Drama Makan Siang

1277 Words
Hari ini Jenny mampir ke kantornya yang juga kantor Nathan untuk memberikan dokumen yang tertinggal, setelah itu dia akan menuju taman bermain bersama dua bayi gembul, mba Ati baby sitter yang sudah bekerja selama 5 bulan dan juga Bi Uti tentunya.  “Bi Uti, mba Ati sama Nia disini aja. Aku naik ke atas sebentar ya” ucap Jenny “Pagi bu, apa kabar. eh perdana Natta kesini nih” sapa pingkan saat Jenny sudah sampai di lantai 21 dimana ruangan Nathan berada “Pagi juga, kabar baik. iya nih Natta mau ngecek warisannya” mereka berdua tertawa “Ibu bisa aja” “bapak ada” “ada bu, masuk aja”   Jenny berjalan menuju ruangan Nathan, Pinkan masih menatap Jenny yang masih cantik walau sudah melahirkan dan mengurus dua anak. Menggunakan maxi dress panjang tanpa lengan bermotif bunga dengan belahan hingga lutut. Meskipun dia memakai sepatu kets kaki jenjangnya tetap cantik dengan kulit yang putih mulus.   “Halo cowok ganteng, dicariin cewek cantik dan anaknya nih” goda Jenny saat memasuki ruangan Nathan Nathan tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu “mana yang cantik” Nathan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kemudian bangkit berdiri meninggalkan kursinya “Wah sepertinya bapak harus periksa mata deh” “Kenapa” “Karna mata bapak tidak mengenali wanita cantik yang ada didepannya ini” ucap Jenny sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuk “PD sekali. Hai anak ganteng” ucap Nathan sambil mencium anak lelakinya itu “Hmmm, membohongi diri sendiri, nih dokumennya?”Jenny memberikan dokumen Nathan yang tertinggal “Ih baik banget sih, makasih loh” Nathan sambil mencubit kedua pipi Jenny dan mendapat amukan dari Natta “Natta memang anak mommy, pokoknya kamu harus selalu belain mommy okaaaay” Ucap Jenny sambil mencium bibir Natta gemas “Wah anak aku dari kecil sudah di brain wash..ck..ck..ck” ucap Nathan  “Loh, Nia ga ikut” lanjut Nathan bertanya “Ikut, ada dibawah sama Mba Ati” jawab Jenny “Kok gak kamu ajak ke atas” Nathan agak kesal “Aku kan mau langsung jalan, Nath. Udah ya aku jalan. Oh ya aku bawa makan siang buat kamu, cuma aku lupa bawa ke atas. Nanti aku titip receptionist ya” Jenny melangkah menuju pintu “Aku ikut ke bawah” Jenny berbalik menatap Nathan  “Ngapain” tanya Jenny  “Mau ketemu Nia lah, bisa-bisanya kamu gak ajak ke sini” sungut Nathan  “Kan nanti sore juga ketemu” ucap Jenny namun Nathan tidak menanggapi.  Nathan membuka pintu untuk Jenny “Sini Natta digendong daddy” Nathan meraih Natta dari gendongan Jenny.   Saat mereka berjalan semua mata tertuju pada mereka, cantik, tampan, bersahabat, meraih sukses bersama, bahkan bersama-sama dalam waktu yang tidak sebentar. Pasangan serasi yang membuat orang bingung kenapa takdir tidak mempersatukan mereka. Saat jenny mengandung, mereka juga pikir kalau itu anak Nathan dan pada akhirnya Nathan menikah dengan Lytha menjawab semua pertanyaan mereka.   Sampai di lobby mereka tidak menemukan Bi Uti, Mba Ati dan Nia. Melihat mereka bingung seorang petugas jasa pengiriman online menghampiri mereka.   “Putri bapak dan kedua wanita menuju toilet tadi pak” Jenny segera menuju toilet untuk memastikan, Jenny takut mereka tersesat karena perusahaan Nathan cukup besar. Nathan menunggu di Lobby siapa tau mereka kembali dari tempat lain. “Bapak kenal putri saya?” tanya Nathan, karena yang tau wajah Nia hanya karyawannya saja sedangkan relasinya hanya mengetahui bahwa Nathan mempunyai seorang putra. “Menebak saja pak, karna wajahnya mirip bapak. Semakin besar pasti semakin mirip” ujar bapak itu   Dan benar saja dari arah lorong menuju toilet Nathan menangkap wajah Nia disusul tiga wanita dibelakangnya.   “Daddy...daddy...daddy” berlari ke arah Nathan, membuat Nathan khawatir Nia akan terjatuh. Nathan menurunkan tubuhnya kemudian menagkap Nia. Jadilah sekarang Nathan menggendong Nia disebelah kanannya dan Natta di sebelah kirinya membuat semua orang yang melihatnya kagum dan terpesona. Lelaki dengan mata indah, tinggi proporsional, tubuh berotot sempurna, warna kulit kecoklatan membuat para wanita memimpikan Nathan menjadi suami mereka.   “Pak saya permisi” ucap bapak itu “Terima kasih pak atas infonya” membalas ucapan bapak itu   “Dad, Nia au pelgi cama adik, mom, bi, mba” Nathan selalu senang mendengar ocehan Nia yang sangat lucu dan kadang tidak membentuk SPOK maklum Nia baru berumur 1.5 tahun saat ini. Nathan juga sepakat mengajari Nia memanggil Natta dengan sebutan adik. Walau sebenarnya Nathan yang meminta dan Jenny tak mampu mendebat. “Nia turun ya dari gendongan daddy. Daddy kan lagi gendong adik” rayu Jenny “engga Nia au daddy” Nia semakin melekatkan wajahnya pada ceruk leher Nathan. Hal yang sangat Nathan sukai saat anak-anaknya meyembunyikan wajah mereka di ceruk lehernya. Menghirup aroma bayi dari tubuh anak-anaknya, merasakan hembusan nafas mereka. Kalian para orang tua pasti mengerti. “Dasar manja dia sama kamu tuh Nath. Kamu biasain sih” ucap Jenny sambil bersedekap membuat Nathan tertawa “Udah kamu gendong Natta aja, dia tuh cemburu dari tadi liat aku gendong Natta sedangkan dia baru aku gendong udah kamu minta turun” ucap Nathan “Cemburu!!! Sok tahu banget sih” Jenny berucap memutar bola matanya sambil meraih Natta dari gendongan Nathan membuat Nathan terkekeh dengan sikap Jenny yang kadang kekanak-kanakkan. “Princess daddy mau main kemana sih memang, cantik banget” Nathan memandang wajah Nia dan teringat kata-kata bapak tadi. Ah...tapi ini kan bukan pertama kali aku mendengar Nia mirip denganku. Nathan mengenyahkan pikiran-pikiran aneh yang ada dikepalanya. “Liat bulung, ajah,...” Nia terus mengoceh membuat Nathan tertawa menerka kata-kata Nia, namun harus terhenti “Pak Nathan meeting segera dimulai, eh bu Jenny apa kabar?” karyawan pria itu mengingatkan Nathan sekaligus menyapa wanita cantik yang dulu selalu wara-wiri dikantor ini “Baik pak, bapak apa kabar?” Baik bu, kalau gitu saya permisi ”Iya silahkan pak” jawab Jenny Nathan memperhatikan interaksi mereka berdua, Jenny memang sangat ramah tapi kenapa aku agak terganggu dengan sikapnya ini ya. “Nathaaan, aku mau pergi sekarang. Nia ayo katanya mau lihat animals” teriak Jenny yang kesal karena Nathan tidak mendengar panggilannya “Nat.....an.....Nat.....an” Nia meniru ucapan karyawan pria itu dan juga Jenny memanggil daddynya dengan sebutan Nathan “Ck...udah aku bilang jangan sebut namaku di depan anak-anak khususnya Nia. Dia jadi meniru, aku gak suka” ucap Nathan kesal  “Nia, turun nak ikut mommy liat animals” lanjut Nathan membujuk Nia yang akhirnya menurut. “Kiss Daddy dulu dong sebelum pergi” Nathan menyodorkan bibirnya ke arah Nia untuk dikecup Cup..Nia mengecup bibir daddynya itu kemudian Nathan mencium kedua pipi Nia dan memeluknya “Anak daddy memang paling baik hati” “Daddy mommy kiss” Jenny yang mengerti maksud Nia, memintanya untuk melakukan hal yang sama seperti yang Nathan dan Nia lakukan barusan. Jenny segera mengalihkan permintaan Nia  “Kita sudah terlambat sayang, harus buru-buru nanti animalnya keburu tidur” bujuk Jenny namun Nathan justru berpikiran lain dia mendekatkan kepalanya ke telinga Jenny membuat semua karyawan mengira Nathan mencium pipi Jenny  “kalau sampe kamu buat Nia memanggilku dengan namaku aku bisa mewujudkan keinginan Nia, melakukan seperti apa yang kamu lakukan padaku di bandara” bisik Nathan (penasaran dengan apa yang dilakukan Jenny, baca di Waiting the Rainbow ya) Jenny tercekat, kemudian mencubit pinggang Nathan “awww” rintih Nathan “Nath..opps sorry maksudnya Daddy ini MA..KAN..SI..ANGnya. Dihabiskan ya. Selamat BE KER JA” Jenny memberikan bekal makan siang Nathan kemudian menggandeng Nia berjalan keluar perusahaan diikuti Bi Uti dan Mba Ati meninggalkan Nathan yang tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan suasana lobby dipenuhi dengan senyuman para karyawan yang melihat keakraban yang hampir bagai pemandangan romatis itu.  Ikutin terus ya Mumpung gratis, sebelum berbayar Jangan lupa Loves, Comment
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD