IMD

656 Words
Jakarta,  Akhirnya aku kembali ke kota ini. Aku menuju RS, setelah mendapatkan info kamar rawat Lytha aku segera menuju kesana.   Aku melihat Nathan menangis dengan menggenggam sebuah kotak dan sepucuk surat. Aku tau ini pasti sangat sulit untuk Nathan. Aku menghampirinya dan memeluknya mencoba menghantarkan kekuatan dan penghiburan baginya. Sama seperti dulu Nathan memelukku saat aku kehilangan mommyku. ------  Aku memang terlambat datang karena jenazah Lytha telah dikebumikan oleh karena itu pagi ini aku datang ke makam istri dari sahabatku itu.   Hi Ta, maaf aku tidak datang dipemakamanmu. Aku sudah membaca pesanmu, walau aku tidak tau apakah aku mampu mewujudkan permintaanmu namun aku akan berusaha menemani Nathan dan menjadi Ibu s**u bagi putramu. Berbahagialah bersama anakmu disana dan doakanlah Nathan agar dapat menemukan wanita yang baik sebagai istrinya dan ibu yang baik bagi putramu.   Aku melangkahkan kakiku meninggalkan makam Lyta menuju apartmentku.  -------- Saat ini aku sedang di RS untuk melakukan percobaan inisiasi menyusu dini (IMD) pada Natta, putra Nathan dan Lytha. Sebelumnya IMD ini gagal karena ternyata Natta belum bisa menyusu karena premature, namun setelah menunggu satu bulan Natta mengalami kemajuan dan dokter berharap kali ini bisa berhasil.   Keluarga Nathan dan Lytha juga menyetujui aku melakukan hal ini karena Lytha ternyata meninggalkan pesan untuk aku menjadi ibu s**u bagi Natta kepada keluarganya.   Setelah kami (aku, Nathan, Ibu Lytha dan Mommy Nathan) bertemu dengan dokter kami menuju salah satu ruangan yang sudah ada Natta didalamnya untuk memulai melakukan IMD. Nathan menunggu di luar karena aku merasa canggung jika Nathan melihatku menyusui terlebih lagi ada Ibu Lytha.  Aku berbaring membuka kemeja dan bra, disisi lain suster membawa Natta yang telanjang ke atas dadaku. Kurasakan Natta mulai mencari putingku dan saat menemukannya dia langsung menghisapnya. Aku terharu sekaligus iba pada bayi kecil ini membuat aku berjanji pada diri sendiri akan memberikan kasih sayang padanya sampai nanti ada wanita yang akan menyayanginya sebagai ibu.   Natta masih belum boleh dibawa pulang karena harus dilakukan observsi lebih lanjut, itu berarti aku harus bolak-balik rumah sakit untuk menyusui Natta seperti saat ini.   Setelah satu minggu Natta mengalami peningkatan dan diperbolehkan pulang. Aku selalu mengunjungi apartment Nathan setiap hari demi menyusui Natta sampai pada dua minggu setelahnya Nathan mengajakku membicarakan sesuatu bersama Ibu Lytha dan kedua orang tua Nathan.   “Jen, kami rasa sebaiknya kamu pindah ke apartment Nathan. Aunt lihat kamu sangat lelah pulang pergi kemari” Mommy Nathan menjelaskan   “Kami rasa ini yang terbaik dan ibu harap kamu tidak salah paham dan menerima usulan ini” kali ini Ibu Lytha menjelaskan dan ternyata dia sangat open minded Pada akhirnya aku menyetujui usulan itu, karena aku juga tidak mau terlalu lama meninggalkan Nia.   Saat aku pulang Mrs. Green mengantarku sampai ke Lobby dan kami berbincang sebelum aku benar-benar meninggalkan apartment Nathan. "Jen, aku belum pernah bertemu dengan putrimu Nia. Kenapa tidak dibawa saat kamu berkunjung ke apartment Nathan" Tentu saja aku takut Mrs. Green dan Ibu Lytha mengenali Nia yang sangat mirip dengan Nathan. Apalagi mereka seorang ibu pasti instingnya lebih kuat. Aku mungkin bisa membodohi Nathan tapi tidak yakin berhasil untuk Mrs. Green dan Ibu Lytha. Terlebih Lytha baru saja meninggal dunia, aku takut keluarga Lytha mengecap Nathan lelaki berengsek yang menghamili sahabatnya dan tidak mau bertanggungjawab. "Nanti kalau aunt kembali ke Indonesia lagi, Jenny akan kenalin Nia" jawabku "Masih lama Jen, kamu tau kami akan menetap di Finlandia selama tiga tahun" ucap Mrs. Green Tentu saja aku tahu hal itu bahkan aku juga tahu kalau ibu Lytha akan segera kembali ke Jogja karena Ka Lynna kakak Lytha membutuhkannya disana. Untuk itu aku merasa lega. "Boleh aku lihat fotonya Jen"  DEGGG....aku sedikit gugup. Tenaaang....tenaaang aku mensugesti diriku "ekkmm...fotonya ada di ponselku yang lain dan kebetulan aku tidak membawanya" ucapku beralasan "Apa aku minta sama Nathan saja ya" katanya, otakku mulai bekerja lagi "Please Aunt saat ini Nathan sedang berduka, nanti Jenny sendiri yang akan mengirimkannnya"  ucapku dengan harapan topik pembicaraan ini tidak dilanjutkan lagi. "You are right" katanya membuatku lega
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD