Usia kandunganku sudah memasuki usia tiga bulan. Nathan selalu datang menjemputku untuk pergi ke kantor bersama-sama. Aku melarang Nathan menginap, sebisa mungkin aku tidak bergantung padanya. Kami selalu sarapan bersama di apartmenku sebelum berangkat kerja.
"Morning" "morning" kami saling menyapa dipintu apartmenku. Kami menuju meja makan, sandwich dan s**u sudah tersedia di meja makan. Kami sarapan sambil berbincang.
"Perutmu sudah kelihatan membesar" katanya
"iya, ya. Makin sexy kan" candaku. Nathan tertawa terbahak-bahak
Baru saja aku meminum satu teguk s**u hamil, aku merasa mual menghirup aroma s**u itu. Aku berlari menuju kamar mandi "hoeek...hoeek" aku memuntahkan semua yang baru saja aku makan pagi ini di wastafel.
Kurasakan tangan yang memijat tengkukku, aku muntah kembali sampai hanya cairan bening yang tersisa.
"Mau ke dokter? muka kamu pucat Jen" tanya Nathan
"Ga usah, aku hanya mengalami morning sickness" jawabku, kulihat matanya memancarkan kekuatiran
"Nath, aku ga masuk kantor ya" ujarku saat Nathan memapahku menuju sofa
"Ga, kamu harus masuk kantor" katanya
"Nath kepalaku pusing..."
"karna itu Jen, aku tidak bisa meninggalkanmu disini. Lebih baik tetap dikantor, kau bisa tidur dikamar yang berada diruangan kita. Aku takut terjadi sesuatu apabila kamu sendirian disini"
"OK, aku ke kantor" ucapku
"Istirahatlah 15 menit baru kita berangkat" ucap Nathan sambil mengusap kepalaku
AUTHOR
Hari ini Nathan tidak masuk kerja karena sakit. Jenny yang menghandle semua pekerjaan untuk sementara. Usia kehamilan Jenny sudah memasuki usia 5 bulan. Dengan perutnya yang kian membuncit wanita itu kesana kemari. 'anak mommy kooperatif sekali, sebentar lagi kita pulang ya nemuin daddy' Jenny mengusap perutnya.
Tepat pukul 5 sore Jenny keluar kantor dan menuju apartment Nathan tentu saja ditemani supir karena Nathan sudah melarangnya berkendara seorang diri. Jenny memiliki akses masuk ke apartment Nathan jadi dia tidak perlu menunggu Nathan membuka pintu.
Jenny berhenti di dapur, membuka ponselnya untuk memesan makan malam. Setelah selesai Jenny mencari keberadaan Nathan, terdengar gemericik air yang menandakan Nathan sedang berada di kamar mandi. Ide isengnya muncul, Jenny berdiri didepan pintu 'aku mau ngagetin waktu dia keluar kamar mandi' Jenny tersenyum licik.
Namun Nathan keluar dari kamar mandi lebih lama dari yang dia kira. Saat pintu terbuka "Nathan, kamu lama banget sih mandinya aku kan kebelet pipis" Jenny buru-buru memasuki kamar mandi. Memasuki usia kehamilan kelima ini, Jenny seringkali buang air kecil.
"Kamu kan bisa pakai kamar mandi luar Jen" ucap Nathan yang tidak didengar oleh Jenny yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"NAAATHHH, tolongin aku" teriak Jenny setelah beberapa menit di dalam kamar mandi. Nathan segera menuju kamar mandi takut terjadi sesuatu pada Jenny. Untungnya pintu kamar mandi tidak terkunci.
Begitu pintu terbuka nampak Jenny yang berdiri mematung "Nath, kaki aku keram...hiiks" ucap Jenny dengan mata yang berkaca-kaca. Selain sering buang air kecil, Jenny sering merasa keram yang menurut dokter adalah hal yang wajar diusia kehamilan Jenny ini.
"Hahahaha....aku kira kenapa" Nathan menghampiri Jenny dan menggendongnya ala bridal dan mendudukkan Jenny diranjangnya dengan kaki diluruskan.
"Jahat malah ketawa" seraya mumukul lengan Nathan, kemudian menaruh telapak tangannya ke dahi Nathan "Ih kamu sudah ga demam, syukur deh" kemudian netranya menangkap tubuh Nathan "Aduuh Nath pake baju gih sana, ampun deh" lanjut Jenny saat melihat Nathan yang masih hanya mengenakan handuk sebatas pinggang sampai atas lutut
"Aku kan biasa begini, kamu juga tahu kan. Tumben protes sih" ucap Nathan bingung
"Asal kamu tau ya aku tuh lagi hamil 5 bulan, libido aku lagi tinggi nih" ucap Jenny garang. Ya masalah ketiga yang Jenny hadapi, libidonya naik dan sekali lagi itu hal yang wajar.
Bukannya menjauh Nathan malah semakin mendekati Jenny, meraih tangan Jenny kemudian menempelkannya di perut sixpack nya "Nih pegang aja aku kasih gratis" kemudian dinaikkan ke dadanya yang bidang
"Nathaaaaaaan jangan MANCING-MANCING" Jenny menarik tangannya. Bisa-bisanya Nathan melakukan hal itu.
"Hahahaha, ga usah gengsi. Kalo kamu mau pegang-pegang bilang aja mumpung belum aku kasih tarif, khusus hari ini tubuh aku bebas untuk kamu" Nathan segera bangkit karna Jenny pasti akan segera mengejarnya. Dan benar saja dugaannya.
"Kamu BENER-BENER ya" Jenny berniat mengejarnya namun baru berapa langkah sebelah kakinya terasa keram.
Nathan yang melihat Jenny tak bergerak namun tangannya bertumpu pada meja nakas berlari ke arah Jenny
"Keeraamm Nath" ucapnya lirih
Nathan memeluk Jenny dan menggendongnya kembali ke ranjang.
Cup...Nathan mengecup kening Jenny "maaf ya, aku tadi bercanda. Aku pakai baju dulu"
Naaath, perlakuan kamu seperti ini malah bikin libido aku makin naik – Jenny
--------------
Tok…Tok…Tok
Bunyi pintu apartment diketuk. Petugas delivery dari tempat Jenny memesan makanan. Jenny bangkit berniat membuka pintu namun Nathan yang baru selesai memakai baju menahannya “duduk aja, aku yang ambil”
“Jen, makanan udah datang. Kamu mandi dulu gih, sudah selesai nanti langsung ke maja makan” teriak Nathan
Jenny segera bangkit menuju kamarnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Jenny menuju meja makan dengan handuk yang masih menempel dikepalanya membungkus rambut basahnya.
“Gak mau di hair dryer dulu” tanya Nathan
“Enggak, aku udah laper Nath” jawab Jenny dengan wajah memelas, tentu saja Jenny tidak dapat menahan laparnya lagi karena energy yang dia keluarkan hari ini sangat extra karena Nathan tidak masuk kantor.
Nathan memperhatikan Jenny yang makan dengan lahapnya, benar-benar bagai manusia yang belum makan berhari-hari.
“uhuk…uhuk” Jenny tersedak karena makan dengan terburu-buru
Nathan segera memberikan segelas air pada Jenny “makanya makan pelan-pelan, gak ada yang akan ambil makananmu” Nathan bangkit dan menepuk-nepuk punggung Jenny.
Nathan menatap Jenny yang terbatuk sampai mengeluarkan airmata dan wajah yang sudah memerah “udah mendingan?” ucap Nathan sambil menghapus jejak air mata Jenny dan mendapat anggukan dari wanita hamil itu.
Mereka melanjutkan acara makan malam mereka. Setelah selesai Nathan merapihkan meja dan mencuci piring, setelah selesai Nathan menuju kamar Jenny mengecek keadaannya. Didapatinya Jenny berbaring dengan handuk dikepalanya. Nathan tidak mungkin membiarkannya, bisa-bisa Jenny masuk angin.
“Jen, rambut dikeringin dulu, nanti masuk angin” ucap Nathan
“Aku malas Nath” jawab Jenny tanpa menoleh pada Nathan membuat pria itu menghampiri ranjang Jenny dan menggendong Jenny ala bridal menuju meja rias “aku yang keringin kamu tinggal duduk aja” Nathan menaruh tubuh Jenny diatas kursi rias.
“Ihhh ceramahin orang masuk angin, liat tuh baju kamu aja basah” Jenny menunjuk baju Nathan yang basah akibat kesalahannya saat mencuci piring tadi.
“Iya…iya…” Nathan melepas kaosnya “hati-hati nanti libido kamu naik lagi” ucap Nathan saat memergoki Jenny menatap tubuhnya sambil menelan ludah “sudah berbalik sana aku keringin rambut kamu” Nathan meraih hair dryer dan menyalakannya.
Saat hendak melepas handuk dari kepala Jenny, Nathan melihat bercak merah dileher Jenny dan menyentuhnya yang sontak membuat Jenny meremang “leher kamu kenapa Jen?” tanya Nathan
“ooh itu aku suka alergi dingin akhir-akhir ini, tapi kata dokter tidak apa-apa nanti akan hilang dengan sendirinya, cuma gatal saja tapi tidak boleh digaruk nanti tambah melebar” jawab Jenny
Nathan memutar kursi Jenny menghadapnya, mengecek leher bagian depan dan benar dugaannya saat melihat tidak hanya dileher tapi dibagian d**a atasnya yang jelas terlihat karena Jenny memakai gaun tidur tanpa lengan dengan potongan d**a agak rendah. Nathan yang terus mengusap-usap bercak alergi itu membuat libido Jenny semakin naik, ditambah wajah Nathan sangat dekat dengan wajah Jenny hingga hembusan nafas lelaki itu dapat dirasakannya. Entahlah Jenny sudah tidak tahan dia meraih wajah Nathan dan MENGECUP BIBIR Nathan.
Loh...loh Jenny gawat banget nih kelakuannya.
Gimana ya reaksi Nathan.
Ikutin terus kelanjutannya ya mumpung free
Jangan lupa Follow, loves and comment