Worst Night

1058 Words
7 Tahun Kemudian   Sebuah bar di SYDNEY, NSW, Australia   "HAPPY BIRTHDAY dear Jenny...HAPPY BIRTHDAY to you...woohoooo blow the candle..." riuh suara teman-temanku  Yes, we are here in Sydney. Aku dan Nathan kembali untuk merayakan ulang tahunku dengan teman-teman kuliah kami dulu dan mengunjungi makam ibuku. "Thank you, enjoy the party" ucapku usai make a wish dan meniup lilin Sepasang tangan memelukku dari belakang "Happy Birthday my bestfriend" kemudian mencium puncak kepalaku "what is your wish" tanyanya dan kupastikan itu adalah Nathan. Aku memutar tubuhku menghadapnya "it's a secret" jawabku lantas memeluknya erat, aku hanya berdoa agar kamu menemukan cintamu. "Thank you for the party" kataku "you deserve it" katanya "terima kasih kau selalu bersamaku" melepaskan pelukannya untuk mencium keningku. "Ohhh please stop your romantic friendship, join us here" tiba-tiba suara Endrew teman Nathan dan tentu aku mengenalnya mengganggu obrolan kami. "Let's drink" Endrew memberikan Nathan segelas minuman beralkohol  Nathan menyesapnya "Not bad, but alkoholnya terlalu tinggi bro" ucap Nathan Aku kemudian meraih gelas Nathan dan meminumnya dua teguk, benar saja kandungan alkoholnya tinggi tenggorokanku saja langsung memanas. Kukembalikan gelas itu ke Nathan dan dia menghabiskannya. Aku memutuskan untuk meraih beer dengan kadar alkohol rendah. Minuman yang diberikan Endrew tidak membuatku pening namun tubuhku terasa panas. Aku buru-buru mencari Nathan karena pasti minuman itu berefek lebih pada Nathan karena dia menghabiskan satu gelas. Benar saja kulihat Nathan sudah mabuk, aku meraih tubuh Nathan dibantu Endrew dan membawa kami menuju taksi yang sudah ku pesan. "Thanks, drew. Bill sepertinya sudah Nathan bayar di awal, kalau ada kekurangan let me know" ucapku kemudian masuk ke dalam taksi bersama nathan menuju rumah Nathan. --------- Rumah Nathan tampak kosong, ah ini karena orangtua Nathan sedang menetap di Adelaide. Aku membaringkan Nathan diruang tamu. Aku tidak sanggup membopong tubuhnya ke kamar Nathan yang terletak di lantai dua. Aku menuju walk in closet dikamar Nathan, tubuhku terasa panas tapi jika aku mabuk aku tak pernah seperti ini. Aku mengambil acak baju Nathan, aku ingin mengganti pakaianku yang kurang nyaman untuk kupakai tidur. Dengan hanya menggunakan kaos kebesaran Nathan aku turun kebawah, kulihat Nathan terduduk sambil memegang kepalanya. "Nath pindah ke kamar kamu yuk, lebih baik kamu istirahat disana" aku maraih pundak Nathan. Namun Nathan justru memelukku kemudian menghempaskan tubuhku ke atas sofa. Aku kaget dan berusaha bangkit menghindari Nathan. "Nath,,,ahhh" Nathan mendorong tubuhku sehingga pinggangku mengenai pinggiran sofa yang terbuat dari kayu. Aku melihat Nathan membuka pakaiannya, entah mengapa melihat otot-otot perutnya membangkitkan gairahku padahal aku sudah biasa melihatnya seperti ini. "Nath...emmmpp" Nathan mencium bibirku, melumatnya, mencoba memasuki lidahnya pada rongga mulutku. Aku berusaha mendorong tubuh Nathan ditengah darahku yang semakin memanas. Nathan kembali mendorong tubuhku, kali ini tubuhku jatuh diatas sofa. "Nath sadar" seruku saat dia sudah berada di atasku. Dia mencoba mencium bibirku namun aku terus menggerakkan kepalaku, tangannya menahan rahangku dengan kasar agar aku berhenti bergerak. Dia menciumku kasar bahkan menggigit bibir bawahku hingga berdarah. "emmpph" aku meringis menahan perih dan kebas pada bibirku yang terus dicium oleh Nathan. Aku menendang Nathan dan berhasil lepas dari kungkungannya. Mau tak mau aku berlari kelantai atas karena aku tidak mungkin keluar dari pintu depan. Posisi Nathan dekat dengan pintu itu. Aku menuju kamar Nathan dan segera menutup pintunya namun Nathan menahannya. Aku takut...aku takut...kami melakukan hal yang tidak seharusnya kami lakukan ------------ Nathan menahan pintu itu. Dia menarik bajuku, membukanya paksa hingga robek. Mencium bibirku dengan brutal. Mengehempaskan tubuhku diatas ranjang. Membuka bra ku dan underwear yang ku kenakan. Aku sudah full naked dengan Nathan yang topless. Ketakutanku benar-benar terjadi, saat tubuhku mengkhianatiku. Aku berusaha melawan namun saat ini tubuhku justru menikmati sentuhan Nathan. Aku tidak dapat lagi mengendalikan hasratku atas sentuhan-sentuhan Nathan. Bahkan aku sesekali membalas ciuman Nathan. Nathan terus mencium bibirku, kemudian beralih ke leherku, selangkaku, kemudian bukit kembarku "Nath....aakkkh" Nathan meremas payudaraku dengan kasarnya kemudian mengulum putingku dan menggigitnya, sakit tapi kemudian aku benar-benar sudah tidak bisa lagi melawan gairahku. Nathan lebih dari sekedar mabuk. Dia tampak seperti dirasuki makhluk dengan gairah luar biasa.  Aku sudah tidak dapat berpikir waras sampai.... "Agggghhh..." ada benda tumpul yang menghujam masuk ke dalam lubang kewanitaanku "sakiiit" aku mengeluarkan airmata "Ga akan sakit setelah ini" suara Nathan sangat berat, dia benar-benar diliputi birahi Nathan semakin menghujamkan kejantanannya lebih dalam, tempo permainannya juga semakin cepat. Aku juga tidak dapat melawan lagi namun justru tubuhku seperti membutuhkannya mengobati hasratku yang entah tak tau darimana tiba-tiba muncul. "Aggghhhh" "Naaaathhh" kami mencapai pelepasan kami. Tubuhku lelah namun tidak dengan Nathan dia terus melanjutkan aksinya sedangkan aku merasakan sakit pada seluruh tubuhku. Dia terus membombardirku, "I Love You Ta" itu kata-kata Nathan yang masih bisa aku dengar saat dia terus memainkan tubuhku sampai aku tidak dapat merasakan ragaku kemudian semua gelap 'hentikan Nath, aku sakit' ------------ Kriiiiiiiiiing...kriiiiiiiing alarm ponselku membangunkanku. Kemarin aku sengaja set alarm pukul 7 pagi karena aku berencana mengunjungi makam ibuku. Aku merasakan nyeri disekujur tubuhku, saat aku hendak bangun aku rasakan jemariku bertautan dengan pria disampingku denga tubuh tertelungkup. Aku kembali mengingat memori malam panas kemarin. Aku yakin dalam minuman kami kemarin terdapat obat perangsang, namun nasi sudah menjadi bubur.  I Love You Ta kata-kata Nathan itu terngiang ditelingaku, walau kami melakukannya bukan karna keinginan kami tapi tetap saja aku sakit mendengar perkataan Nathan itu tepat diterlingaku. Dia sangat  mencintai Lytha hingga saat pelepasannya pun nama itu yang disebutnya walau tubuhku yang memuaskannya. Bagaimana aku menjelaskan kejadian semalam yang justru akan menghancurkan Nathan. Aku mengumpulkan kekuatanku, melepaskan genggaman Nathan. Menahan perih pada selangkanganku dan aku melihat noda darah keperawananku yang untungnya berada di bed cover sehingga aku mudah menggantinya.  Aku membereskan sisa-sisa ke kacauan kemarin hingga mengganti bed cover dengan hati-hati agar tidak membangunkan Nathan.  Aku menuju walk in closet untuk meminjam baju Nathan. Saat ingin memakai baju, sejenak aku bercermin. Kulihat tubuhku yang kacau, terdapat banyak kiss mark kemerahan, putingku juga sedikit terluka, dan lebam di daerah pinggangku. Aku berjalan menuju rumahku yang tepat berada didepan rumah Nathan. Aku segera menuju kamar mandi membersihkan tubuhku. Aku tidak dapat menahan air mataku, kenapa ini terjadi pada kami. Tangisku makin tak terbendung saat aku menyadari bahwa Nathan tidak menggunakan pengaman semalam. Aku segera membungkam mulutku dengan kedua tangan. Tidak...tidak mungkin berhasil dengan hanya melakukannya sekali, walau aku juga tidak yakin Nathan menembakkan spermanya hanya satu kali. Aduh bakal membuahkan hasil ga ya, kasihan Jenny Tetep ikutin terus ya, mumpung free Karena setelah Ending harus beli pakai koin
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD