat tadi seketika memudar. Celine dan Rhys menungguku. Kalimat tersebut menohok jantung Davien. Tidak ada yang menunggunya. Tidak ada yang peduli bila ia tidak pulang. Hati Davien seketika menghampa. “Luangkan waktu bertemu Celine dan Rhys, Davien. Kau terlalu sibuk bekerja dan mengencani wanita-wanita cantik, jangan sampai keponakanmu tidak kenal dengan pamannya.” Davien tertawa muram. Rock benar. Akhir-akhir ini ia terlalu sibuk, hingga hanya sesekali menemui Celine dan Rhys. “Baiklah. Aku akan meluangkan waktu minggu ini. Salam untuk Celine dan keponakanku yang tampan.” Rock menyeringai lebar. *** “Ada apa, Jass? Kenapa kau bermuram durja?” Jasmine yang sedang mengaduk-aduk makan malamnya, mengangkat wajah, memandang Florie, teman sepermainan yang menjadi sahabatnya. Saat ini keduanya sedang santai di sebuah kafe tidak jauh dari apartemen mereka. Florie Claude dan Jasmine tinggal bersebelahan di gedung apartemen yang sama. Setiap malam, jika pulang lebih awal, keduanya akan makan malam bersama. Florie sama sibuknya seperti Jasmine. Bekerja sebagai asisten pribadi seorang perancang busana terkenal, juga sangat menyita waktunya. “Benson memiliki kekasih.” “Lagi?” Jasmine mengangguk muram. Beberapa waktu lalu ketika hubungan Benson dan kekasihnya berakhir, Jasmine dengan ceria menceritakan hal tersebut kepada Florie dan mengatakan dengan gamblang harapannya Benson akan sadar bahwa wanita yang tepat untuk pria itu adalah dirinya. “Lelaki b*****t!” Florie mengumpat geram. Jasmine melirik sahabatnya, lalu menggeleng samar. “Dia tidak salah, Flo. Dia tidak tahu aku mencintainya. Lagi pula, cinta tidak bisa dipaksakan, bukan?” *** Love, Evathink Instagram: evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD