5

1135 Words
5 Udara musim panas di pagi Sabtu itu terasa hangat menyegarkan. Angin bertiup lembut melewati jendela, menyapa Jasmine yang sedang berdiri di depan lemari pakaian yang terbuka. Ia meraih sehelai gaun berwarna merah, mematut diri di cermin, lalu menghela napas panjang. Gaun tersebut terlalu terbuka dan warnanya juga provokatif, bukan pakaian yang tepat untuk bertemu Mr. Ritchie. Ia kemudian meraih sehelai gaun berwarna ungu, mematutnya, dan sekali lagi merasa tidak puas. Sepuluh menit berikutnya, gaun demi gaun sudah ia keluarkan dari lemari dan semuanya terhampar di atas ranjang. Jasmine memandang isi lemarinya yang hampir kosong dan menghela napas panjang. Pakaian apa yang pantas ia kenakan? Jasmine tahu tak seharusnya ia berusaha terlalu keras, tapi entah mengapa ia melakukannya. Apakah karena diam-diam ia ingin Davien terpesona atau ia hanya sedang berusaha sebaik mungkin membantu atasannya agar berhasil mendapatkan rumah tersebut? Jasmine mengerang pelan, memandang frustrasi pakaian-pakaian di atas ranjang. Saat melirik jam dinding, rasa putus asa kian menggrogotinya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tiga puluh menit lagi mereka akan berkendara ke rumah Mr. Ritchie yang terletak di perdesaan. Jasmine sudah menghubungi pria itu kemarin dan melakukan janji temu. Bel apartemen berbunyi. Perhatian Jasmine teralihkan. Ia berjalan ke pintu dan melihat ke lubang pengintip. Jasmine tinggal di apartemen sederhana di tengah kota. Menjabat sebagai sekretaris Davien dan mendapatkan gaji tinggi sebenarnya bisa membuatnya tinggal di apartemen yang lebih bagus, tapi ia harus menyisihkan sebagian pendapatannya untuk ditabung, juga diberikan pada kedua orangtuanya. Ayah dan ibunya memiliki toko kecil yang menjual perlengkapan pertanian. Meskipun toko kecil itu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kedua orangtuanya, sebagai anak, Jasmine merasa bertanggung jawab berbakti kepada orangtua. Apalagi, ia anak tunggal. Sosok tak dikenal berdiri di depan pintu. Jasmine mengerut kening. Ia membuka pintu dengan mata menatap bertanya pada pemuda jangkung itu. “Ms. Maxwell?” tanya pemuda itu. “Ya?” Pemuda itu tersenyum dan mengulurkan dua buah kotak indah yang diikat pita. “Titipan untuk Anda.” Dengan perasaan heran Jasmine menerima kotak tersebut lalu menandatangi surat tanda terima. Si pemuda yang ternyata kurir, belalu. Jasmine masuk ke apartemennya dengan mata memandang heran dua kotak tersebut. Ia membawa bingkisan itu ke ranjang, menebak-nebak siapa pengirimnya. Ia tidak sedang berulang tahun, juga tidak sedang berkencan dengan siapapun hingga memungkin mendapat hadiah. Jasmine membuka kotak pertama. Seketika matanya berbinar. Di dalam kotak tersebut terlihat sehelai gaun berwarna biru yang terlipat rapi. Di atasnya terdapat sebuah kotak kecil. Kotak cincin. Tangan Jasmine terulur meraih kotak cincin itu dan membukanya. Sebentuk cincin berhias berlian seketika menyihirnya. Mata Jasmine membesar sementara bibirnya sedikit terbuka karena takjub. Cincin itu amat sangat indah dan pastinya amat sangat mahal. Jasmine tergoda mencoba menyarungkan cincin tersebut ke jarinya, ingin merasakan sensasi memakai perhiasan semewah itu untuk kali pertama dalam hidupnya. Namun ia berusaha menahan diri. Apakah seseorang telah salah mengirim bingkisan ini? Tapi si kurir jelas menyebut namanya. Siapa pengirimnya, apakah ..., Davien? Dada Jasmine seketika berdebar. Apakah pria itu mengirim semua ini untuk ia kenakan menemui Mr. Ritchie, termasuk mengenakan cincin itu? Cincin pertunangan? Jasmine memasukkan kembalikan cincin tersebut ke dalam kotak dan meletakkannya di atas ranjang. Ia meraih gaun yang tampak sangat indah. Gaun tersebut panjang selutut, bermodel elegan. Jasmine mematutkan diri di cermin dan tersenyum lebar. Gaun itu terlihat sangat cocok untuknya. Dengan lembut Jasmine meletak gaun itu di atas ranjang lalu meraih bingkisan kedua dan membukanya. Di dalam kotak tersebut terlihat sepasang sepatu hak tinggi yang sangat elegan dan sebuah tas tangan yang tampak sepadan dengan gaunnya. Jasmine berdecak kagum. Ponsel yang berdering menyentak keterpanaan Jasmine. Ia meraih ponselnya dari atas nakas. “Kau sudah menerima kirimanku?” Entah mengapa, jantung Jasmine berdegup kencang. Ia terbiasa mendengar suara Davien di ponsel, tapi rasanya tidak pernah seperti ini. Begitu mendebarkan. Suara pria itu berat dan maskulin. “Ya,” jawabnya parau. “Bagus. Aku ingin kau mengenakan gaun itu, dan jangan lupa, cincinnya juga. Mr. Ritchie tidak akan percaya kau tunanganku jika tidak mengenakan cincin mewah.” Jasmine mengangguk lemah. “Baiklah.” “Aku jemput tiga puluh menit lagi,” kata Davien. Lalu panggilan terputus. Di saat yang sama, bel pintu kembali berbunyi. Jasmine tersentak. “Florie ...,” ucap Jasmine saat membuka pintu dan melihat sahabatnya berdiri di depannya. “Kau tidak bekerja hari ini?” Jadwal kerja Florie sangat tidak menentu, terkadang, di akhir pekan pun Florie tetap bekerja. Florie tersenyum lebar. “Ya, Mrs. Frederick ada acara keluarga.” Mata Florie menjelajah ke seluruh isi apartemen studio itu dan mengangkat alis. Jasmine meringis samar. “Aku akan menemani atasanku menemui relasi,” kata Jasmine sambil menutup pintu. “Hmm ..., bukan berarti kau harus mengeluarkan seluruh isi lemarimu,” kata Florie sambil melirik lemari yang terbuka dan tampak hampir kosong. Wajah Jasmine merona. “Aku hanya ingin berpenampilan sebaik mungkin.” Florie tidak menanggapi. Matanya terpaku pada bingkisan di ranjang. Dengan langkah lebar ia menuju ranjang dan seketika terpekik melihat apa yang tersaji di sana. “Jasmine! Dari mana kau mendapatkan semua ini?” Florie menatap terkesima sepatu, tas mahal, juga gaun mewah itu. Lalu ia meraih kotak cincin dan membukanya. Jasmine hanya pasrah melihat itu. “Wow! Cincin berlian!” Florie memandang Jasmine dengan kesal. “Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak bercerita? Mengapa ada cincin berlian, gaun, sepatu dan tas mewah di sini?” Jasmine mengembus napas putus asa. Ia tidak ingin bercerita pada Florie tantang perannya menjadi tunangan pura-pura Davien. Sahabatnya itu jenis wanita romantis dan jelas sangat terpesona pada Davien. Florie beberapa kali datang menemui Jasmine di kantor, saat melihat Davien, bisa dikatakan sahabatnya itu meneteskan liur. “Aku harus membantu Davien menjadi tunangan pura-puranya.” “Davien?” “Atasanku.” “Ah ya ....” mata Florie seketika berbinar. “Ternyata kau hebat sekali, Kawan, kau berhasil menaklukkan atasanmu.” Jasmine memutar bola mata dengan gemas. “Kau melupakan sebagian penjelasanku, Flo. Aku harus berperan menjadi tunangan pura-pura. Pura-pura! Dia juga akan memerankan kekasih pura-puraku, seperti saranmu.” Meski enggan, Jasmine pun bercerita singkat tentang kesepakatannya dengan Davien. “Oh, begitu. Tapi mungkin nanti kalian akan benar-benar menjadi sepasang kekasih, saling mencintai, menikah dan hidup bahagia.” Jasmine menggeleng-geleng melihat keromantisan sahabatnya itu. “Kau terlalu banyak membaca novel picisan, Florie.” Florie menyengir. “Terkadang kejadian seperti itu benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.” “Tapi yang pasti tidak padaku.” Jasmine meraih gaun kiriman Davien dan siap mengenakannya, mengabaikan Florie yang tampak masih melayang dalam khayalan romantis. Florie tertawa. “Terserah kau. Omong-omong, aku harap, saat nanti melihatmu bersama Davien, Benson akan sadar betapa berartinya kau baginya.” Tubuh Jasmine seketika berubah kaku. Sesungguhnya sejak tadi pagi, sedikit pun ia tidak memikirkan Benson. Apakah bayangan menjadi tunangan Davien—meski pura-pura—ternyata begitu membuatnya gugup hingga melupakan Benson? Jasmine memaksakan senyum ceria pada Florie dan mengangguk. *** Love, Evathink Instagram: evathink
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD