Bab 3. Mendapatkan Kontak

1044 Words
"Banyak banget kejadian lucu sekaligus menyeramkan selama kuliah kedokteran. Aku pikir kita tinggal belajar anatomi, mempelajari jurnal, begitu saja. Nyatanya, tidak sama sekali. Jauh dari ekspetasiku selama ini, kak." Ujar Gina begitu semangat. Mendengar Gina yang begitu semangat membuat Reno menertawakannya. Reno sedikit mencair ketika bicara dengan Gina, apalagi membicarakan hal yang sejalur dengan pekerjaan yang ia tekuni saat ini. "Memang. Itu adalah resiko yang harus kita tanggung. Tak heran kalau setiap hari kita dihadapkan dengan banyak jurnal untuk satu kasus saja. Memang sangat melelahkan, tapi percaya kalau nanti pasti akan terbiasa " ujar Reno. Gina mengangguk setuju. "Benar sekali!. Tahu gak? Gina bahkan mendapatkan pengakuan dari salah satu dosen karena mengerjakan praktikum dengan bagus. Rasanya senang sekali, gak bisa di jelaskan lagi." Reno menjentikkan jarinya. "That's my point!" Nadin dan Zavon datang, menyela percakapan mereka yang terlihat sangat seru. Menaruh satu per satu secangkir teh di depan Gina dan Reno. Zavon juga langsung nempel pada Reno. "Diminum tehnya." Ujar Nadin. "Gina, kamu jamu tamu dulu. Kakak mau ke belakang." Ucap Nadin, mempercayakan Reno pada adiknya. "Ibu guru mau kemana?" Tanya Zavon. Suaranya begitu nyaring ketika menanyakan hal itu pada Nadin. "Tunggu ibu guru di sini, ya. Ibu guru mau mandi." Jawabnya dengan nada yang halus, tak lupa juga dengan senyuman manisnya. Tidak hanya untuk Zavon saja, sempat juga pada Reno yang menatapnya singkat. Zavon membentuk kata 'oke' dengan tangannya. "Semoga mereka tidak saling tukar kontak." Batin Nadin. *** Cukup lama berdiam diri di kamar, Nadin belum juga keluar dari kamarnya. Meski ia sudah selesai mandi, ia merasa canggung bertemu dengan Reno. Ia bahkan lebih memilih untuk menyiapkan materi pelajaran yang akan dia gunakan untuk besoknya. Sakit tidak menghalanginya untuk bekerja. Ia tidak bisa egois begitu saja. Tidak hanya dirinya yang membutuhkan uang, tapi juga adiknya yang sebentar lagi akan wisuda. Begitu banyak biaya yang dai keluarkan, membiayai adiknya sendiri dengan hasil jerih payahnya. Ceting. 'Halo, selamat sore ibu guru Nadin. Saya hanya ingin menginformasikan kalau besok adalah acara pernikahan anak kepala sekolah. Jadi kamu memutuskan untuk pergi ke pesta bersama-sama setelah kelas selesai. Terimakasih.' Itu adalah pesan dari salah satu guru BK, mengundangnya untuk menghadiri acara pernikahan anak dari kepala sekolah. Seharusnya Nadin merasa senang, bisa makan makanan pesta dengan gratis, tapi kali ini sangat aneh. Dia tidak senang sedikitpun, bahkan bersemangat kembali rasanya sangat susah. Entah, ini karena kabar penyakitnya atau ada hal lain yang membuatnya tidak tenang. "Ibu guru Nadin!" Suara ketokan pintu itu membuat Nadin sadar. Ia melepas bolpoinnya dan membuka pintu. Seketika raut wajahnya menjadi begitu berbeda. Nadin menjadi lebih ceria ketika berada di depan Zavon, si anak kecil yang lucu. "Ada apa?" Tanya Nadin, mensejajarkan dirinya dengan Zavon. Ia juga menggenggam tangan mungil anak itu. Bukannya menjawab, Zavon malah membisikkan sesuatu padanya. "Besok Zavon minta uncle buat antar ke rumah ibu guru, bisa?" Bisiknya. Nadin merasa geli, ia tertawa lepas bersamaan dengan Zavon yang juga ikut tertawa. Melakukan hal yang sama, Nadin juga ikutan berbisik pada Zavon. "Ibu guru gak bisa. Ada acara besok." Jawab Nadin. Sontak, tidak ada senyum lagi di wajah Zavon. Wajah cemberut, itu lah yang sekarang tergambarkan darinya. Ia sedih, menunduk. Lama kemudian, air matanya lolos sempurna membuat Nadin kelimpungan. Pasalnya, ia tidak mengatakan sesuatu yang salah sampai harus menyakiti Zavon. "Kenapa? Ibu guru salah ngomong ya?" Tanya Nadin. Ia menaikkan dagu Zavon, menghapus air mata anak itu. Dengan polosnya Zavon mengangguk. Nadin mengerti kenapa Zavon sedih bahkan sampai menangis. Ia mengangguk, mencoba sabar dengan segala hal yang di laluinya. "Baiklah. Besok Zavon bisa kesini. Tapi janji dulu sama ibu guru kalau Zavon gak boleh sedih lagi. Oke?" Nadin memberikan jari kelingkingnya ke depan Zavon yang langsung di jawab oleh Zavon. Ia mengusap matanya dan tersenyum. "Astaga. Anak yang lucu, sedikit menyebalkan." Batin Nadin. "Zavon!." Nadin dan Zavon menoleh ke arah suara. Reno dan Gina seperti menunggu. "Ayo kita pulang." Ujar Reno. "Ibu guru janji kan kalau besok Zavon boleh kesini lagi?" Tanya Zavon sekali lagi, membuat Nadin gemas sendiri. "Iya, nak. Boleh banget!" Zavon berlari ke Reno, menyambut tangan pamannya. Nadin ikut keluar rumah, mengantar sampai di depan rumah. Nadin hanya bisa melihat dua orang dewasa itu dari kejauhan. "Kak! Kesini dong!" Ajak Gina, membuat Nadin lebih dekat dengan mereka. Dengan tangan yang berlipat, menghampiri mereka. "Kak, Gina boleh minta kontaknya, gak? Siapa tahu nanti Gina bisa tanya-tanya sesuatu sama kakak." Reno menatap Nadin, akan tetapi perempuan itu langsung menunduk. Ia memperhatikan kaki telanjangnya. Masih belum berani untuk sedekat itu dengan Reno, meski hanya ditatap sebentar saja. Sudah ada hal yang tidak benar diantara keduanya. "Kamu bisa mendapatkan kontak saya dari Nadin." Jawab Reno. Seketika, Nadin mengangkat pandangannya. Ia melihat Reno yang masih menatapnya. Nadin kebingungan, pasalnya ia tidak memiliki satupun angka kontak Reno. "Tapi kontakmu tid--" "Kami pulang dulu." Sela Reno dari Nadin. Gina melambaikan tangannya begitu semangat pada Reno. Ia juga melakukan hal yang sama pada Zavon, akan tetapi anak itu tidak merespon sedikit pun. "Nadin, bisakah kamu ikut dengan saya?" Punya Reno. Nadin langsung melihat Gina yang kebingungan dengannya. Reno berjalan ke mobilnya, mau tidak mau membuat Nadin mengikuti mereka. "Ibu guru mau ikut?" Tanya Zavon sangat polos. "Tidak, Zavon. Ini ibu guru ada urusan dikit sama paman Zavon." Jawabnya dengan nada halus. "Ada apa, ya?" Tanya Nadin. Ia menunduk, lagi. Reno merogoh dompetnya di saku belakang. Memberikan kartu namanya pada Nadin. Tanpa sadar, tangan Nadin menerimanya. "Untuk apa, ya?" Tanya Nadin. Reno melongo. Ia sepertinya dihina dengan kepolosan pertanyaan Nadin. Menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Singkatnya, kamu bisa menghubungiku dengan kontak ini. Ah iya, saya ada yang mau dibicarakan denganmu nanti malam. Jadi, hubungi saya sekitar jam 9 nanti." Nadin mengangguk. Kembali sadar, ini mencurigakan. "Eh, untuk apa aku menghubungimu? Apa ada hal yang harus aku ganti rugi?" Tanya Nadin. "Gak ada!" Jawab Reno singkat. "Lalu?" "Intinya, hubungi aja aku nanti malam." Ujar Reno. Ia segera masuk ke dalam mobilnya. *** "Halo?" Deringan pertama langsung di angkat olehnya. Kini giliran Nadin yang bingung mau memberikan pertanyaan apa pada Reno. Ia hanya disuruh untuk menelpon, tanpa tujuan yang pasti. "Ada apa, ya?" Tanya Nadin sekali lagi. Tuttt.... *** Sedangkan di lain sisi... "Ada apa, ya?" Tanya Nadin, terdengar begitu jelas masuk ke telinganya . Reno langsung memutuskan panggilan itu tanpa sebab. "Aku sudah mendapatkan kontak mu." Ucap Reno.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD