AUTHOR
"Egggh" Jenny menggeliat "loh kenapa aku ada dikamar, seingat aku.."
"Kamu ketiduran di mobil aku, aku bangunin tapi kamunya kayak kebo ga mau bangun. Jadi aku gendong" potong Nathan padahal dia tidak mencoba membangunkan Jenny sama sekali.
"emmm, so sweeet" ucap jenny sambil menaruh kedua telapak tangannya pada kedua pipinya, kemudian matanya menangkap tubuh bagian atas Nathan "duh pagi-pagi mataku ternoda nih liat perut kotak-kotak kamu" sambungnya sambil menutup matanya dengan kedua tangan yang sempat melihat Nathan yang topless dan hanya mengenakan celana training panjang.
“Lebay, kamu juga biasa liat aku begini” ucap Nathan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk
Memang Nathan punya kebiasaan bertelanjang d**a saat pagi hari begini kecuali ada tamu baru dia menutupi bagian atas tubuhnya. Walau saat ini dia tengah menginap di Apartment Jenny namun baju Nathan memang tersedia di Apartment Jenny begitupun sebaliknya karena mereka terkadang menginap bergantian.
Jenny terkekeh karena candaannya tadi "Hahaha...Aku juga kayanya udah ga ada nafsu sama kamu ya"
"Masih kayanya loh, berarti bisa jadi suatu saat kamu jadi nafsu sama aku. Hati-hati nanti kamu kepincut sama aku" ucap Nathan sambil berlalu menuju kitchen.
"Nath sini deh" ucap Jenny mencegah Nathan berlalu lebih jauh. Nathan berbalik menuju ranjang Jenny.
Saat Nathan sudah hampir dekat, Jenny berdiri diatas kasur dan menemplok pada bagian belakang tubuh Nathan "muuuachh, muuach" Jenny mendaratkan kecupan di pelipis Nathan "gimana nih aku udah nafsu sekarang" canda Jenny "makasih ya mau gendong aku kemarin walau sebenernya gendong aku tuh ga perlu effort. Karena aku kan ga berat-berat amat, body goals kan aku" lanjutnya
"Waah ngelunjak ya, aku turunin nih" ucap Nathan mendengar kalimat konyol Jenny walau sebagian ada benarnya. Jenny memang memiliki body goals itu tidak bisa dipungkiri oleh siapapun yang melihat Jenny.
"Coba aja ga bakal bisa kok" Jenny makin mengeratkan kakinya ke bagian depan perut Nathan dan tangannya pada leher Nathan
Nathan memutar-mutar dan mengguncang tubuh Jenny membuatnya pusing sampai...
"Nath, nath Stop" ucap Jenny tepat ditelinga Nathan, sambil menepuk-nepuk pundak Nathan. Jenny melepaskan kaitan kakinya pada perut Nathan.
Menyadari suara Jenny yang berbeda, tangan Nathan terulur kebelakang meraih tubuh Jenny khawatir dia terjatuh.
Jenny turun dari tubuh Nathan kemudian memeluk pinggang Nathan dengan satu tangannya dan satu tangan lagi memegang perutnya denga wajah yang disandarkan pada belikat Nathan.
"Kamu kenapa?" tanya Nathan panik
"Aku mau duduk" jawab Jenny lemah
Nathan segera membalik tubuhnya menatap Jenny kemudian menuntun Jenny menuju kursi meja makan. Mendudukkannya kemudian ia berlutut dihadapan Jenny.
"Mau ke dokter?" Nathan panik melihat Jenny seperti menahan sakit. Mengarahkan telapak tangannya pada kening Jenny, memastikan dia tidak demam.
"Ga usah, mungkin aku mau datang tamu bulanan jadi perut agak sakit. Tunggu 15 menit mungkin akan reda" katanya
"Kamu tunggu disini ya aku siapin sarapan" mengucapkannya sembari mengusap surai Jenny dan mengecup puncak kepalanya. Nathan sudah mengecek bahwa Jenny tidak demam, jadi dia tak terlalu khawatir.
Nathan menyajikan sarapan berupa s**u dan roti panggang dan benar saja perut Jenny membaik dia tidak merasakan kram lagi pada perutnya. Jenny memang sering mengalami hal seperti itu saat mendekati datang bulan.
“Better” tanya Nathan
“As you see” Jenny memperlihatkan senyumnya
Merekapun sarapan sambil sesekali mengeluarkan jokes-jokes kemudian berangkat ke kantor bersama.
-----------
Pagi ini mood Jenny benar-benar kacau, bagaimana tidak mobil yang dikendarainya mogok membuatnya mau tak mau menggunakan taksi dan harus menghubungi bengkel untuk mengurus mobilnya.
Nath aku telat ya, mobilku mogok begitulah bunyi pesan Jenny pada Nathan
"haduh sudah jam 10 aja nih" gumamnya saat melihat jam tangannya
Namun sepertinya moodnya bakal bertambah kacau saat lift sedang dalam under maintenance, oh my GOD sungguh kesabarannya sedang diuji.
kenapa sih pagi-pagi udah nyusahin aja, masa pakai tangga darurat sampai lt. 21. Tapi mau gimana lagi ya sudahlah semoga tiba-tiba lift selesai diperbaiki akhirnya Jenny menggunakan tangga darurat.
Sudah pakai heels, rok span, benar-benar pilihan fashion yang kurang tepat saat ini dan gila aku baru sampai di lt. 5 yang benar saja, betis aku sudah mau copot perut aku sakit lagi belom sarapan.
"Siang bu" sapa salah satu karyawan yang sedang menggunakan tangga darurat
"Siang juga, apa belum ada info dari maintenance mengenai lift?" tanya Jenny
"Katanya sebentar lagi bu" jawab karyawan itu
Jenny memandang minuman botol yang dipegang oleh karyawan tersebut "Itu minuman siapa, boleh aku minta ga ya. Haus nih habis olahraga?" ucap Jenny sambil menghapus peluhnya
"punya saya bu, ibu mau?" tanya karyawan itu sambil mereka terus berjalan menaiki tangga
"Boleh ya, saya ganti nanti deh double" ucap Jenny sambil memperlihatkan wajah memohonnya
"Silahkan bu, ga perlu diganti double" jawab karyawan itu, Jenny memang dikenal sangat baik dan ramah. Karyawan disana baik laki-laki maupun perempuan banyak yang terpesona padanya. Jenny tidak pernah mebangga-banggakan kecantikannya, kecuali dihadapan Nathan itupun hanya untuk iseng.
Jenny melanjutkan olahraga naik tangganya itu sambil meminum minuman botol itu. "Lumayan juga nih minuman" kemudian membaca label minuman itu "Pineapple, boleh juga"
Ketika sampai di Lt. 7 ada informasi bahwa Lift sudah dapat digunakan kembali "oh syukurlah" gumam Jenny
"Siang Nath" sapa Jenny dengan peluh pada dahinya saat sudah sampai diruangannya
"Kamu abis olahraga?" tanya Nathan
"Ck emang kamu ga tahu lift tadi sempat rusak, aku naik tangga sampai 7 lantai. Coba kamu bayangin deh, nanti betis aku yang indah bisa berubah jadi betis pemain sepak bola" betulkan Jenny hanya membanggakan kecantikannya dihadapan Nathan.
"Hiperbola deh" ucap Nathan kemudian kembali ke dokumennya
"ahhh akhirnya aku bisa duduk di ruangan ber AC ini" Jenny mendaratkan bokongnya selama lima menit kemudian bersiap dengan semua dokumen-dokumennya.
Setengah jam berkutat dengan dokumennya Jenny merasakan perutnya melilit dan ada sesuatu yang ingin keluar dari vaginanya sepertinya aku datang bulan Jenny segera menuju toilet yang berada diruangannya.
"Kamu kenapa?" ucap Nathan yang melihat Jenny berjalan melewatinya dengan memegang perutnya
"Biasa ta...mu bulanan" jawab Jenny, namun kali ini sakitnya lebih dari biasanya
Jenny tertatih menuju toilet dengan Nathan yang masih belum melepaskan pandangannya dari Jenny. Remasan diperutnya kian menjadi, kepala jenny juga pusing. Jenny menahan berat badannya pada gagang toilet saat dia sudah merasa tidak mampu berdiri namun masih dia dengar teriakan Nathan memanggil namanya.
"Jen" Nathan mengampirinya bertepatan dengan Jenny yang sudah black out
Hayoo ada apa dengan Jenny
Ikutin terus ya jangan sampai ketinggalan update ceritanya mumpung Free
Kalau sudah mau ending mesti bayar pakai koin loh