Jenny ingin sekali memaki Nathan karena keisengannya, tapi pening dikepalanya membuat tidak memiliki tenaga untuk melakukannya.
“Bu, bibi tuh seneng liat bapak sama ibu seperti ini. Ibu sama bapak cocok banget, saling ngerti lagi” bi Uti tersenyum sambil membereskan kitchen.
“Kami kan bersahabat lama bi, jadi wajar aja” terang Jenny
“Bapak sama Ibu cocok jadi suami istri” ucap bi Uti sambil terkekeh
“Bibi bisa aja, jangan gitu ah ga enak nanti didengar Nathan” ucap Jenny dengan nada lemah sambil memegangi kepalanya kemudian duduk di meja makan ingin memulai sarapannya walaupun dia sebenarnya sedang tidak nafsu makan.
“Ibu kenapa?” tanya bi Uti karena Jenny memegangi kepalanya dan wajahnya yang sedikit pucat
“Kepala saya agak pusing bi, tidak bisa tidur semalaman”
“Mau bibi buatkan bubur?”
“Ga perlu bi nanti keburu anak-anak bangun, saya harus segera makan” Jenny memaksakan makanan masuk ke lambungnya dan seperti biasa daun katuk selalu menemaninya untuk produksi ASI bagi anak-anaknya.
---------
Oeeek...oeeeek
Suara tangisan Natta membangunkan Jenny dari tidurnya yang baru sebentar, dia beranjak dari ranjangnya menuju box bayi. Segera mengangkat bayi itu dan berharap Nia tidak terganggu oleh tangisan Natta. Jenny akan kesulitan jika mereka berdua bangun dan sama-sama meminta s**u.
“Lapar ya sayang, udah ya jangan nangis” Jenny menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang kemudian membuka penutup dadanya memberikan akses untuk Natta menghisap sumber makanannya.
Namun tak berapa lama Nia sudah terbangun “mom..mom” mengoceh dalam bahasa bayi. Bayi satu tahun lebih itu mulai menaikkan badannya ingin segera keluar dari box bayi, kemudian menangis saat dirinya tak kunjung dapat keluar dari box bayi itu.
Jenny ingin membantu Nia tapi apa daya kepalanya masih berdenyut, sehingga Jenny memanggil Bi Uti dari dalam kamarnya. Bi Uti segera datang dan mengerti dengan situasi yang ada. Wanita paruh baya itu segera mengambil Nia dari dalam box.
“Coba tolong dikasih makan dulu ya bi, kalau tidak mau sepertinya masih ada stock ASI di kulkas” Jenny mengarahkan sambil terus memijat kepalanya dan meminta Bi Uti membawa Nia kepadanya untuk mengecup putri tersayangnya itu sebelum dibawa menuju meja makan.
Disisi lain perasaan Nathan tidak tenang, pikirannya terus tertuju pada Jenny. Apa dia ada masalah, apa aku keterlaluan tadi pagi membuatnya marah...huuh aku tidak konsentrasi dan tepat jam tiga Nathan meminta Pinkan sekretarisnya untuk menunda meeting dan memutuskan pulang lebih awal.
Nathan memasuki apartment dan mendapati Nia yang sedang bermain dengan Bi Uti.
“Jenny dan Natta dimana bi” tidak biasanya di ruang bermain ini hanya ada mereka berdua
“Sedang istirahat, dari pagi Ibu kurang sehat” jawab bi Uti
"Hah sakit?" pantas aku tidak tenang
“Sudah ke dokter atau minum obat?” tanya Nathan sambil melangkah ke arah Nia dan mengecup pipinya, tentu saja Nathan tidak akan menggendong Nia maupun Natta sebelum mandi dan berganti pakaian. Jenny pasti marah karena Nathan bisa menyebarkan kuman ke anak-anak.
“Ibu tidak mau pak, katanya tidak apa-apa. Ibu takut bisa mempengaruhi ASI”
Mendengar itu Nathan terdiam, merasa bersalah atas perjuangan Jenny demi janjinya pada Lytha. Dia pasti letih mengurus dua bayi yang sama-sama masih memerlukan ASI. Dia pasti sulit mendapatkan Me Time. Walau bagaimanapun Jenny perlu bergaul, tidak mungkin Jenny akan terus melajang.
Ditengah lamunannya tangan mungil meraih celananya.
“Dad..dad” Nia berceloteh sambil meminta untuk digendong, sedangkan Nathan kaget Nia bisa memanggilnya Dad. Tidak sia-sia Nathan mengajarinya
“Coba sayang diulang lagi” ucap Nathan dengan rasa bahagia dan juga haru
“Dad..dad” ucap Nia sambil mengangkat tangannya minta digendong
“Daddy mandi dulu ya baru bisa gendong. Nanti mommy marah kalau daddy gendong tapi belum mandi” ucapnya sambil tersenyum bahagia, namun kejutan tidak sampai disitu saja. Saat Nathan akan beranjak dan melangkah sebentar kakinya sudah dipeluk oleh tangan mungil Nia. Nathan membulatkan matanya begitu juga bi Uti.
“Non Nia sudah bisa jalan!!! wah bapak yang liat pertama kali nih” sorak bi Uti
Sontak Nathan merogoh kantung celananya meraih ponselnya “Bi coba rekam ya” meraih Nia dan mendudukkannya dekat sofa. Nathan berjongkok tidak begitu jauh dari Nia kemudian merentangkan tangannya sedang bi Uti sudah siap merekam.
Nia mengangkat bokongnya kemudian berjalan ke arah Nathan dengan sempurna membuat Nathan bangga.
“Anak daddy memang pintar” ucap Nathan sambil memeluk Nia sambil menerbangkannya ke udara, tidak peduli lagi belum membersihkan diri toh hari ini Nathan hanya di dalam ruangannya saja.
Masih dalam ingatan Nathan saat dulu dia mencuri first kick Nia dalam perut Jenny dan sekarang kakinya itu sudah dapat melangkah. Time flies so fast.
Gemeees banget sih mereka
Ikutin terus ya ceritanya mumpung gratis, akan berbayar setelah cerita tamat
Jangan lupa Follow, Loves and Comment