Uang yang Berbicara

1209 Words
Leo keluar dari mobil dengan gaya elegan. Semua mata tertuju ke arahnya, baik tua maupun muda. Tak tanggung-tanggung dari mereka mengabadikan moment itu. Well, disini, siapa yang tak kenal dengan raja bisnis seperti Leo Zang? Semuanya menaruh hormat dan segan padanya. Ibarat kata nih, pada menyembah dan merangkak pun mau. Leo berjalan masuk ke sebuah kafe tanpa memperdulikan pandangan semua orang. Toh mereka semua hanya kecok dimatanya. Wah, kejam sekali! Saat pintu kafe dibuka, pengunjung yang ada di dalam pun sontak langsung diam. Mata mereka berbinar menatap ketampanan paripurna. Wajah tampan bagaikan dewa, seperti pahatan patung emas. Tak ada celah sama sekali, semuanya terkagum-kagum. Salah satu manager yang melihat kedatangannya langsung menyambut Leo dengan ramah. “Apa yang anda inginkan, Tuan?” Leo mengisyaratkan Ben untuk segera maju berbicara pada manager itu. “Siapkan ruangan VVIP, minta pelayanmu yang bernama Alice untuk datang.” Manager itu sebenarnya ingin tahu, tapi dia tak berani bertanya lebih kepada orang yang berkuasa seperti Leo. “B-baik. Ajak Tuan ke ruangan berpintu emas.” Sebelum sang manager pergi, Ben sudah menyiapkan selembar cek untuknya. Matanya pun berbinar cerah dan langsung bergegas melaksanakan perintah. “Tuan, silahkan.” Ben meminta Leo untuk mengikuti langkahnya. Tak lama kemudian, mereka sampai ke tempat tujuan. Dua pelayan ramah membukakan pintu. Di sana, sudah ada seorang gadis yang sedang menunduk. Inilah yang disukai Leo dari uang, mereka bisa cepat bertindak tanpa membuang waktu lagi. Merasa ada yang datang, gadis yang tak lain adalah Alice semakin ketakutan. Dapat dilihat oleh Leo, tubuhnya bergetar hebat. “Angkat kepalamu. Aku tak suka bicara dengan orang yang menunduk.” Suara barinton khas pria dewasa dengan kesan dingin  terdengar jelas di telinga Alice. Perlahan, ia mulai mengangkat kepalanya. Hal pertama yang dilihat adalah wajah Leo. Busyet, dia tampan melebihi para pengeran kampus. Ada apa gerangan dengan pria dewasa itu? Mata ketertarikan terlihat jelas di wajahnya. Dan itu membuat Leo menatap tajam sekaligus dingin. Sontak Alice langsung menunduk lagi. “Jika kau bersikap lancang. Aku pastikan ayahmu membusuk dipenjara.” Perkataan pria itu tak main-main karena menyangkut ayah Alice. Gadis itu pun mulai memberanikan diri bersuara. “Apa yang tuan inginkan?” Dia tak bodoh, dan Leo menyukainya. Leo duduk sedikit jauh dari Alice, lalu meminta Ben mendekat. Pria tua itu mengambil amplop coklat yang ada dibalik jasnya. Dia cakap, bisa mengetahui semua hal yang diinginkan oleh tuannya dengan mudah. “Jika kau menandatangni surat ini, aku akan melunasi semua hutang ayahmu dari rentenir itu.” Ben menyerahkan amplop tersebut kepada Alice. “Tolong tanda tangani.” Dia juga mengeluarkan pena. Ketika gadis itu mengeluarkan isi amplop, ternyata hanya ada selembar surat kosong yang dibawahnya ada materai. “Kenapa saya harus menandatanginya?” Alice butuh kejelasan dari surat kosong itu. “Jadi, kau tak mau menandatanginya?” Leo menjetikkan jari agar Ben memberikan selembar cek kepada Alice. “Jika kau menandatangi surat itu, uang itu akan menjadi milikmu. Dan aku, akan menjamin semua kehidupanmu.” Ada keraguan dihati Alice, pertama pria itu datang membicarakan perilah hutang. Sekarang memintanya tanda tangan, lalu memberinya uang yang cukup besar. “Sebenarnya, apa mau Anda?” tanyanya cemas. “Ben, ambil uang itu kembali. Kau bisa menghubungi rentenir itu agar ayahnya di masukkan ke dalam penjara.” Sontak Alice langsung berdiri. “Tunggu! Aku akan tanda tangan! Jangan masukkan ayahku ke penjara!” Gadis itu langsung menandatangani surat kosong itu. “Bagus... aku suka kau karena cepat tanggap.” Setelah Alice tanda tangan, Ben memasukkan kertas itu kembali ke dalam amplop, lalu menyimpannya. Dia pun berjalan berada di sisi tuannya. Alice merasa tercekik dengan situasi seperti ini. Pria tampan itu ternyata adalah iblis berkedok manusia. “Karena kau sudah membubuhi kertasku dengan tanda tanganmu. Aku tak akan ragu lagi memberi tugas untukmu.” Leo bangkit dari kursi, berjalan menuju ke jendela kaca. Tampak bintang yang berkelip memenuhi langit. Alice semakin menenunduk karena takut tugas yang akan diberikan begitu berat. Jangan-jangan tugas membunuh seperti mafia. Jiah, kedua gadis itu terlalu sering menonton drama thrailer. “Awasi Vania, apapun yang dia lakukan kau harus beritahu aku.” Diam, mencengkam, hening karena bingung harus berkata apa. Alice Syok setengah mati karena pria itu kenal dengan Vania. Bagiaman bisa gadis sebaik dia bisa mengenal pria seperti ular dan kalajengking itu? “Tidak!” tolak Alice dnegan cepat. Jika tahu seperti ini, ia tak akan sudi tanda tangan dan menerima cek yang telah diberikan. Dengan cepat, gadis itu merobek cek tersebut, lalu mulai melangkahkan kakinya. “Ben, hubungi rentenir itu. Sepertinya, negosasi kita tak berjalan dengan lancar.” Leo bersemirik ketika mendengar langkah kaki Alice berhenti. “Atau masukkan sekalian dia ke penjara karena melanggar perjanjian.” “Baik, Tuan.” Ben mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang. “Tunggu dulu!” Alice menggigit bibir cemas, karena pria itu tak main-main. Terpaksa ia tetap tinggal untuk mendiskusikan semuanya. ‘Maafkan aku, Vania’ “Batalkan, Ben.” Leo berbalik arah, duduk kembali ke kursinya. “Jadi, kau mau melakukan perintahku.” Alice mengepalkan tangannya kuat, sambil mengangguk dengan enggan. Jujur dia tak mau menjual temannya sendiri. Air mata oun lolos seketika, membuat Ben tertegun. Pria tua itu tahu perasaan gadis kecil tersebut. “Menangis pun tak akan emnyelesaikan masalah, Alice. Karena hanya uang yang bisa bicara. Kau sediri tahu, kalau uang bisa berbuat apa saja.” Memang kejam, tapi inilah fakta. Ketika uang bicara maka semuanya akan terselesaikan dnegan mudah. Itulah yang ada dipikiran Leo. Orang kaya mah bebas. “Jadi, apakah kau setuju untuk menjadi mata-mataku?” Leo sengaja bertanya kepada Alice. “Saya setuju, Tuan. Saya akan melakukan perintah anda.” Alice terus menunduk, tak mau melihat wajah tampan bak iblis itu. “Bagus... aku suka dengan sikapmu.” Leo mengode ben untuk mendekat. “Berikan cek itu lagi kepadanya.” Pria tua itu mengangguk-mengikuti perintah Leo untuk memberikan cek lagi kepada Alice. “Gunakan uang ini dnegan bijak, Nak. Tenang saja, tuanku bukan orang yang jahat.” Selah itu, Ben kembali ke tempat semula. “Mulai besok, kau lakukan tugasmu. Dan jika bertemu denganku, pura-puralah tak kenal.” Leo bangkit dari kursi-berjalan melewati Alice yang setia meunduk. “Senang bekerja sama denganmu, Alice.” Dia pergi, bersama Ben meninggalkan Alice sendirian. Gadis itu langsung terisak. Kakinya yang sedari tadi menahan tubuhnya lemas sudah tak bisa ditolerir lagi. Alice langsung terduduk dilantai. “Maafkan aku, Vania. Maafkan aku...” katanya sambil menangis memeluk tubuhnya yang bergetar. Sumpah dia ketakutan menghadapi iblis seperti Leo. Pria itu bukan pria sembarangan untuk dilawan. Bagiaman bisa Vania menyinggung dia? Sebenarnya, apa yang dilakukan gadis itu. Tak ingin penasaran. Dengan tangan gemetar Alice segera menghubungi Vania, tapi niatnya diurungkan karena mendapatkan notif pesan. ‘Jika kau melanggar kesepakatan. Semua keluargamu akan membusuk di penjara. Kau akan berakhir. Camkan itu baik-baik, Alice. Aku selalu mengawasimu.’ Ponsel itu jatuh seketika di lantai karena pesan dari pria yang tak tahu namanya itu. Alice memutup mulutnya sendiir untuk menekan suara isak tangis yang terus terdengar. Beruntung ruangan itu kedap suara, jadi tak ada orang yang tahu jika dia menangis. Akan tetapi, Alice tak tahu jika ada CCTV yang selalu memantau kegiatannya. Iya, Leo sedang mengamati gadis itu di ruang kendali. Jadi, pria itu tahu kalau dia akan menghubungi Vania. ‘Semua sudah berada di kendali. Aku akan bertemu denganmu lagi, Vania.’ Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD