JENNY
Aku langkahkan kakiku menyusuri setiap nisan dan berhenti disebuah nisan yang aku kenali dan sebenarnya aku rindukan sosok yang telah tertanam dibawah nisan itu.
"Mom bagaimana dengan dunia barumu, aku harap kau berbahagia dengan duniamu yang baru. I miss you so bad" ah dengan berkata itu saja pada sebuah nisan ini mataku berkaca-kaca. Aku mengarahkan kepalaku menghadap langit agar air mataku tidak terjatuh.
"Mom, He has someone he loves. i'll repeal the engagement. I believe you'll understand" kutatap langit dari balik payung yang aku kenakan.
Aku bahagia jika dia bahagia. He is my bestfriend dan aku menyayanginya.
Flashback On
"Jenny, come in. Your mom looking for you" salah satu perawat memanggilku untuk masuk ke ruang rawat mommy
Aku memegang kedua tangan mommy seraya memberinya kekuatan.
"Jen, i have to tell you something. Mommy dan kedua orangtua Nathan sudah lama menjodohkan kalian. Maaf baru memberitahumu. Nathan pria yang baik dari keluarga yang baik. Mommy mempercayakan kamu pada mereka, karena mommy takut kau akan kesepian jika mommy tidak ada"
"Mom kenapa kau bicara seperti akan meninggalkanku" terus terang aku takut
"Jen, mommy loves you so much. Maafin mommy karena kamu tidak mendapatkan kasih sayang yang lengkap"
"Itu bukan salah mommy, Daddy pergi bukan salah mommy. Itu takdirku. Mommy cukup bagi Jenny" ucapku
"Jen, da....dad....daddy"
Tiiiiiiiiiittttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt
"moom...moommmyyy" aku berteriak bagai orang gila
Kudengar perawat dan dokter memasuki ruangan mencoba mengembalikan detak jantung mommy, aku masih berharap nyawa mommy akan kembali
Namun saat dokter menyatakan tanggal dan jam kematian pasiennya aku tau bahwa harapanku tak akan terwujud.
Aku menutup mata dan menyadari bahwa aku akan sendirian. Satu-satunya sosok yang bersamaku semenjak aku dilahirkan ternyata harus menyudahi kebersamaannya denganku di dunia ini.
Aku diam, bahkan aku tak mengeluarkan air mata. Entah apa yang terjadi dengan diriku. Aku seakan manusia yang jiwanya sudah lepas dari ragaku. Berharap ini mimpi buruk dan aku segera sadar dari mimpi buruk ini.
Aku memperhatikan orang-orang menghampiriku, berlalu lalang bahkan beberapa orang menangis dihadapanku.
Aku bagai melihat pertunjukan orang sampai suara seseorang membuat jiwaku kembali kedalam ragaku
"Jen......" ya dia adalah Nathan
Flashback off
Mom Maafkan aku, tapi Jenny yakin mommy mengerti dan menyetujui keputusan Jenny. Aku melangkahkan kakiku meninggalkan makam ibuku menuju rumah Nathan.
Sesampainya aku didepan pintu rumah Nathan, aku berniat mengetuk pintu rumah itu namun pintu itu terbuka menampakkan kedua orangtua Nathan dengan wajah sedihnya. Aku jadi khawatir akan ekspresi yang mereka tunjukkan, belum sempat aku bertanya....
"Jen, Nathan in Hospital. He got an accident" ucap Mrs. Green
Jantungku berdegup kencang, aku takut kehilangan lagi. Aku segera mengikuti mereka menuju rumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit dokter berbicara dengan orangtua Nathan mengenai kondisinya, kulihat Mr. Green menandatangani sesuatu mungkin tanda persetujuan melakukan tindakan. Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang mereka perbincangkan, pikiranku hanya tertuju pada Nathan.
Beberapa dokter memasuki ruang operasi. Mr. Green nampak bolak balik didepan ruang operasi sedangkan Mrs. Green duduk disampingku sambil terus menangis.
Kami menunggu hingga beberapa jam sampai ruang operasi terbuka, kedua orangtua Nathan diminta menghadap ke ruangan dokter. Ya Tuhan selamatkanlah Nathan, bukankah terlalu kejam bagiku jika aku harus kehilangan orang yang kusayangi dalam waktu yang teramat dekat.
Sampai akhirnya Mrs. Green menghampiriku dan mengatakan bahwa Nathan mengalami koma. Aku menangis dalam pelukan Mrs. Green, bibirku kelu hanya untuk mengatakan sekedar satu kata.
Saat kami diijinkan untuk memasuki ruangan Nathan kulihat sahabatku tertidur dengan peralatan medis yang terpasang ditubuhnya. Nath kamu pasti bangunkan, kamu yang aku punya saat ini. Kamu harus tepati janjimu untuk selalu bersamaku. Menangis hanya itu yang bisa aku lakukan seakan dunia tak adil bagiku.
---------
Sudah satu minggu Nathan koma dan kepolisian sudah mengembalikan semua barang-barang Nathan ke pihak keluarga termasuk ponsel Nathan yang sudah hancur pada bagian layar namun tetap aku charge. Entah kenapa aku merasa ponsel itu harus aku charge.
Dari kemarin malam aku menjaga Nathan karena orangtua Nathan sedang ada urusan. Tidurku terganggu saat ponsel Nathan berbunyi "ehm...halo" aku menjawab panggilan tersebut.
"Halo, apa bisa bicara dengan Nathan" ucap seseorang yang tidak aku tahu siapa, karena layar ponsel Nathan tidak berungsi dengan baik
"Honey, please wake up. Someone call you" aku mencoba mengajak Nathan bicara, siapa tahu Nathan merespon tapi ternyata harapanku tak terkabul "Sepertinya dia masih ingin beristirahat, mungkin kamu dapat menghubunginya besok" kataku kepada wanita tersebut
"Maaf dengan siapa saya berbicara" tanya wanita itu
"Saya Jenny"
"Jenny?" tambah wanita itu
"Iya, saya tunangan Nathan" kujawab sambil tersenyum ke arah Nathan
"Tunangan, sejak kapan?" tanya wanita itu lagi
Aku menghitung-hitung dan mengingat perkataan mommyku "Enam minggu yang lalu"
Saat aku ingin menanyakan nama sang penelpon, panggilan itu telah terputus.
Kau lihat nath aku berbohong pada wanita itu, bangunlah dan marahi aku. Mungkin saja dia Lytha, coba bayangkan dia pasti merindukanmu. Bangunlah...
-------------
Keajaiban yang kutunggu-tunggu datang Nathan bangun dari komanya.
"Heii, finally you wake up" Aku menaik turunkan alisku
"Jen..." Nathan berusaha bangun "jangan dipaksa, aku akan panggilkan dokter" kataku segera memencet bel agar dokter atau perawat segera datang
Dokter mengatakan bahwa sebagian kecil ingatan Nathan menghilang, namun aku merasa tidak begitu karena hampir semua hal dia ingat.
"Jen, apa ada yang menelponku selama aku koma" tanyanya padaku.
"Ada, seorang wanita" aku memberikan ponselnya
"Ini bukan ponselku" Nathan menatap ponsel yang kuberikan
"Apa kau pikir ponselmu bisa utuh sedangkan tubuhmu yang besar saja tampak mengenaskan" kataku to the point "Aku mengganti ponselmu, tapi sim card mu tetap aman"
"Jen, apakah kau bisa menelpon wanita yang pernah menelponku itu"
"Of course, wait a minute aku akan mencoba melihat riwayat panggilanmu" aku memeriksa telepon Nathan
"ahhh ini dia" aku segera menyambungkan telepon dan memberikan ponsel itu pada Nathan "ini bicaralah"
Nathan mencoba melakukan panggilan berkali-kali namun tetap tidak tersambung. Kulihat ada kekecewaan dimatanya.
"Sudahlah sebaiknya kau memulihkan dirimu dulu, saat kau pulih kau bisa mencarinya di Indonesia" kataku "aku percaya jika dia adalah jodohmu pasti kalian bertemu" sambungku menyemangatinya.
"Pokoknya aku senang kau kembali" aku memeluk Nathan
"awwww" rintihnya "kenapa?" tanyaku "kau menyentuh lukaku, sakit tau" kulihat wajahnya menahan sakit ditubuhnya "maaf" cicitku
------------
Setelah tiga minggu Nathan sudah pulih total, dia kembali ke Jakarta untuk mencari Lytha walaupun pada akhirnya dia tidak menemukannya. Aku turut bersedih, aku tau dia sangat kecewa tidak dapat menemukan wanita yang dicintainya.
Aku tetap menyemangatinya dengan kata andalanku, kalau jodoh pasti bertemu. Kami melanjutkan pendidikan kami dikampus yang sama di Australia. Kami mengambil jurusan bisnis dan manajemen.
Kami cukup terkenal di kampus, tapi tetap saja pamor aku yang paling tinggi dibanding Nathan. Walau demikian belum ada yang membuat kami jatuh hati, khususnya Nathan dia masih mencintai Lytha.
"Jen, saat kita lulus nanti aku akan membuka perusahaan di Indonesia. Siapa tau kami bisa bertemu" aku salut dengan Nathan yang masih terus mencintai dan mengharapkan pertemuannya dengan Lytha
"Baiklah, aku akan menanamkan modal pada perusahaanmu" ucapku
"Bagaimana kalau kita membangun usaha bersama, milik kita berdua"
"OKAAAY" teriakku menyetujui usulan Nathan
Aku berharap kau segera bertemu dengannya Nath, kau sangat mencintainya - Jenny