Nathan kembali keruang bermain setelah selesai membersihkan diri. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Ada suara tangis Natta dalam gendongan bi Uti sedangkan Nia tampak sedang bermain kemudian berjalan ke arah Nathan saat melihat daddynya itu.
Nathan berjongkok agar dapat memeluk Nia “Duh yang sudah bisa jalan, makin ga bisa diem nih kayanya” ucap Nathan sambil mengusap pipi Nia yang chubby
“Natta kenapa Bi” ucap Nathan sambil menggendong Nia
“Mau nenen langsung sepertinya pak, dari tadi saya kasih lewat botol ga mau. Malah nangis, tapi saya kasihan kalau sampai bangunin Ibu” jawab bi Uti
Benar juga kata bi Uti, Jenny sedang sakit. Sepertinya aku harus menambah asisten rumah tangga. Ditambah Nia sudah bisa berjalan pasti lebih sulit untuk menjaganya.
“Jangan begitu bi, saya gak apa-apa. Anak-anak yang paling utama” Jenny sudah muncul dengan wajah segar seperti habis mandi, walau masih terlihat agak pucat dan lesu.
“Sini sayang, maaf ya bikin kamu nangis begini. Udah-udah jangan nagis lagi, yuk minum s**u” Jenny mengambil Nathan dari tangan bi Uti. Ajaib Natta langsung berhenti menangis sambil menenggelamkan wajahnya di d**a Jenny.
“Bi, tolong siapkan makan malam ya. Maaf ya bi ga bisa bantu mandikan anak-anak. Bi Uti memang yang terbaik” ucap Jenny sambil tersenyum kemudian berjalan ke arah Nia “kiss mommy” ucap Jenny sambil memajukan bibirnya ke wajah Nia. Nia langsung mengecup bibir Jenny.
“Pak Nathan tadi yang bantu Bu, jadi bibik ga sendirian” ucap Bi Uti sambil menuju dapur
Jenny mengerenyitkan dahinya “kamu pulang awal?” tanya Jenny, Nathan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Jenny.
“Kenapa? Sakit?” tanya Jenny sambil menaruh telapak tangannya ke dahi Nathan sedang Nathan tidak habis pikir dengan sikap Jenny. Dia malah memikirkan Nathan sedangkan sudah jelas-jelas dia yang sedang sakit.
“gak, cuma lagi pengen aja” jawab Nathan
“Syukurlah, makasih ya sudah memandikan anak-anak. Baik banget sih” ucap Jenny sambil mencubit pipi Nathan
“Apaan sih kamu, mereka kan anak-anak aku juga" ucap Nathan sambil menaruh tangannya di dahi Jenny
"Mau ke dokter?" tanya Nathan saat mendapati suhu badan Jenny sedikit hangat
"Ga perlu aku baik-baik saja" ucap Jenny kemudian berjalan ke kamarnya
---------
Jenny makan malam dalam diam membuat Nathan terus memandanginya. Nathan meraih tangan Jenny yang sedang mengaduk-aduk makanannya.
“Jen, kita ke rumah sakit yuk” suara Nathan memecah lamunan Jenny “apa”
“Kita ke rumah sakit ya” Nathan mengulangi kata-katanya “siapa yang sakit?” tanya Jenny
“Kamu Jen” Nathan bangkit mengecek kening Jenny lagi dengan telapak tangannya, hangat tapi tidak termasuk demam tinggi
“Aku gak apa-apa Nath”
“Terus kenapa kamu dari tadi Cuma aduk-aduk makanannya”
“Sabar, ini aku makan sekarang” ucap Jenny kemudian memasukkan makanan ke dalam mulutnya
Sesaat kemudian
“Nanti aku ke kamar kamu, ada yang mau aku bicarain”
“Uhuk..uhuk..uhuk” Jenny tersedak mendengar ucapan Nathan
Jangan, jangan sekarang. Aku masih harus menunaikan janjiku pada Lytha. Aku belum bisa pergi membawa Nia dan meninggalkan Natta - Jenny
Nathan memberikan minum pada Jenny kemudian bangkit berdiri menuju kursi Jenny dan menepuk-nepuk punggung Jenny berharap dia berhenti tersedak.
Jenny menutup wajahnya dengan kedua tangannya dengan siku yang berada diatas meja. Kepalanya semakin pening memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, saat merasa tidak dapat membendung tangisnya Jenny bangkit berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Nathan mengikuti Jenny, bingung dengan sikap Jenny yang sangat aneh baginya. Dia berjalan lebih cepat dari Jenny sehingga saat ini Nathan berada di depannya, Nathan memegang bahu Jenny, kemudian satu tangannya meraih dagu Jenny yang tertunduk agar dapat melihat wajahnya, namun kebingungannya semakin bertambah mendapati mata Jenny berkaca-kaca “Jen, kamu..” belum selesai dia berbicara Jenny memotongnya “Jangan sekarang Nath, aakkuu...” Jenny pingsan dipelukan Nathan.
“Jen..jen..Bi tolong telepon dokter Richard, minta datang kemari secepatnya” teriak Nathan. Dengan cepat Nathan membawa tubuh Jenny ke kamarnya bukan ke kamar Jenny, Nathan takut mengganggu tidur Nia dan Natta.
Bi Uti datang ke kamar membawa minyak kayu putih.
“Di balur minyak kayu putih dulu pak” ucap bi Uti
Nathan segera mengambil minyak kayu putih itu, membuka kaos yang dipakai Jenny dan membalurkan minyak kayu putih di tubuh Jenny. Bi Uti yang tadinya ingin membalurkan minyak kayu putih ke tubuh nyonyanya itu kaget karena Nathan yang akhirnya melakukannya bahkan membuka pakaian Jenny.
Tak lama dokter Richard datang, memeriksa Jenny. Dokter Richard mengatakan Jenny baik-baik saja, hanya mungkin Jenny sedang stress yang mengakibatkan tekanan darahnya tidak stabil.
-----------
“Enggh” Jenny terbangun dari tidur singkatnya, Nathan segera menghampiri Jenny membantunya untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.
“Nath, aku kenapa?” tanya Jenny
“Kamu pingsan” Nathan ikut duduk disamping Jenny “Jen, ada yang mau aku bicarakan” lanjutnya
Sedangkan Jenny meremas erat bajunya, dadanya sesak menunggu ucapan Nathan selanjutnya. Menutup matanya berusaha pasrah.
“Aku memutuskan untuk menghire baby sitter untuk membantu kamu mengurus anak-anak, tolong jangan menolak” mendengar itu raut muka Jenny berubah 180 derajat.
"Jaadi ini yang mau kamu bicarakan sama aku?" tanya Jenny
"Iya" jawab Nathan sambil menatap Jenny penuh rasa bersalah
Jenny bernafas lega ternyata yang dipikirkan tidak terjadi. Jenny tidak dapat menahan airmatanya, dia segera naik ke pangkuan Nathan dan memeluknya erat. Menangis dalam ceruk leher Nathan
“Apa mengurus Natta terlalu merepotkan dan membuatmu lelah” tanya Nathan yang menganggap bahwa sakitnya Jenny akibat terlalu letih mengurus Natta. Jenny menggelengkan kepalanya dalam ceruk leher Nathan
“Tidak ada hubungannya dengan Natta, aku mengingat mommy dan itu membuatku sedih” bohong Jenny
Nathan ingin melihat wajah Jenny, meyelidik kebenaran kata-kata Jenny. Namun Jenny semakin mengeratkan pelukannya di leher Nathan
“Biarkan seperti ini Nath, aku mohon” Nathan mengusap punggung Jenny, menghirup aroma strawberry dari rambutnya.
Tak berselang lama terdengar tangisan Natta, membuat Jenny segera beranjak. Nathan menghentikan langkah Jenny.
“Minumlah obatmu, biar Natta minum ASI dari botol” Nathan ingin Jenny beristirahat
“Aku tidak memerlukan obat itu, percayalah aku tidak apa-apa” senyum Jenny kembali merekah, dia memeluk Nathan kemudian berjinjit
“muach” Jenny mengecup pipi Nathan
“kau lupa Natta tidak pernah mau minum ASI dari botol, harus dari sumbernya langsung” menunjuk dadanya menggunakan matanya kemudian berlari menuju kamarnya.
Nathan memegang pipinya yang dicium oleh Jenny sambil menggelengkan kepalanya “dasar sahabat aneh” namun dia bahagia senyum Jenny kembali.
Biarkan kebohongan ini terus berjalan sampai aku bisa menunaikan janjiku - Jenny
Tersenyumlah selalu Jen - Nathan
Ikutin terus ya ceritanya, mumpung masih gratis
Jangan lupa Follow, Comment, and Loves