Misi Kebohongan

1047 Words
Aku langkahkan kakiku ke makam yang sudah lama tidak aku kunjungi. Menaruh bunga lily kesukaannya. Maafkan Jenny mom, datang mengunjungi mommy dengan keadaan kotor dan berantakan seperti ini. Mommy tetap sayang Jenny kan, mommy jangan marah. Kalau mommy marah pada siapa lagi Jenny akan mengadu. Mom...apa yang harus Jenny lakuin. Beri Jenny kekuatan untuk bisa bersikap biasa saja di hadapan Nathan. Jenny takut mom...takut kejadian semalam akan membuahkan hasil. Jenny tidak bisa memisahkan Nathan dari cintanya lagipula ini bukan kemauan Nathan.  Benar-benar aku menangis sejadi-jadinya. Aku dalam kebingungan, kesakitan, kemarahan namun tidak tahu harus meluapkan kepada siapa dan dengan cara apa. Mom...Jenny harus bagaimana. "Jen...jangan menangis tante akan sedih" Nathan ini suara Nathan Dia berdiri disampingku, mengusap surai panjangku. Aku mendorong tubuh Nathan saat dia membawaku ke dalam dekapannya. Sentuhannya mengingatkanku akan kejadian semalam. "Jen aku minta maaf" aku terpaku pada ucapan Nathan, apakah dia menyadari kejadian semalam. Aku takut. "Jen...please maafin aku. Aku benar-benar bangun kesiangan" huuuh aku bernafas lega karena katakutanku tidak terbukti. Nathan hanya berfikir aku marah padanya karena terlambat menemaniku ke makam mommy. "Nath, jangan lakukan kesalahan ini lagi" juga kesalahan seperti semalam ucapku dalam hati "Iya aku janji sama kamu sama tente juga" Nathan kembali membawaku ke dalam pelukannya "Habis ini kita ke St. Mary yuk" aku memaksakan senyumku menanggapi ajakan Nathan Aku ga tahu apa yang akan terjadi esok. Baik aku dan Nathan, kami tidak bersalah. Tapi aku akan menjadi salah saat aku merebut kebahagiaan sahabatku dengan mengatasnamakan pertanggung jawaban atas kejadian dimana kami benar-benar tidak dalam keadaan sadar seutuhnya.  ----------- Setelah empat hari di Australia kami kembali ke Jakarta. Setumpuk pekerjaan menunggu kami di perusahaan ini. Perusahaan yang kami impikan dan rencanakan saat kami kuliah dulu akhirnya dapat kami wujudkan. Dua hari terakhirku di Australia memang sangat menguras energiku baik fisik maupun mental. Berusaha melupakan kejadian malam itu dengan Nathan dan juga menghindari pertanyaan-pertanyaan Nathan akibat aku mengalami demam tinggi setelah pulang dari makam mommy. Tubuhku mungkin kaget akan peristiwa ONS ku dengan Nathan dan aku tidak mungkin memeriksakan diriku ke dokter, bisa-bisa Nathan akan tahu keadaanku yang sebenarnya. "Jen, kemarilah aku perlu pendapatmu tentang ini" aku segera menuju meja Nathan yang tak jauh dari mejaku. Kami menempati ruangan yang sama yang dihuni oleh kami berdua dengan meja yang berdekatan. Kami membahas rencana-rencana kerjasama dan tender project baru. Di perusahaan ini hanya nama Nathan yang tercantum sebagai CEO, aku yang memintanya pada Nathan karena hampir 70% Nathan yang mengendalikan dan aku memang tak terlalu senang terekspos. "Jen bulan depan Endrew kembali ke Indonesia, dia mengajak kita makan malam sekaligus ada titipan dari mommy"  Aku bingung harus mengiyakan atau tidak. Disatu sisi aku ingin tahu alasan obat perangsang dalam minuman itu namun disisi lain aku juga takut jika Endrew menanyakan kejadian malam itu pada kami justru akan membongkar kebohonganku. "Jen..kok jadi melamun sih" tanya Nathan "sudahlah pasti kamu bisa kan, jam tujuh kita berangkat" sambungnya lagi dan aku hanya mengiyakan. ---------------- Satu bulan kemudian. Kami memasuki restaurant tempat kami bertemu dengan Endrew. Saat kami bertemu kami bercerita banyak dan yang pasti mereka membicarakan bisnis setelahnya. Endrew pebisnis terkenal di Yogyakarta dan dia sedang mempertimbangkan untuk membuka cabang di Jakarta berbanding terbalik dengan Nathan yang ingin membuka cabang di Yogyakarta. Aku tidak menyimak pembicaraan mereka lagi saat pelayan membawakan makanan pesanan kami, aku hampir tidak dapat menahan air liurku. Benar-benar menggugah seleraku. "Aku ke toilet sebentar ya" ucap Nathan meninggalkan aku dan Endrew Saat aku hendak memakan makananku, Endrew mendekatkan kepalanya kearahku "Jen, di malam ulang tahun lo apa terjadi sesuatu pada kalian" tiba-tiba Endrew mengungkit kejadian itu dengan suara berbisik mendekati telingaku. DEG...aku mulai gugup, namun aku netralkan kembali raut wajahku. "Memangnya ada apa?" aku tanya balik berpura-pura bodoh "Minuman yang kalian minum itu mengandung obat perangsang, seseorang mau ngerjain gue tapi justru kalian yang meminumnya. Gue benar-benar ga tahu" ada raut cemas di wajah Endrew. "Ngapain kalian bisik-bisik" Nathan menginterupsi pembicaraan kami sedangkan Endrew nampak gugup "Eh...gi..gini Nath mengenai malam ulang tahun Jenny. Ada yang..." "Dia udah tau Drew, ga usah dibahas lah. Gue marah kalo lo ungkit-ungkit lagi" aku memotong ucapan Endrew. Nathan ga boleh tau masalah obat terkutuk itu. "Iya parah banget lo, gue sampe hilang kendali sampe pas gw bangun udah ada wanita nakal di ranjang gue" aku memang hanya memberitahu Nathan bahwa minuman dari Endrew yang berkadar alkohol tinggi itu membuatnya mabuk berat. "Loh bagaimana bisa, bukannya lo pulang berdua doang sama Jenny" oh tidak kenapa Endrew mengatakan hal itu sih "Oh...ditengah jalan ada wanita yang menghentikan taksi kami, jadi kami pulang bertiga” aku langsung memotong kata-kata Endrew dengan sigap “Ohhh jadi kamu tidur sama jalang. Ya ampun Nath" aku mencoba mengalihkan pembicaraan "Loh kalau kamu pulang sama aku, kok besoknya kamu tidak ada dirumahku" pertanyaan Nathan "Lagi pengen pulang ke rumah aja. Mungkin juga naluri ku yang membawa aku tidak mengikutimu dan wanita itu ke dalam kamarmu. Apalagi kalian ternyata jadi making love" pandai sekali memang aku berkilah Ya aku memang menghubungi temanku untuk mencarikan wanita penghibur pagi itu secepat mungkin, aku meminta wanita penghibur itu untuk tidur disamping Nathan sampai dia terbangun dan mengatakan pada Nathan bahwa mereka malam itu melakukan One Night Stand. Mereka melanjutkan obrolan mereka dan mulai menuju ke topic bisnis. Sedangkan aku tidak menikmati obrolan mereka. Bagiku bekerja dari Monday to Friday sudah cukup melelahkan, aku tidak mau membahas lagi di weekend seperti ini. "Kalian masih lama ngobrolnya, kalau masih lama aku mau pesan sesuatu" tanyaku "Walaupun kami tidak lama kalau kamu masih lapar pesan aja, kami akan tunggu kamu selesai makan" ucap Nathan sambil tersenyum "Baiklah" ucapku sambil memanggil pelayan dan memesan makanan. Lebih baik aku makan daripada harus mendengarkan obrolan mereka. "Oh ya, masalah dimalam ulang tahunku jangan diungkit-ungkit lagi aku malas mendengarnya" ucapku setelah memesan ronde ke dua makan malamku. Aku ingin memastikan bahwa Endrew tidak membuka pembicaraan seputar malam itu lagi. "Iya, iya cerewet banget sih" ucap Endrew Dan tak lama pesananku datang. "Wow Jen" ucap Endrew saat melihat apa yang kupesan. Satu porsi pasta dan dessert. "Udah deh kalian jangan ganggu aku, lanjutin aja obrolan kalian" jawabku ketus. Aku menikmati makananku sambil memperhatikan mereka sesekali. Huh mereka benar-benar tidak tahu cara menikmati hidup. Jangan lupa follow, comment dan lovesnya Mumpung Freeee, kalau sudah mau episode ending aku kunci jadi harus baca pakai koin
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD