Mata Nathan membulat saat merasakan bibir Jenny di bibirnya. Dia bingung harus bereaksi seperti apa karena dia tahu mungkin Jenny tersiksa menahan libidonya seperti yang dia katakan.
“Sorry Nath, a….aku… ga bisa menahan diri. hiiks” Jenny menundukkan wajahnya menahan air mata rasa bersalahnya karna perbuatan m***m yang baru saja dia lakukan
“Iya gak apa-apa. Ini bukan sepenuhnya salah kamu” Nathan membawa kepala Jenny kedalam d**a bidangnya yang tanpa Nathan sadari semakin memacu pikiran liar Jenny. Kulit kecoklatan dengan tubuh berotot yang super sexy. Bagaimana Jenny tidak menelan ludahnya.
“Nath, lepasin kamu bikin libido aku tambah naik” ucap Jenny yang membuat Nathan tersenyum. Oh perkara libido lagi.
“Jen sesuai kata-kataku tadi sore, tubuh aku bebas untuk kamu hari ini” mata Jenny membulat mendengar apa yang Nathan ucapkan.
“Hahhh, kamu jangan bercanda deh” Jenny menatap Nathan
“Aku serius Jen, tapi tidak ada hari-hari berikutnya ya” ucap Nathan penuh penekanan sambil menghapus air mata Jenny. Nathan tidak tega, lagipula apa sih yang bisa Jenny lakukan padanya, paling ekstrim mungkin ciuman “dan setelah ini kita harus bersikap seperti biasa ya, jangan ada kecanggungan” lanjut Nathan
“OK, keringin rambut aku cepet” perintahnya membuat Nathan bernafas lega Jenny tidak menginginkan lebih dari sekedar kecupan tadi.
“Selesai” ucap Nathan setelah sepuluh menit berkutat dengan rambut Jenny
“Thanks” ucap Jenny kemudian berdiri.
Nathan memeluk Jenny dan mencium kening Jenny “Good ni….eemmpph” Nathan tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Jenny sudah mencium bibirnya. Tanpa Nathan sadari sedari tadi Jenny terus menahan hasratnya saat tubuh topless Nathan bersentuhan dengan perut buncitnya.
“Maafin aku untuk hari ini” Jenny melanjutkan ciumannya. Tangan Jenny mulai meraba perut sixpack Nathan kemudian dengan halus menuju d**a bidang Nathan berhenti di n****e Nathan membuat hasrat Nathan mulai timbul. Nathan benar-benar bingung apa yang harus dia lakukan sampai dia merasakan kecupan dilehernya dan “egghhm” Nathan menggeram saat Jenny menghisap lehernya dengan tangan yang memainkan nipplenya. Bertahan Nath, bertahan gumam Nathan sambil mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan hasratnya.
Bibir Jenny menuju n****e Nathan dan menjilatnya “ehmmmh” kali ini Nathan mendesah. Jenny membawa tangan Nathan ke payudaranya. Jenny menekan tangan Nathan sehingga Nathan merasakan kenyal dan besarnya p******a Jenny akibat kehamilannya.
Runtuh...pertahanan Nathan runtuh saat Jenny kembali menciumnya, satu tangan Jenny meraba dadanya sedangkan satu tangan lagi tepat diatas telapak tangannya yang pada akhirnya sudah bergerak memijit d**a Jenny. Bahkan saat ini Nathan sudah membalas ciuman Jenny, ciuman mereka semakin dalam, saling melumat, lidah mereka saling membalas dan bertukar saliva.
Jenny menikmati pijatan Nathan di payudaranya, tangan nakalnya mulai memasuki celana Nathan namun kemudian Jenny melihat pantulan dirinya di cermin meja rias, Jenny bagai seorang jalang yang mengingini pria yang sudah memiliki kekasih. Jenny menarik tangan nakalnya kemudian meraih tangan Nathan menjauhkannya dari payudaranya.
Nathan bingung, namun tangan Jenny menangkup wajah Nathan dan mengecup bibir Nathan “terima kasih buat hari ini dan sekarang aku mau tidur, aku lelah. Good Night” ucap Jenny dengan tersenyum kemudian merebahkan diri diranjang dan menarik selimut sebatas d**a.
Nathan yang mengerti maksud Jenny segera meninggalkan kamar Jenny menuju kamarnya. Ah, kenapa wanita hamil sangat aneh. Sekarang dia tidak dapat meminta pertanggung jawaban Jenny yang sudah menyulut gairahnya. Nathan segera bermain solo di kamar mandi karena adiknya sudah terlanjur bangun. s**t…aku hampir melebihi batas. Astaga, kalau sampai Jenny tidak berhenti aku yakin kami akan lebih dari sekedar make out.
--------
Pagi ini ditempat yang berbeda 2 orang manusia berjenis kelamin berbeda nampak sedang menimbang-nimbang apa yang akan mereka lakukan saat bertatapan pagi ini. Mereka mengingat peristiwa kemarin malam.
“Aku harus bersikap seperti biasa, kamu bisa Jen” Jenny
“Aku harus bersikap seperti biasa agar tidak bertambah canggung, lagian aku sendiri yang mengizinkan Jenny bermain dengan tubuhku” Nathan
Jenny sudah rapi dengan pakaian kerjanya segera keluar dari kamar dan sudah memastikan diri untuk bersikap seperti biasa dihadapan Nathan begitu juga Nathan.
"Morning Nath" ucap Jenny ceria berusaha bersikap seperti biasa "apa menu sarapan hari ini" sambungnya. Matanya melotot melihat sarapan yang tersaji di meja makan hari ini.
"Wow, ada apa ini. Nasi goreng, omelette...apa kau memotong buah-buahan ini?" matanya menatap tak percaya dengan kedua tangan menagkup pipinya
"Tentu saja, sebagian sudah aku masukkan ke kotak makan. Bawalah ke kantor" kata Nathan yang masih memakai pakaian rumah.
"Kamu bangun jam berapa, sepertinya suasana hatimu sedang bagus" Jenny duduk sambil mengusap-usap perutnya.
Tentu saja suasana hati Nathan sangat bagus, setelah kejadian m***m kemarin malam, tengah malam Nathan menuju kamar Jenny sekedar mengecek keadaannya. Entahlah tiba-tiba dia ingin mengusap perut Jenny, saat dia mengusap perut Jenny bayi diperut Jenny menendang membuat hati Nathan berbunga-bunga seperti pria yang sedang jatuh cinta.
“Gak teralu pagi, ini menu simple” ucap Nathan masih dengan senyumannya yang tidak luput dari perhatian Jenny.
"Kamu ngaku deh, habis menang lotre ya. Sumringah banget pagi-pagi begini" ucap Jenny penasaran
"Biasa aja, kamu aja yang lebay"
"Diiih kok jadi aku diserang balik. Ya udah kalau ga mau ngaku" Jenny tak mau mendebat Nathan, namun mata Jenny melihat pakaian rumah yang dipakai Nathan.
“Sekarang aku tau kenapa kamu sumringah. Kamu mau gak masuk kantor ya kan? ga bisa Nath, kamu ga boleh absen lagi. Perut aku udah gede begini ga bisa ngurus kantor sendirian. Nanti tiba-tiba aku brojol dijalan gimana?” tanya Jenny menggebu
"Ih sok tau, aku ke kantor kok hari ini tenang aja" balas Nathan
"Itu ko masih pakai baju begitu?" tanya Jenny
“Deket-deket kompor takut nanti keringetan jadi aku belum pakai pakaian kantor” jawab Nathan santai sambil membawa water jug berisi air putih dan segelas s**u hamil Jenny.
“Hah tumben, biasanya juga topless kalo masak apalagi bangun pagi” bagi Jenny ini diluar kebiasaan Nathan
Nathan mendekati Jenny dan berbisik “takut libido kamu naik lagi, terus aku diterkam” kemudian Nathan berlalu dan duduk di kursi yang berada di depan Jenny.
“Isssh dasar seneng tuh kamu ledekin aku, siniin tangan kamu dua-duanya” Jenny mengangkat kedua tangannya yang sedang menyambut tangan Nathan.
Saat tangan Jenny dan Nathan sudah saling menggenggam “makasih ya Nath dan sekaligus aku minta maaf untuk yang kemarin. Makasih kamu ngertiin aku dan kita dapat bersikap tidak canggung seperti ini. Kamu juga rela merubah kebiasaan kamu demi aku, tapi Nath itu jangan kamu lakukan lagi. Jadilah Nathan yang aku kenal, aku janji kejadian kemarin tidak akan terjadi lagi” ucap Jenny
Nathan tersenyum, Jenny sangat dewasa dalam bersikap.
Namun tiba-tiba
"Awwhhh" Jenny meringis "Nath, bayiku bergerak. Waw, its my baby first kick" senyumnya mengembang "sini Nath coba deh kamu pegang" Nathan hanya tersenyum dan menghampirinya.
Sorry Jen I stole your baby's first kick yesterday...haha - Nathan