3
Florie menusuk steiknya dengan kesal. “Tetap saja pria itu berengsek. Buta hingga tidak bisa melihat cintamu!”
Jasmine hanya menunduk dan mulai menyantap bubble & squeak-nya yang terasa hambar. “Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku ..., rasanya sakit, Flo.”
Florie menatap Jasmine dengan muram. Untuk sesaat, keduanya sama-sama terdiam.
“Aku rasa sudah saatnya kau berhenti mengharapkannya, Jass,” akhirnya Florie bersuara. “Sudah sekian tahun kau mencintainya, mungkin sebaiknya kau melepaskannya, memulai hidup baru. Masih banyak laki-laki lain yang jauh lebih baik, yang pantas untukmu.”
Jasmine meletak garpunya, lalu mengelap mulut dengan serbet. “Itu tidak mudah,” kata Jasmine muram.
Florie menggangguk mengiyakan. “Aku tahu. Tapi belajar melepaskan lebih baik daripada tersakiti terus-menerus seperti ini, bukan? Aku sarankan kau berkencan dengan pria lain. Siapa tahu salah satu dari mereka mampu membuatmu jatuh cinta lagi.”
Jasmine menyesap jus markisanya, lalu menghela napas panjang.
Florie menyudahi makannya dan mengelap mulut dengan serbet, kemudian menyesap jus jeruk. Ia tersenyum lembut pada Jasmine. “Percaya padaku, Jass, kau akan menemukan lelaki yang jauh lebih baik dari si berengsek Benson. Lihat aku! Berkali-kali aku patah hati dan disakiti, tapi akhirnya aku menemukan juga lelaki yang tepat. Brian sangat mencintaiku dan memperlakukanku dengan amat baik.”
Jasmine memandang wajah yang tersenyum tipis itu. Florie cantik dengan kulit sewarna zaitun dan rambut gelap. Banyak laki-laki yang mengejarnya, tapi rata-rata dari mereka semua berengsek. Patah hati tak membuat Florie jera. Akhirnya wanita itu bertemu Brian, pemilik restoran Italia yang bukan hanya kaya dan tampan, tapi juga baik hati dan sangat mencintainya.
Melihat keterdiaman Jasmine, Florie menghela napas panjang. “Mungkin kau bisa melakukan sesuatu sebagai upaya terakhir. Jika ternyata dia tidak merespons seperti yang kita harapkan, maka kau benar-benar harus melepaskannya.”
Jasmine memandang Florie penuh tanya.
Florie menyesap jus, lalu menatap Jasmine dalam-dalam. “Kau dan Benson berteman dekat sejak kuliah, bukan?”
Jasmine mengangguk, menatap sahabatnya dengan tatapan tak mengerti. Florie sudah tahu itu, mengapa masih bertanya?
“Selama ini dia sangat baik kepadamu, benar?”
Lagi-lagi Jasmine mengangguk.
“Kau juga baik kepadanya. Selalu ada untuknya kapan pun dia membutuhkanmu.”
Jasmine teringat saat Benson malam-malam datang ke apartemennya karena kesal terhadap kekasihnya yang posesif, atau saat pria itu mengajaknya minum-minum di bar elite untuk merayakan kenaikan jabatan, dan masih banyak kejadian-kejadian lainnya. Jasmine mengangguk dan menatap tak sabar pada sahabatnya. “Sebenarnya apa idemu? Dari tadi kau mengoceh tak jelas.”
Florie tersenyum lebar. “Kau tahu, Jass, selama ini secara tidak sadar kau seperti menjadi milik Benson seorang. Kau tidak memiliki kekasih dan selalu meluangkan waktu untuknya. Mungkin kalau kau memiliki kekasih dan mulai tidak mengacuhkannya, dia akan sadar betapa penting arti dirimu baginya.”
Untuk sesaat Jasmine mencerna penjelasan itu. Kemudian matanya melebar dan berbinar. Ia menjentikkan jari dengan penuh semangat. “Kau benar!” Tiba-tiba binar di matanya meredup. “Tapi aku tak punya kekasih, Flo.”
“Kau bisa mulai mengencani salah satu dari para pria yang mengejar-ngejarmu. Selama ini matamu hanya terpaku pada Benson hingga tidak peduli pada yang lain.”
Jasmine menyeringai. Yang Florie katakan benar. Ada banyak pria mengajaknya berkencan, tapi ia menolak. Selain karena pekerjaannya sebagai sekretaris Davien yang sangat menyita waktu, juga karena ia menunggu Benson menjadi kekasihnya.
“Bagaimana? Ideku luar biasa, bukan?”
Jasmine mengangguk. “Tapi, Flo ..., aku tidak mau mempermainkan pria yang menyukaiku. Kalau aku mengencani mereka hanya untuk menarik perhatian Benson, rasanya kejam sekali.”
“Hmm ....” Florie menyesap jus jeruknya. Kedua alisnya hampir bertaut, tampak sedang berpikir keras.
Jasmine menyesap jus markisanya, diam-diam juga memikirkan apa yang harus ia lakukan.
“Kekasih pura-pura!” seru Florie semangat.
“Apa?”
“Kekasih pura-pura, Jass. Ya! Itu yang kaubutuhkan!”
***
Jasmine melangkah masuk ke ruangan atasannya sambil membawa kopi, sebuah aktivitas yang dua tahun belakangan ini menjadi rutinitasnya setiap pagi sejak menjadi sekretaris Davien.
Perhatian sang atasan tampak tercurah pada ponsel di tangan. Jasmine menebak pria itu sedang membaca surel dari relasi atau berita online.
Sesaat Jasmine berhenti. Memperhatikan sosok di depannya. Davien Blythe sangat tampan. Rambutnya lebat dan berwarna cokelat keemasan. Alisnya rapi, dan sepasang mata birunya bersinar tajam dibalik naungan bulu-bulu mata yang tebal dan lentik. Hidung pria itu mancung dengan sepasang tulang pipi tegas dan rahang yang kukuh. Jas rancangan desainer ternama membalut indah d**a bidangnya, makin menonjolkan maskulinitasnya. Pantas saja banyak wanita tergila-gila padanya, dia sangat menawan, batin Jasmine.
Terkejut dengan pikirannya yang melantur, Jasmine menggeleng samar, mengusir bayangan pria berusia 32 tahun itu dari benaknya. Sejak kapan ia mulai memperhatikan pria lain, terutama sang atasan yang terkenal playboy?
Jasmine menyeringai masam. Apakah ide Florie agar ia mencari kekasih—atau kekasih pura-pura—mulai membuatnya memperhatikan pria lain, bahkan sang atasan yang tentu saja tak boleh ia goda bila tidak mau kehilangan pekerjaan?
Davien terkenal sebagai buaya darat yang akan memangsa wanita mana saja asalkan cantik dan memiliki bentuk tubuh aduhai. Tidak ada komitmen dan kesetiaan dalam kamus pria itu. Jasmine tentu saja tidak mau menjadi salah satu mangsanya, bukan?
“Apakah kau akan berdiri di situ terus?”
Suara yang datar dan tenang itu membuat Jasmine tersentak. Matanya beradu dengan iris sebiru laut di depannya. Rona merah merambat di tulang pipi Jasmine.
Dengan perasaan malu, ia melangkah maju, menghidangkan kopi untuk pria itu, setelahnya, siap berlalu mengambil tablet yang berisi jadwal-jadwal kerja Davien dari mejanya.
“Jasmine.”
Panggilan itu menghentikan langkah Jasmine. Ia berbalik dan melihat sang atasan menatapnya dalam-dalam. “Ya?” Jantung Jasmine berdegup kencang. Belum pernah Davien menatapnya seperti itu—setidaknya Jasmine belum pernah menangkap tatapan intens yang gamblang seperti itu.
“Jika kau tidak keberatan, ada yang ingin aku bicarakan.”
Sejak kapan bawahan dibolehkan keberatan atas keinginan atasannya? Pagi ini Davien tampak sedikit aneh, pikir Jasmine. Ia mengangguk kecil.
Davien berdiri, meraih kopi, lalu berjalan menuju satu set sofa yang ada di ruangan tersebut, secara tidak langsung mengajak Jasmine ke sana.
***
Love,
Evathink
Instagram: evathink