4
Jasmine menurut. Ia berdiri diam saat pria bertubuh tinggi gagah itu duduk di salah satu sofa, lalu menyesap kopi.
“Silakan duduk,” kata pria itu.
Jasmine duduk di salah satu sofa. Matanya menatap sosok berkulit kecokelatan di depannya.
Suasana hening. Jantung Jasmine berdegup semakin kencang, sampai ia khawatir Davien bisa mendengar detaknya. Apa yang hendak Davien bicarakan?
***
“Apakah kau memiliki kekasih, Jass?”
“Eh?” Jasmine menatap atasannya dengan mata melebar dan mulut sedikit menganga. Pertanyaan macam apa itu? Sebagai atasan dan sekretaris, ia dan Davien terbilang cukup akrab, tapi mereka tidak pernah membahas tentang kehidupan pribadi. Jasmine membelikan hadiah-hadiah mahal untuk teman kencan Davien, memesan restoran mewah untuk kencannya, dan melakukan hal lainnya selain pekerjaan kantor untuk pria itu. Namun tidak pernah sekalipun mereka membicarakan perihal pribadi semisal: mengapa Davien tidak pernah berkomitmen, atau apakah Jasmine sudah memiliki kekasih.
“Apakah kau memiliki kekasih?” ulang Davien.
Meskipun masih merasa bingung, Jasmine tetap menggeleng.
“Bagus.”
Jasmine menahan erangan kesal lolos dari bibirnya. Bagus? Apanya yang bagus untuk wanita berusia 24 tahun belum memiliki kekasih? Apakah pria di depannya ini sudah tidak waras?
“Aku membutuhkan tunangan pura-pura, jadi maukah kau membantuku?”
Mata Jasmine membeliak. “Apa?”
***
Davien tersenyum samar melihat reaksi Jasmine yang tentu saja sudah ia perkirakan sebelumnya. Tadi malam, saat memikirkan ide Rock, wajah Jasmine melintas di benaknya, dan ia pikir tidak ada wanita yang lebih tepat untuk mengisi peran itu selain Jasmine.
Jasmine cantik, cekatan dan kompeten. Tentunya wanita itu juga akan pandai berpura-pura menjadi tunangannya. Kenyataan Jasmine belum memiliki kekasih makin memudahkan rencana Davien.
“Aku meminta kau menjadi tunanganku, hanya pura-pura. Sebagai imbalannya, kau boleh minta apa saja. Kondominium mewah, mobil mewah, bonus besar, atau apa saja.”
Jasmine melongo.
Davien memperhatikan wanita di depannya yang tampak bingung sekaligus terkejut. Matanya melebar memperlihatkan pesona iris hazel-nya.
Setelah beberapa saat diselimuti keheningan, akhirnya Davien bertanya, “Bagaimana?”
“Apa?”
Davien menatap wanita cantik berambut pirang madu sebahu yang terlalu larut dalam lamunan itu dengan sedikit kesal. “Bagaimana dengan permintaanku? Apakah kau bersedia membantuku dengan menjadi tunangan pura-puraku?”
“Ta..tapi kenapa?”
Sesaat Davien menimbang apakah akan mengatakan yang sebenarnya. Setelah yakin dengan mengetahui yang sebenarnya akan membuat Jasmine bersedia membantu, akhirnya Davien meraih ponsel, membuka tautan yang Rock kirimkan, lalu menunjukkan pada Jasmine.
Jasmine memandang ponsel Davien dengan saksama.
“Itu rumah Mr. Ritchie. Aku berencana membelinya, tapi dia tidak mau menjualnya pada pria yang masih lajang, karena itu aku membutuhkan tunangan pura-pura.” Meski sudah dua tahun menjadi sekretarisnya, Jasmine tidak tahu tentang rumah yang sangat Davien idam-idamkan itu. Selama ini, satu-satunya orang yang tahu, hanya Rock. Itu pun tidak mengetahui alasan Davien.
“Kenapa kau berkeras ingin memilikinya? Rumah itu terlihat sama seperti rumah-rumah di perdesaan pada umumnya. Aku punya teman yang bekerja di agen properti. Aku bisa—”
Davien mengangkat tangan menahan perkataan Jasmine lebih lanjut.
Jasmine terdiam dan wajahnya merona, seolah baru menyadari kelancangannya mempertanyakan keinginan sang atasan. Ia menggigit bibir sambil mengembalikan ponsel Davien.
Davien menerima ponselnya, sementara tatapannya terpaku pada bibir ranum sewarna ceri yang tampak segar dan seksi, menggoda untuk dikecup dan dilumat dengan panas membara.
Seketika hasrat mencambuk Davien dengan dahsyat. Ia mengalihkan pandangan dan mengumpat pelan. Ia tentu saja tidak boleh tergoda. Jasmine terlarang. Jasmine sekretarisnya yang cekatan dan sangat bisa diandalkan. Ia tidak lagi boleh mencampurkan urusan profesional dengan personal.
“Maafkan aku, Davien. Aku tidak berniat mencampuri urusan pribadimu.”
Davien tersadar, secara tak sengaja umpatannya telah membuat gadis itu salah paham. Ia menggeleng dan tersenyum samar. “Tidak. Aku tidak marah. Jadi bagaimana, Jass? Maukah kau membantuku? Kau hanya perlu berpura-pura menjadi tunanganku saat menemui Mr. Ritchie. Tapi tentu saja, selama proses pembelian rumah itu, aku harap kau tidak berkencan dulu. Aku tidak mau memberinya celah untuk mengetahui pertunangan pura-pura kita.”
Jasmine memandang Davien dengan tatapan ragu. “Bagaimana dengan kekasihmu?”
Davien mendengkus samar. Stella Malcom adalah sosialita dangkal yang ia kencani dua minggu terakhir ini. Wanita itu bertubuh indah dengan d**a besar dan sangat lihai di atas ranjang, tapi entah mengapa, Davien tak bisa jatuh cinta kepadanya, dan tidak bisa setia. Selama menjalin hubungan dengan Stella, ia masih saja tidur dengan wanita lain. “Hubungan kami sudah berakhir.”
Jasmine terdiam.
“Sekarang, maukah kau membantuku, Jass? Kau boleh minta apa saja sebagai imbalan.”
Jasmine menghela napas panjang. “Bukan aku tidak mau membantumu, Davien. Tapi ..., yeah ..., aku tidak suka membohongi Mr. Ritchie ....”
“Jass, kita tidak membohongi Mr. Ritchie. Ini hanya sedikit siasat. Tidak merugikan siapapun, termasuk Mr. Ritchie. Tidak ada pembeli yang lebih tepat selain aku. Aku akan merawat rumah itu dengan sangat baik dan penuh kasih sayang seperti keinginan Mr. Ritchie.”
***
Jasmine tidak suka membohongi orang lain. Namun seperti yang Davien bilang, ini hanya siasat kecil, bukan kebohongan yang merugikan.
Kemudian Jasmine teringat saran Florie agar ia memiliki kekasih pura-pura. Sepertinya ini akan menjadi solusi sempurna.
Akhirnya Jasmine mengangguk kecil sebagai jawaban.
“Jadi kau setuju?”
Jasmine mengangguk lambat.
“Bagus. Katakan apa yang kauinginkan? Kalung berlian, mobil mewah atau—”
“Tidak, Davien.”
Davien memandang Jasmine terkejut. “Kau tidak menginginkan hadiah tersebut? Mungkin uang tunai?”
Jasmine sedikit kesal dengan sikap Davien yang mengharagi segala sesuatu dengan uang. Namun bukankah kehidupan pria itu memang seperti itu? Davien membayar kenikmatan sesaat dengan hadiah-hadiah mewah untuk wanita-wanitanya.
“Aku ingin kau melakukan hal yang sama untukku.”
Kening Davien berkerut. “Bisa diperjelas?”
Jasmine menarik napas panjang. Ia tak mau terdengar lancang dengan permintaannya, bagaimanapun Davien atasannya. Namun sudah terlanjur basah. Mereka terlanjur bergerak sejauh ini. “Aku membutuhkanmu sebagai kekasih pura-puraku.”
Kening Davien terangkat.
Wajah Jasmine merona. “Aku menyukai seorang pria. Aku butuh kekasih pura-pura untuk membuatnya sadar arti diriku baginya,” jelasnya dengan malu.
Davien menatap Jasmine takjub, kemudian menyeringai masam dan mengangguk. “Baiklah. Kalau begitu kita sepakat, kau menjadi tunangan pura-puraku, dan aku menjadi kekasih pura-puramu.”
Jasmine mengangguk.
***
Love,
Evathink
Instagram: evathink